Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejumlah peristiwa penting sepanjang 2025 yang memberi tekanan sekaligus penahan terhadap pergerakan harga. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyebut dinamika global dan kebijakan domestik menjadi faktor utama yang membentuk inflasi selama setahun terakhir salah satunya lonjakan harga emas.
"Catatan peristiwa penting yang dapat berpengaruh terhadap indikator-indikator harga sepanjang tahun 2025. Pertama, terkait harga emas di pasar internasional. Trend kenaikan harga emas dunia terus berlanjut sampai dengan akhir tahun 2025," kata Pudji dalam Konferensi Pers BPS, Senin (5/1/2026).
Advertisement
Ia menjelaskan, kenaikan harga emas di pasar internasional menjadi salah satu sorotan utama. Tren penguatan logam mulia dunia berlangsung konsisten hingga akhir 2025, dipicu ketidakpastian global dan meningkatnya permintaan aset lindung nilai.
Kondisi ini memberi dampak berantai terhadap harga komoditas terkait, termasuk perhiasan dan instrumen investasi berbasis emas di dalam negeri.
Selain faktor global, kebijakan fiskal juga berperan dalam dinamika harga. Pemerintah menyesuaikan batasan Harga Jual Eceran (HJE) hasil tembakau per 1 Januari 2025 melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 97 Tahun 2024.
Penyesuaian HJE bervariasi antara 5 hingga 18 persen, tergantung jenis sigaret dan golongan pabrik, yang turut memberi tekanan pada kelompok pengeluaran tertentu.
"Terkait batasan harga jual eceran hasil tembakau, pemerintah kembali melakukan penyesuaian batasan HJE hasil tembakau pada 1 Januari 2025 berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia nomor 97 tahun 2024. Presentasinya bervariasi antara 5-18 persen tergantung jenis sigaret dan golongan pengusaha pabrik hasil tembakau," ujarnya.
Diskon Transportasi
Di sisi lain, pemerintah meluncurkan paket stimulus ekonomi berupa program diskon tiket transportasi pada masa libur Nataru, yakni Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Program ini mencakup tiket kereta api, angkutan laut, penyeberangan, hingga pesawat udara, yang bertujuan menahan lonjakan harga sekaligus mendorong mobilitas dan konsumsi masyarakat di akhir tahun.
"Program diskon tiket transportasi. Pemerintah menerapkan program paket stimulus ekonomi pada akhir tahun berupa program diskon tiket transportasi pada masa libur Nataru, yaitu Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, dan mulai dari tiket kereta api, kemudian angkutan laut, angkutan penyeberangan, dan juga pesawat udara," ujarnya.
Cuaca Ekstrem, dan Tantangan Produksi Pangan
Faktor alam juga memberi pengaruh signifikan sepanjang 2025. Curah hujan tinggi masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia pada Januari hingga Mei, menandai mundurnya awal musim kemarau.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga awal Juni 2025 baru sekitar 19 persen wilayah yang memasuki musim kemarau, jauh dari pola klimatologis normal.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada sektor pertanian, terutama produksi tanaman pangan dan hortikultura. Dinamika curah hujan memengaruhi waktu tanam dan panen serta meningkatkan risiko gagal panen.
"Pola ini berimplikasi langsung terhadap produksi tanaman pangan dan hortikultura, karena waktu tanam, waktu panen serta risiko gangguan cuaca sangat dipengaruhi oleh dinamika curah hujan sepanjang tahun," ujarnya.
Situasi semakin berat dengan bencana hidrometeorologi di Sumatera pada akhir November 2025, yang dipicu bibit Siklon Tropis 95B yang berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar serta pengaruh Siklon Tropis Koto, menyebabkan hujan ekstrem dan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.