Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai eskalasi politik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela belum memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia, khususnya pasar saham.
Menurut Purbaya, reaksi pasar keuangan domestik justru menunjukkan sentimen yang cenderung positif setelah mencuatnya konflik kedua negara tersebut. Hal ini tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tetap menguat.
Advertisement
"Kalau saya lihat sih agak jauh, kalau anda lihat pasar saham kan malah naik kan, jadi mereka melihat justru sedikit positif kan, agak aneh sebenarnya. Tapi itu yang dilihat pasar," kata Purbaya ditemui sebelum mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, dikutip dari Antara, Senin (5/1/2026).
Dari sisi makroekonomi, Purbaya menilai potensi dampak konflik AS–Venezuela terhadap Indonesia relatif terbatas. Ia menjelaskan, peran Venezuela dalam pasar minyak global sudah jauh berkurang dibandingkan sebelumnya.
Kapasitas produksi minyak negara Amerika Selatan tersebut dinilai tidak cukup besar untuk memicu gejolak signifikan pada harga energi global, sehingga dampaknya ke ekonomi Indonesia juga dinilai minim.
Dampak ke Rupiah
Selain pasar saham, Purbaya juga menyinggung dampak eskalasi geopolitik tersebut terhadap nilai tukar rupiah. Menurutnya, hingga kini belum terlihat adanya tekanan negatif terhadap pergerakan mata uang domestik.
"Harusnya positif," imbuh Purbaya singkat.
Pandangan tersebut sejalan dengan kondisi pasar keuangan yang relatif stabil di tengah ketidakpastian global. Investor dinilai lebih fokus pada faktor fundamental dan prospek ekonomi dalam negeri dibandingkan sentimen geopolitik yang bersifat sementara.
Purbaya menegaskan pemerintah akan terus memantau dinamika global, termasuk perkembangan geopolitik internasional, guna memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.
Menurutnya, koordinasi lintas kementerian dan lembaga akan terus dilakukan sebagai langkah antisipasi apabila terjadi perubahan signifikan pada kondisi global yang berpotensi memengaruhi perekonomian Indonesia.
Penopang Kinerja IHSG
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Indonesia Reydi Octa menyebut stabilitas makroekonomi domestik menjadi faktor utama yang menopang kinerja IHSG di tengah konflik antara AS dan Venezuela.
"Penguatan IHSG hari ini lebih didorong sentimen domestik dan regional, bukan konflik AS dan Venezuela," ujar Reydi saat dihubungi Antara di Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan, pelaku pasar menilai konflik kedua negara tersebut belum menimbulkan dampak sistemik terhadap pasar keuangan global. Oleh karena itu, tidak terjadi aksi jual besar-besaran di pasar saham.
Dari dalam negeri, IHSG turut ditopang oleh stabilitas ekonomi makro, optimisme investor di awal tahun, serta rotasi ke saham-saham sektor komoditas, khususnya energi dan emas.
Sektor-sektor tersebut dinilai berpotensi diuntungkan di tengah meningkatnya ketidakpastian global, sehingga menjadi pilihan investor untuk menjaga kinerja portofolio mereka.