Operasi Pembersihan Material Kayu PascaBencana Aceh dan Sumatera: Akses dan Fasilitas Publik Mulai Pulih

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus melakukan operasi pembersihan pasca bencana di Pulau Sumatera dan Aceh untuk memperbaiki fasilitas publik serta mempercepat pemulihan lingkungan bagi masyarakat terdampak.

oleh Meila Alfauzi SukmawanDiterbitkan 30 Desember 2025, 17:35 WIB
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mempercepat upaya pembersihan tumpukan kayu limbah bencana banjir dan material lumpur di sejumlah wilayah terdampak banjir di Sumatra bersama dengan kementerian/lembaga lain serta masyarakat setempat (kehutanan.go.id)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus melakukan operasi pembersihan tumpukan kayu dan material limbah pascabencana di sejumlah wilayah terdampak banjir dan longsor di Pulau Sumatera, termasuk Aceh Tamiang dan Aceh Utara.

Operasi terpadu dilakukan bersama TNI, Polri, pemerintah daerah, serta mitra lainnya yang bertujuan memperbaiki fasilitas publik serta mempercepat pemulihan lingkungan bagi masyarakat yang terdampak.

Dilansir dari siaran pers pada Selasa (30/12/2025) pada laman www.kehutanan.go.id, tercatat di Pesantren Darul Mukhlisin, Aceh Tamiang, pembersihan dilakukan oleh tim gabungan dengan dukungan 34 unit alat berat yang masih beroperasi aktif.

Serta, progres pembersihan telah mencapai sekitar 94 persen hingga Senin 29 Desember 2025, mencakup area utama pesantren serta fasilitas pendukung seperti ruang belajar, ruang guru, tempat wudu masjid, dan rumah warga sekitar di lokasi.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Subhan menjelaskan, pembersihan tidak hanya pemindahan kayu, tetapi juga pada pemulihan fungsi fasilitas sosial termasuk ruang belajar dan ibadah, sehingga aktivitas pendidikan dan keagamaan dapat kembali berjalan.

"Pembersihan kami arahkan agar aktivitas pendidikan dan ibadah dapat segera kembali berjalan, pekerjaan lembur malam terus dilakukan untuk mempercepat penyelesaian," ujar Subhan.

Proses Pembersihan Dilakukan di Sejumlah Titik Bencana

Tim gabungan berupaya mempercepat pembersihan material sisa bencana banjir bandang untuk memulihkan fungsi lingkungan dan akses publik. Tampak dalam foto, dua warga desa membersihkan rumah mereka yang rusak akibat banjir bandang di Desa Aek Garoga, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, pada Sabtu 27 Desember 2025. (YT Hariono /AFP)

Di Sumatera Utara, kegiatan pembersihan dijalankan di Desa Aek Ngadol, Garoga, dan Huta Godang dengan bantuan alat berat dan dump truck dari Kemenhut, TNI, BNPB dan mitra perusahaan memfokuskan pada pembersihan rumah warga, fasilitas umum, pemilahan kayu, serta penanganan lumpur di sekitar Sungai Garoga.

Sementara itu, di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, pembersihan akses jalan dan fasilitas umum terus berjalan dengan dukungan enam unit eksavator.

Beberapa sekolah seperti SMPN 3 Langkahan, ruang kelas di SD Negeri 7 Langkahan, dan akses jalan Desa Geudumbak terus terbuka dan telah selesai dibersihkan.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor dan kerja sama yang erat dengan pihak daerah menjadi kunci agar pembersihan tetap berjalan.

"Kami mendukung penuh upaya pemulihan yang dipimpin pemerintah daerah dan TNI, dengan memastikan pembersihan berjalan tertib, aman, dan bermanfaat langsung bagi masyarakat," jelas Novita.

Infografis Biaya Perbaikan Dampak Banjir Sumatera. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya