Liputan6.com, Jakarta - Memasuki tahun 2026, refleksi diri menjadi agenda yang banyak dilakukan masyarakat, tidak hanya terkait karier dan kesehatan, tetapi juga menyangkut kondisi serta kebiasaan keuangan.
Tahun baru kerap dipandang sebagai momentum strategis untuk mengevaluasi cara mengelola uang, menata ulang tujuan finansial, sekaligus memperbaiki pola pikir terhadap kekayaan, keamanan ekonomi, dan kesejahteraan jangka panjang.
Advertisement
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi pasar, serta meningkatnya kebutuhan hidup, kesadaran akan pentingnya pengelolaan keuangan yang sehat menjadi semakin relevan bagi berbagai kelompok usia dan latar belakang.
Dikutip dari CNBC. Olga Pankova menekankan bahwa memahami kepribadian uang seseorang dapat menjadi langkah awal yang efektif untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan keuangan.
Menurutnya, cara seseorang memperlakukan uang tidak hanya dipengaruhi oleh pendapatan atau tingkat literasi finansial, tetapi juga oleh keyakinan, emosi, dan pengalaman hidup yang membentuk sikap terhadap uang sejak lama.
Selama lebih dari satu dekade mendampingi klien yang menghadapi berbagai transisi besar dalam hidup, mulai dari perceraian, perubahan karier, hingga masa pensiun, Pankova mengidentifikasi adanya enam tipe kepribadian keuangan yang umum ditemui.
Keenam tipe tersebut mencerminkan bagaimana sikap dan pandangan seseorang terhadap uang terwujud dalam keputusan sehari-hari, baik saat menabung, berbelanja, maupun berinvestasi.
Pankova menegaskan bahwa tidak ada tipe kepribadian keuangan yang sepenuhnya benar atau salah. Namun, tanpa kesadaran diri yang memadai, kebiasaan finansial tertentu justru dapat menjadi penghambat kebahagiaan, kestabilan ekonomi, dan pencapaian tujuan jangka panjang.
Dengan memahami kecenderungan kepribadian uang masing-masing, individu diharapkan mampu menyusun strategi keuangan yang lebih realistis, berkelanjutan, dan selaras dengan tujuan hidup, sebuah pendekatan yang dinilai semakin penting menjelang 2026.
Berikut 6 kepribadian keuangan seseorang:
Sang Murah Hati tapi Rentan Lupa Diri
Tipe pertama adalah Si Murah Hati, sosok yang dikenal dermawan dan senang membantu orang lain. Mereka kerap mendukung teman, keluarga, maupun tujuan sosial, namun sering mengorbankan kebutuhan finansial pribadi. Risiko terbesar dari tipe ini adalah pengeluaran berlebihan dan rasa lelah emosional.
Untuk 2026, Si Murah Hati disarankan mulai menetapkan batasan yang sehat. Perencanaan keuangan dan keberanian untuk mengatakan tidak dapat membantu menjaga keseimbangan antara membantu orang lain dan melindungi stabilitas diri sendiri.
Sang Perintis yang Perlu Belajar Melepas Kendali
Sang Perintis dikenal percaya diri, berani mengambil risiko, dan fokus mengejar kesuksesan finansial. Namun, kemandirian yang berlebihan dapat menyebabkan kelelahan dan kesulitan mendelegasikan.
Agar lebih optimal, Perintis perlu belajar mengelola kekayaan dengan melibatkan pihak lain, seperti penasihat keuangan. Delegasi dinilai dapat mengurangi stres sekaligus memaksimalkan hasil finansial.
Sang Skeptis yang Terjebak Ketidakpercayaan terhadap Uang
Bagi Sang Skeptis, uang kerap dipandang negatif dan identik dengan keserakahan. Pola pikir ini sering membuat mereka merasa tidak layak menjadi kaya dan menghambat pertumbuhan finansial.
Mengubah sudut pandang menjadi kunci utama. Bergaul dengan individu sukses yang tetap memiliki nilai moral dapat membantu Skeptis melihat bahwa kekayaan juga bisa digunakan untuk kebaikan.
Sang The High Roller
Para High Roller cenderung menikmati hidup untuk saat ini, dengan barang mewah sebagai sumber kepuasan utama. Perencanaan keuangan jangka panjang sering terabaikan, sementara dorongan emosi seperti stres atau kebosanan memicu belanja impulsif. Pola ini berisiko menimbulkan utang dan, dalam jangka panjang, rasa hampa meski kesenangan terus dikejar.
Menghadapi 2026, fokus utama yang disarankan adalah mengelola emosi dan meningkatkan kesadaran finansial. Memahami pemicu belanja, menggunakan aplikasi pencatat pengeluaran, serta membatasi penggunaan kartu kredit, misalnya dengan sistem pembayaran tunai yang dapat membantu mengendalikan pengeluaran dan membangun kebiasaan keuangan yang lebih sehat.
Si Pelit: Disiplin Menabung tapi Takut Menikmati Hidup
Si Pelit atau penghemat ekstrem dikenal disiplin dan anti-utang. Namun, ketakutan kehilangan uang sering membuat mereka melewatkan peluang investasi dan pengalaman berharga.
Belajar dasar-dasar investasi dan menetapkan tujuan pengeluaran dapat membantu menciptakan keseimbangan antara keamanan finansial dan kualitas hidup.
Si Penghindar: Takut Menghadapi Realitas Keuangan
Tipe terakhir adalah Penghindar, mereka yang cenderung menjauh dari urusan uang karena merasa cemas atau tidak tahu harus mulai dari mana. Ironisnya, penghindaran justru memperburuk stres.
Langkah kecil seperti meninjau rekening selama 10 menit per minggu dinilai cukup untuk memulai perubahan. Akses ke sumber literasi keuangan juga dapat membantu membangun kepercayaan diri.
Kesadaran Diri Jadi Kunci Perubahan Finansial
Pankova menekankan bahwa enam kepribadian uang ini bukanlah label kaku. Seseorang bisa memiliki lebih dari satu kecenderungan, dan perilaku finansial dapat berubah seiring waktu. Dengan mengenali pola masing-masing, individu dapat mengambil keputusan yang lebih sadar dan membangun kebiasaan keuangan yang lebih sehat menuju 2026.