Liputan6.com, Jakarta - Kisah inspiratif datang dari pelosok Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) menggambarkan sisi lain dari Nadiem Makarim selama menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek).
Jauh dari kesan formal protokoler, Nadiem sempat memberikan kejutan besar bagi seorang guru honorer bernama Sukardi Malik dengan mengunjungi kediamannya secara mendadak bahkan memutuskan untuk menginap semalam di sana.
Advertisement
Sukardi mengenang momen tersebut dengan penuh haru. Awalnya, ia dan keluarga sempat merasa tegang saat melihat rombongan berseragam putih datang, bahkan mengira tamu tersebut adalah petugas bank.
Namun, ketegangan itu berubah menjadi rasa tidak percaya yang membahagiakan saat menyadari bahwa tamu yang duduk di "beruga" (balai-balai khas Lombok) rumahnya adalah sang Menteri Pendidikan.
"Saya sangat gugup. Beliau datang tanpa konfirmasi formal, duduk bersama saya, dan bahkan dengan lahap menikmati hidangan ubi kayu yang ada di rumah kami," ujar Sukardi, yang disampaikan melalui keterangan tertulis, Senin (29/12/2025).
Dalam suasana yang akrab tersebut, Nadiem justru lebih banyak mendengar daripada berbicara, menggali realita kehidupan seorang pendidik di daerah terpencil.
Dalam diskusi santai tersebut, Sukardi menceritakan pergulatan batinnya menjadi guru honorer. Meski sempat mencoba peruntungan sebagai pekerja kasar di Kalimantan dengan penghasilan lebih besar, panggilan hati nurani untuk mendidik anak-anak di desanya membuat Sukardi kembali ke sekolah.
Kisah dedikasi ini disimak mendalam oleh Nadiem. Menurut Sukardi, mantan menteri tersebut tampak sangat fokus mencari solusi nyata bagi kesejahteraan guru honorer yang selama ini sering terabaikan.
Titik Balik Sejarah
Menurut Sukardi, bagi para guru honorer di Lombok Tengah, kebijakan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) yang diinisiasi di era Nadiem dipandang sebagai titik balik sejarah. Dia menegaskan, program ini bukan sekadar soal angka, melainkan soal pemulihan harkat dan martabat guru.
"Melalui pengangkatan P3K ini, kesejahteraan kami mulai membaik. Kami sekarang bisa fokus mengajar tanpa harus terus-menerus cemas soal dapur. Mas Nadiem adalah pejabat yang mau mendengar, dan itu sangat melekat di hati kami," kata Sukardi.
Meski kini Nadiem tidak lagi menjabat, dukungan dari para guru di daerah tetap mengalir deras. Sukardi menyampaikan bahwa rekan-rekan sejawatnya sering mendoakan kesehatan dan ketabahan Nadiem dalam menghadapi berbagai tantangan politik yang ada.
Para guru honorer di Lombok Tengah menilai Nadiem sebagai sosok yang tulus mengabdi untuk negara. Mereka menyimpan harapan besar agar semangat perubahan yang dibawa Nadiem terus berlanjut bagi dunia pendidikan Indonesia.
"Kami berharap beliau tetap kuat. Di mata kami, beliau adalah orang baik yang benar-benar peduli. Doa kami selalu menyertai beliau," pungkas Sukardi.