Cerita Pilu Korban Banjir di Purabaya Sukabumi: Rumah Lenyap, Sisa Pakaian yang Melekat di Badan

Kiki menceritakan saat hujan deras mulai mengguyur dengan intensitas tinggi, ia tengah berkunjung ke rumah pamannya yang tak jauh dari sana. Namun, air naik dengan cepat membanjiri pemukiman.

oleh Fira SyahrinDiterbitkan 30 Desember 2025, 20:20 WIB
Banjir rusak rumah di Kampung Cipeusing, Desa Cimerang, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi. (Liputan6.com/Fira)

Liputan6.com, Jakarta - Bagi Kiki Nurpalah (27), malam Minggu itu (28/12/2025) menjadi malam yang paling menyayat hati. Dalam sekejap, rumah yang telah menjadi tempat berteduhnya selama 13 tahun di Kampung Cipeusing, Desa Cimerang, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, hilang tak berbekas disapu banjir bandang dari Sungai Cimerang. 

Kiki menceritakan saat hujan deras mulai mengguyur dengan intensitas tinggi, ia tengah berkunjung ke rumah pamannya yang tak jauh dari sana. Namun, air naik dengan cepat membanjiri pemukiman.

​"Pas saya mau ambil barang-barang, amanin barang-barang, sudah tidak sempat. Soalnya air di jalan sini sudah sampai pinggang," kenang Kiki dengan nada getir saat ditemui pada Selasa (30/12/2025).

​Kiki hanya bisa terpaku dari kejauhan. Dengan perasaan campur aduk, ia menyaksikan arus sungai membawa material kayu dan menghantam apa saja yang menghalangi jalannya. Ia tak berani mendekat karena nyawanya dan sang adik menjadi taruhan.

​"Saya diam di depan sini, mengawasi air dan kayu-kayu yang menghambat jalan air. Saya takut rumah ini juga ikut hanyut," tuturnya sambil menunjuk rumah paman yang ia tempati untuk mengungsi.

​Nahas, rumah panggung miliknya yang berada lebih dekat dengan aliran sungai tidak mampu bertahan. Bangunan itu jebol dan terseret arus banjir bandang. 

Tidak ada barang yang bisa diselamatkan. Ternak ayam, pakaian, hingga dokumen berharga seperti KTP, semuanya hilang dibawa air. Hanya sisa pakaian yang melekat di badan Kiki. 

 

​Kehilangan Warisan Terakhir

Banjir rusak rumah di Kampung Cipeusing, Desa Cimerang, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi. (Liputan6.com/Fira)

Musibah ini terasa lebih berat bagi Kiki karena rumah tersebut adalah peninggalan orang tuanya yang telah tiada. Rumah itu adalah satu-satunya jejak fisik dan kenangan yang ia miliki untuk terus merasa dekat dengan ayah dan ibunya.

​"Di rumah kebetulan lagi kosong, adik juga ikut sama saya. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Tapi kalau untuk barang-barang, ayam, semuanya hanyut. Tidak ada yang tersisa," jelasnya.

​Meski trauma karena ini adalah kali kedua banjir besar melanda wilayah tersebut, Kiki tidak memiliki tempat lain untuk pulang. Harapannya kini sangat sederhana namun terasa berat untuk diwujudkan tanpa bantuan.

​"Harapan terbesarnya sih karena ini rumah peninggalan orang tua. Orang tua saya sudah tidak ada. Bisa punya rumah lagi, itu harapan terbesar saya," ungkapnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya