Harga Emas Terus Melonjak, BPS Catat Deretan Peristiwa yang Mengguncang Inflasi 2025

BPS merilis catatan peristiwa penting pemicu inflasi sepanjang 2025, mulai dari kenaikan harga emas dunia hingga penyesuaian harga jual eceran tembakau.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 05 Januari 2026, 16:15 WIB
Salah satu karyawan memperlihatkan lembaran emas yang dipajang di Galeri 24, Surabaya, Jawa Timur, pada Kamis 16 Oktober 2025. (Juni KRISWANTO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejumlah peristiwa penting sepanjang 2025 yang memberi tekanan sekaligus penahan terhadap pergerakan harga. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyebut dinamika global dan kebijakan domestik menjadi faktor utama yang membentuk inflasi selama setahun terakhir salah satunya lonjakan harga emas.

"Catatan peristiwa penting yang dapat berpengaruh terhadap indikator-indikator harga sepanjang tahun 2025. Pertama, terkait harga emas di pasar internasional. Trend kenaikan harga emas dunia terus berlanjut sampai dengan akhir tahun 2025," kata Pudji dalam Konferensi Pers BPS, Senin (5/1/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan harga emas di pasar internasional menjadi salah satu sorotan utama. Tren penguatan logam mulia dunia berlangsung konsisten hingga akhir 2025, dipicu ketidakpastian global dan meningkatnya permintaan aset lindung nilai.

Kondisi ini memberi dampak berantai terhadap harga komoditas terkait, termasuk perhiasan dan instrumen investasi berbasis emas di dalam negeri.

Selain faktor global, kebijakan fiskal juga berperan dalam dinamika harga. Pemerintah menyesuaikan batasan Harga Jual Eceran (HJE) hasil tembakau per 1 Januari 2025 melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 97 Tahun 2024.

Penyesuaian HJE bervariasi antara 5 hingga 18 persen, tergantung jenis sigaret dan golongan pabrik, yang turut memberi tekanan pada kelompok pengeluaran tertentu.

"Terkait batasan harga jual eceran hasil tembakau, pemerintah kembali melakukan penyesuaian batasan HJE hasil tembakau pada 1 Januari 2025 berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia nomor 97 tahun 2024. Presentasinya bervariasi antara 5-18 persen tergantung jenis sigaret dan golongan pengusaha pabrik hasil tembakau," ujarnya.

 

Diskon Transportasi

Pesawat maskapai Garuda Indonesia terparkir di areal Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (16/5/2019). Pemerintah akhirnya menurunkan tarif batas atas (TBA) tiket pesawat atau angkutan udara sebesar 12-16 persen yang berlaku mulai Kamis hari ini. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Di sisi lain, pemerintah meluncurkan paket stimulus ekonomi berupa program diskon tiket transportasi pada masa libur Nataru, yakni Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Program ini mencakup tiket kereta api, angkutan laut, penyeberangan, hingga pesawat udara, yang bertujuan menahan lonjakan harga sekaligus mendorong mobilitas dan konsumsi masyarakat di akhir tahun.

"Program diskon tiket transportasi. Pemerintah menerapkan program paket stimulus ekonomi pada akhir tahun berupa program diskon tiket transportasi pada masa libur Nataru, yaitu Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, dan mulai dari tiket kereta api, kemudian angkutan laut, angkutan penyeberangan, dan juga pesawat udara," ujarnya.

 

Cuaca Ekstrem, dan Tantangan Produksi Pangan

Sementara, 23 orang lainnya masih dinyatakan hilang akibat bencana banjir yang terjadi pada Selasa 25 November 2025. Tampak dalam foto, area persawahan yang rusak akibat banjir bandang terlihat di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, pada Kamis 4 Desember 2025. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)

Faktor alam juga memberi pengaruh signifikan sepanjang 2025. Curah hujan tinggi masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia pada Januari hingga Mei, menandai mundurnya awal musim kemarau.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga awal Juni 2025 baru sekitar 19 persen wilayah yang memasuki musim kemarau, jauh dari pola klimatologis normal.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada sektor pertanian, terutama produksi tanaman pangan dan hortikultura. Dinamika curah hujan memengaruhi waktu tanam dan panen serta meningkatkan risiko gagal panen.

"Pola ini berimplikasi langsung terhadap produksi tanaman pangan dan hortikultura, karena waktu tanam, waktu panen serta risiko gangguan cuaca sangat dipengaruhi oleh dinamika curah hujan sepanjang tahun," ujarnya.

Situasi semakin berat dengan bencana hidrometeorologi di Sumatera pada akhir November 2025, yang dipicu bibit Siklon Tropis 95B yang berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar serta pengaruh Siklon Tropis Koto, menyebabkan hujan ekstrem dan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya