Liputan6.com, Jakarta - Bertamasya menjadi pilihan banyak orang ketika masuk dalam momen liburan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Namun, perlu jadi perhatian pula agar kantong tak boncos setelah liburan.
Perencana Keuangan, Andy Nugroho memberikan tips yang bisa digunakan agar liburan tetap terlaksana tetapi kebutuhan selanjutnya tidak terlupakan. Manajemen keuangan menjadi salah satu kunci pentingnya.
Advertisement
"Buat perencanaan keuangan dari jauh hari. Kemana kita akan liburan, berapa perkiraan total biayanya, maka dari angka tersebut kita bisa estimasi berapa yang harus kita tabung tiap dapat penghasilan," kata Andy saat dihubungi Liputan6.com, dikutip Sabtu (27/12/2025).
Dia turut mengingatkan soal porsi yang bisa dikeluarkan mengacu pada pendapatan. Sebaiknya, destinasi liburan dipilih sesuai dengan budget yang dimiliki. Dengan kata lain, tidak memaksakan untuk menghabiskan waktu liburan ke destinasi yang terlalu mahal.
"Sebaiknya destinasi liburan yang mengikuti budget yang kita miliki, bukannya budget yang memaksakan diri mengejar destinasi liburan yang diinginkan. Hal ini berlaku terutama bila budget kita terbatas," tuturnya.
Selain alokasi dana liburan, Andy mengingatkan perlunya manajemen kebutuhan primer setelahnya, utamanya pos-pos biaya wajib.
"Contohnya adalah untuk bayar uang sekolah anak, beli token listrik, bayar pam, tagihan wifi, cicilan kendaraan bermotor, dan lain-lain. Dan dana ini sebaiknya ditaruh di rekening yang terpisah dari rekening yang terhubung dengan mobile banking ataupun kartu debit kita. Tujuannya agar dana kebutuhan sehari-hari tersebut tidak terpakai selama liburan," jelas Andy.
Jangan Paksakan Liburan
Menghabiskan momen libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) nampaknya telah menjadi agenda rutin bagi sebagian besar masyarakat. Namun, ada hal yang perlu diingat mengenai perencanaan keuangan, baik saat liburan maupun setelah kembali memulai hari baru.
Perencana Keuangan, Andy Nugroho mewanti-wanti masyarakat untuk bijak dalam mendanai kegiatan berliburnya di momen pergantian tahun. Dia menyarankan, liburan dilakukan sesuai dengan alokasi yang sudah ditetapkan sejak lama.
"Sebaiknya kita merelakan untuk merayakan libur Nataru yang sesuai dengan kemampuan finansial dan budget yang kita miliki, bukannya kemudian memaksakan diri untuk tetap liburan seperti impian kita," kata Andy saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (25/12/2025).
Waspada Utang Buat Liburan
Kekhawatiran muncul ketika beban finansial bertambah. Misalnya, memaksakan diri untuk berlibur dan mengambil dana pinjaman atau utang dari pay later atau kartu kredit.
Andy mewanti-wanti, langkah itu bisa saja menjadi beban berkepanjangan. Pasalnya, ada utang yang wajib dibayar pada tenggat waktu tertentu. Tentunya, hal itu akan berpengaruh pada pengeluaran di tahun depan.
"Karena pada hakikatnya menggunakan paylater ataupun kartu kredit tersebut bukannya kita memiliki penghasilan tambahan, namun kita berutang," tegas dia.
Ada Kebutuhan Tahun Depan
Andy menerangkan, perencanaan keuangan dalam menyambut liburan sejatinya untuk mempersiapkan kebutuhan di tahun baru. Pasalnya, sejumlah kebutuhan tahun depan memiliki pos wajib tersendiri yang harus dipenuhi.
"Karena liburan itu sendiri bukanlah sesuatu hal yang wajib namun ingin kita lakukan, dan kehidupan dan pengeluaran yang terjadi pasca liburan adalah hal yang harus kita jalani suka ataupun tidak suka," jelasnya.
Menurutnya, pengelolaan keuangan dan manajemen liburan yang tepat tidak akan memberatkan aspek finansial di kemudian hari. "Pasca liburan kita masih bisa menjalani hidup sehari-hari dengan nyaman tanpa harus berhutang ataupun berhemat secara ekstrim karena uang kita sudah habis untuk liburan," ujar dia.