Liputan6.com, Jakarta - Bencana banjir bandang yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah di Sumatera memberikan dampak serius terhadap aktivitas ekonomi regional. Dampak dari bencana ini mampu menekan kinerja ekonomi nasional, terutama pada kuartal IV 2025.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, bencana tersebut memperburuk sentimen pasar yang sebelumnya sudah tertekan oleh faktor eksternal.
Advertisement
Kerusakan infrastruktur dan terhambatnya aktivitas ekonomi membuat pelaku pasar semakin berhati-hati dalam menempatkan dana mereka di Indonesia.
“Kita melihat bahwa permasalahan di Sumatera terutama adalah Aceh dan sekitarnya yang terkena banjir bandang ini pun juga sangat berpengaruh sekali terhadap pertumbuhan ekonomi,” kata Ibrahim kepada Media, Selasa (30/12/2025).
Di sisi lain, Pemerintah sebelumnya menargetkan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,6 persen. Namun, dampak bencana alam yang meluas membuat target tersebut dinilai sulit tercapai, dengan realisasi pertumbuhan diperkirakan berada di bawah 5 persen.
“Pertumbuhan ekonomi di kuartal keempat yang kemungkinan besar di luar ekspetasi pemerintah. Nah pemerintah sendiri menginginkan adalah di 5,6 persen, tetapi kemungkinan besar itu hanya di bawah 5 persen,” ujarnya.
Timbulkan kekhawatiran pasar keuangan
Pelemahan pertumbuhan ini menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi nasional ke depan. Ketidakpastian tersebut membuat investor cenderung mengambil sikap wait and see, bahkan mulai mengurangi eksposur mereka terhadap aset-aset domestik.
“Ini yang membuat pasar sedikit apatis pertumbuhan ekonomi di tahun 2025 itu adalah di 5 persen,” ujarnya.
Prospek pertumbuhan yang lebih rendah dari ekspektasi pemerintah menjadi salah satu faktor yang memperlemah kepercayaan investor.
Arus Modal Keluar Tekan Rupiah
Ibrahim menilai, kombinasi antara bencana alam dan melemahnya prospek pertumbuhan ekonomi memicu arus modal keluar yang cukup signifikan. Investor asing dinilai mulai menarik dana dari pasar keuangan Indonesia sebagai langkah antisipasi terhadap risiko yang meningkat.
Arus modal keluar ini memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah. Melemahnya kepercayaan pasar membuat rupiah bergerak di bawah tekanan, seiring meningkatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman.
“Ini yang membuat arus model keluar cukup banyak dan ini yang membuat rupiah mengalami pelemahan,” pungkasnya.