Liputan6.com, Jakarta - Harga emas di pasar global terpantau terus menembus level psikologis baru, sehingga ikut mengerek harga ritel di Indonesia. Reuters melaporkan spot gold atau harga emas di pasar spot menembus di atas USD 4.500 per troy ounce untuk pertama kali, didorong permintaan safe haven dan ekspektasi pemangkasan suku bunga.
Pada data live Kitco, emas berada sekitar USD 4.508,60 per ounce. Dengan kisaran harian kurang lebih USD 4.484 sampai USD 4.525, dan ekuivalen sekitar USD 144,95 per gram.
Advertisement
Ekonom dan Pengamat Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat menilai, lonjakan seperti ini biasanya lahir dari gabungan ketidakpastian geopolitik, perubahan arah suku bunga global, dan perilaku institusi besar yang menumpuk aset lindung nilai.
"Publik kemudian ikut merespons, sering kali bukan karena kebutuhan, melainkan karena rasa takut ketinggalan. Di titik ini, emas berubah dari alat pelindung nilai menjadi bahan obrolan, dan di situlah risiko keputusan impulsif meningkat," ujarnya, Rabu (24/12/2025).
Achmad mengatakan, publik di Indonesia tidak membeli spot gold. Publik membeli produk ritel seperti emas batangan Antam, UBS, Galeri24, atau perhiasan. "Di sinilah pertanyaan beli atau jual menjadi jauh lebih praktis. Bukan hanya soal arah harga, tapi juga soal selisih beli dan jual kembali," imbuh dia.
Adapun per 24 Desember 2025, harga emas batangan Antam 1 gram di Logam Mulia tercatat Rp 2.590.000, dengan harga setelah PPh 0,25 persen menjadi Rp 2.596.475.
Bukan Untuk Cari Untung Cepat
Kendati begitu, Achmad menyebut pola trading emas bukan untuk mencari untung cepat. Ia lantas menyoroti pelaku pasar emas yang kerap melihat buyback sebagai acuan.
Ia lantas memberi contoh pada halaman simulasi buyback Logam Mulia, tertulis harga buyback Rp 2.420.000 per gram, dengan waktu perubahan terakhir 23 Desember 2025 pagi. Artinya, ada selisih sekitar Rp 170.000 per gram, kira kira 6,6 persen dari harga jual ritel.
"Selisih ini seperti tiket masuk dan tiket keluar yang harus Anda bayar untuk ikut naik lift. Jadi, kalau Anda membeli hari ini lalu berharap untung cepat, Anda harus menutup gap itu dulu sebelum benar benar profit," ungkapnya.
"Inilah alasan mengapa keputusan emas tidak cocok memakai logika trading harian bagi kebanyakan rumah tangga," kata Achmad.
Kuncinya Tujuan, Bukan Rekor
Oleh karenanya, ia menekankan tujuan dalam berburu emas ketimbang terus mengejar rekor kenaikan harga yang sewaktu-waktu bisa berubah.
"Kalau tujuan Anda adalah perlindungan nilai jangka panjang, misalnya menjaga daya beli tabungan dari ketidakpastian ekonomi, maka rekor bukan alasan otomatis untuk berhenti membeli, juga bukan alasan otomatis untuk mengejar harga," tutur dia.
"Kalau tujuan Anda adalah spekulasi jangka pendek, rekor justru area paling berbahaya untuk membeli karena takut ketinggalan. Di area rekor, sentimen mudah berbalik. Satu kabar tentang meredanya ketegangan geopolitik atau perubahan ekspektasi suku bunga bisa memicu koreksi cepat," pungkas Achmad.