Ditangkap AS, Ini Rekam Jejak Presiden Venezuela Nicolas Maduro 

Nicolás Maduro Moros merupakan salah satu figur politik paling berpengaruh dan kontroversial di Venezuela dalam dua dekade terakhir.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 04 Januari 2026, 20:00 WIB
Presiden Venezuela Nicolas Maduro hadir secara mendadak di Sidang Umum PBB di New York, Rabu, 25 September 2018 (AP/Frank Franklin II)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Venezuela Nicolas Maduro dilaporkan ditangkap pada Sabtu (3/1/2026) dini hari oleh anggota Delta Force, unit misi khusus teratas militer Amerika Serikat (AS). Informasi tersebut disampaikan sejumlah pejabat AS kepada CBS News. Bagaimana rekam jejak Nicolas Maduro hingga menjadi Presiden Venezuela?

Nicolás Maduro Moros merupakan salah satu figur politik paling berpengaruh dan kontroversial di Venezuela dalam dua dekade terakhir. Lahir di Caracas pada 23 November 1962, Maduro menapaki karier politik dari akar gerakan buruh hingga akhirnya menduduki jabatan tertinggi sebagai Presiden Venezuela sejak 2013.

Menurut Encyclopaedia Britannica, Minggu (4/1/2026), Maduro berasal dari latar belakang kelas pekerja. Ia sempat bekerja sebagai sopir bus di sistem metro Caracas, sekaligus aktif dalam serikat buruh. Keterlibatannya di organisasi pekerja menjadi pintu masuk ke dunia politik kiri yang berkembang pesat di Venezuela pada akhir 1990-an.

Karier politik Maduro mulai menanjak setelah ia menjadi pendukung setia Hugo Chávez, tokoh sentral Revolusi Bolivarian. Pada 1999, Maduro terpilih menjadi anggota Majelis Konstituante Nasional, lembaga yang bertugas menyusun ulang konstitusi Venezuela di awal pemerintahan Chávez. Peran ini menjadi fondasi penting bagi kiprahnya di tingkat nasional.

Setelah itu, Maduro menjabat sebagai anggota legislatif nasional selama beberapa tahun dan sempat menduduki posisi Ketua Majelis Nasional. Pada 2006, Chávez menunjuknya sebagai Menteri Luar Negeri Venezuela, jabatan yang diemban hingga 2012. Dalam peran tersebut, Maduro menjadi wajah diplomasi Venezuela dan memperkuat hubungan dengan negara-negara sekutu pemerintahan Chávez.

 

Penerus Politik Chávez

Presiden Venezuela Nicolas Maduro (tengah) melambaikan tangan kepada para pendukungnya di Bolivar square, Caracas, Venezuela. [Federico Parra/AFP]

Pada Oktober 2012, Maduro diangkat sebagai Wakil Presiden Venezuela, menandai posisinya sebagai penerus politik Chávez. Setelah Chávez wafat pada Maret 2013, Maduro secara konstitusional menjadi presiden sementara dan kemudian memenangkan pemilihan presiden khusus pada April 2013 untuk melanjutkan sisa masa jabatan pendahulunya.

Selama masa kepresidenannya, Maduro menghadapi tekanan berat, mulai dari krisis ekonomi, protes massal, hingga konflik politik dengan parlemen yang dikuasai oposisi. Salah satu langkah paling kontroversialnya terjadi pada 2017, ketika ia mendorong pembentukan Majelis Konstituante Nasional baru di tengah gelombang demonstrasi. 

Menurut Britannica, langkah ini menuai penolakan luas dari oposisi dan komunitas internasional karena dianggap melemahkan lembaga legislatif yang terpilih secara demokratis.

Pemilihan anggota majelis konstituante tersebut berlangsung di tengah boikot oposisi dan diwarnai kekerasan, serta menjadi titik balik konsolidasi kekuasaan Maduro. Majelis itu kemudian mengambil alih fungsi legislatif utama negara.

 

Kembali Terpilih Sebagai Presiden

Foto yang diunggah oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke platform media sosial Truth Social ini memperlihatkan Presiden Nicolas Maduro yang disebutnya tengah berada di atas kapal perang USS Iwo Jima. (Dok. Presiden Donald Trump/Truth Social)

Maduro kembali terpilih sebagai presiden dalam pemilu 2018, meskipun proses dan hasilnya diperdebatkan oleh banyak negara dan lembaga internasional. Hingga kini, ia tetap berkuasa di tengah situasi politik yang terpolarisasi dan tantangan ekonomi yang berkepanjangan.

Dari aktivis serikat buruh hingga presiden, perjalanan karier Nicolás Maduro mencerminkan dinamika politik Venezuela modern—penuh loyalitas ideologis, konflik kekuasaan, serta perdebatan tajam mengenai arah demokrasi di negara tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya