11.000 Hektare Sawah Aceh-Sumbar Rusak, Mentan Amran Pastikan Musim Tanam Tak Terganggu

Mentan Andi Amran Sulaiman memastikan musim tanam nasional tetap berjalan sesuai jadwal meski belasan ribu hektare sawah di Sumatra terdampak banjir.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 30 Desember 2025, 13:15 WIB
Data sementara posko tanggap darurat bencana Aceh per 7 Desember 2025, kerusakan lahan pertanian di provinsi itu akibat bencana hidrometeorologi sejak 25 November lalu telah mencapai lebih dari 65 ribu hektare. Tampak foto udara menunjukkan warga berkendara melewati sawah yang terendam lumpur setelah banjir bandang di Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, pada Senin 8 Desember 2025. (Chaideer MAHYUDDIN/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan musim tanam tidak terganggu meski belasan ribu hektare sawah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dia turut memprioritaskan pemulihan sawah terdampak bencana tadi.

Dia mencatat, ada 80 ribu hektare sawah yang terdampak, 11 ribu hektare diantaranya masuk kategori berat. Selain itu, ada pula sejumlah sawah yang ludes atau gagal panen terkena banjir.

"Saya kira tidak (mundur musim tanam). Karena sekarang kan tidak semuanya rusak. Ini 11 ribu yang harus dibangun kembali. Kan ada 80 ribu semua. Tapi ada yang puso, kena banjir," tutur Amran, di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, ditulis Selasa (30/12/2025).

Meski ada kerusakan, dia mencatat jumlahnya masih jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan seluruh luasan sawah secara nasional. "Tapi sawahnya masih ada. Kalau 11 ribu dibagi 7 juta hektare itu sangat kecil," katanya.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) ini pun memastikan pemulihan lahan sawah menjadi prioritas di daerah terdampak bencana Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

"Tim standby di sana. Belum tinggalkan sampai hari ini. Kami minta yang pertama adalah membantu saudara kita," tegasnya.

 

Stok Beras 3,39 Juta Ton

Kabupaten Pidie Jaya, termasuk kecamatan Meureudu, dikenal karena produktivitas padinya yang tinggi dan bahkan telah menerima penghargaan dari Kementerian Pertanian. Pada tahun-tahun sebelumnya, hasil panen rata-rata dilaporkan mencapai sekitar 8,5 ton per hektare. Tampak foto udara menunjukkan para komuter yang berkendara melewati sawah yang terendam lumpur setelah banjir bandang di Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, pada Senin 8 Desember 2025. (Chaideer MAHYUDDIN/AFP)

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkam stok cadangan beras pemerintah (CBP) mencapao 3,39 juta ton di akhir 2025 ini. Jumlah ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah tanpa adanya impor.

Amran mengatakan, jumlah tersebut menandakan stok beras dalam kondisi yang aman. Mengingat lagi, seluruh stok beras diambil dari produksi petani lokal.

"Ini stok kita per detik ini 3,39 juta ton. Ini tertinggi selama merdeka. Inilah stok tertinggi di akhir tahun selama merdeka. (Jadi) bukan aman, ada sangatnya. (Stok kita) sangat aman," kata Amran, di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, dikutip Selasa (30/12/2025).

 

Target Serap 2,5 Juta Ton

Pekerja memindahkan beras ketika bongkar muat beras bulog di gudang PT Food Station Tjipinang Jaya, Jakarta Timur, Jumat (3/2/2023). Untuk menstabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Perum BULOG akan menyaluran beras SPHP di Pasar Induk Beras Cipinang dari 13 ribu menjadi 30 ribu ton,dengan harga paling tinggi sebesar Rp. 8.900. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Informasi, pemerintah menargetkan stok CBP sebesar 4 juta ton di 2026 mendatang, angka itu naik dari tahun ini sebanyak 3 juta ton. Amran percaya diri jumlah itu bisa dicapai.

Targetnya, pada penen raya awal, pemerintah bisa menampung 2,5 juta ton setara beras dari petani. Panen raya pun diprediksi lebih cepat ke Februari 2026.

"Kita target 4 juta ton (tahun 2026), seluruh Indonesia. (Nanti) di panen raya, minimal (serap) 2 juta ton. Kalau bisa, 2,5 juta ton," ucap Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) ini.

 

Serapan Bulog Tanpa Impor

Melalui Perum Bulog, Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah menambah pasokan ke tiga provinsi yang mengalami bencana banjir dan longsor Sumatra. Tampak dalam foto, seorang pekerja berjalan di atas tumpukan karung beras di gudang Badan Urusan Logistik (Bulog) di Lambaro, Provinsi Aceh pada 29 Desember 2025. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)

Adapun realisasi pengadaan setara beras bersumber dari produksi dalam negeri yang telah dilaksanakan Perum Bulog di sepanjang tahun 2025 ini telah mencapai 3,435 juta ton. Capaian ini telah melampaui 114,5 persen dari target serap beras 3 juta ton. Apalagi tidak ada impor beras di tahun ini yang dilaksanakan Bulog untuk penambahan Cadangan Beras Pemerintah (CBP).

Dalam catatan Bapanas, stok beras Bulog sampai akhir tahun belum pernah mencapai lebih dari 3 juta ton dengan tidak ada pasokan dari importasi. Sementara kondisi stok beras yang ada di Bulog sampai minggu terakhir Desember masih ada 3,39 juta ton, sehingga baru di tahun ini, stok CBP menyentuh lebih dari 3 juta ton dengan mengoptimalkan produksi dalam negeri.

Tercatat di 2008 yang tak ada impor, stok akhir CBP berada di 1,1 juta ton. Lalu 2009 yang juga nihil impor, di akhir tahun menyisakan 1,6 juta ton. Sementara di 2019 sampai 2021 yang juga tidak ada impor beras, sampai akhir tahun stok CBP masing-masing di tiga tahun tersebut berada di angka 2,2 juta ton, 1,9 juta ton, dan 0,8 juta ton.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya