28 Jenazah Korban Banjir Bandang di Sumatera Barat Belum Teridentifikasi

Polisi masih melanjutkan proses identifikasi terhadap puluhan jenazah yang menjadi korban banjir bandang wilayah Sumatera Barat.

oleh Nanda Perdana PutraDiterbitkan 23 Desember 2025, 19:48 WIB
Kondisi lingkungan dan sanitasi yang kurang memadai pasca- bencana dapat memicu peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), seperti batuk, pilek, hingga demam. Tampak dalam foto, anak-anak bermain di genangan lumpur di Pengidam, Aceh Tamiang, pada Senin 15 Desember 2025. (Yasuyoshi Chiba/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Polisi masih melanjutkan proses identifikasi terhadap puluhan jenazah yang menjadi korban banjir bandang wilayah Sumatera Barat (Sumbar). Polda Sumbar mencatat sebanyak 28 jenazah masih dalam upaya identifikasi.

"Hingga saat ini masih terdapat 28 jenazah yang belum teridentifikasi dan sedang dalam proses pengujian lanjutan di Jakarta," kata Wakapolda Sumbar Brigjen Solihin di Padang, Sumatera Barat, Selasa (23/12/2025).

Solihin menegaskan, kini polisi bersama tim SAR gabungan masih terus berusaha maksimal untuk menemukan para korban banjir bandang dan tanah longsor yang belum ditemukan. Hal ini sejalan dengan proses identifikasi yang dilakukan di Jakarta.

"Pencarian dan proses identifikasi tetap kami lanjutkan. Polri bersama seluruh pihak terkait akan terus bekerja semaksimal mungkin," jelas dia, dilansir dari Antara.

Lebih lanjut, Solihin menyebutkan dari 16 kabupaten dan kota terdampak, tercatat tiga daerah yang masih memperpanjang status tanggap darurat, yakni Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman Barat, dan Kabupaten Tanah Datar.

Berdasarkan data sementara dashboard Satu Data Bencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar, korban meninggal berjumlah 260 orang, 72 orang dinyatakan hilang, dan luka-luka sebanyak 382 orang. Sementara jumlah masyarakat terdampak sebanyak 296.307 jiwa.

 

Kondisi Kesehatan Korban

Warga berjalan melewati rumah-rumah yang rusak di sebuah desa yang terdampak banjir di Malalak, Sumatera Barat, Jumat 28 November 2025. Jelang akhir November 2025, bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda sebagian besar wilayah pulau Sumatera. (AP Photo/Ade Yuandha)

Kondisi kesehatan pengungsi banjir bandang dan longsor di sejumlah daerah di Sumatera Barat (Sumbar) mulai terganggu. Tim Paramedis Jalanan Sumbar menemukan berbagai gangguan kesehatan yang dialami warga selama berada di lokasi pengungsian.

Koordinator Paramedis Jalanan Sumbar, Sarah Uzlifah, mengatakan pemeriksaan kesehatan dilakukan sejak 30 November 2025.

Pihaknya telah menyisir beberapa titik terdampak, antara lain Batu Busuk, Gurun Laweh, Tabiang Batu Gadang Kota Padang, Palembayan Kabupaten Agam. Kemudian Koto Tuo Sani dan Malalo Kabupaten Solok.

“Keluhan kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah sakit kepala, asam lambung, demam serta luka akibat bencana. Kondisi psikologis pengungsi juga tidak lepas dari tekanan,” kata Sarah, Kamis (4/12/2025).

Sarah menyebut para pengungsi juga mengalami sulit tidur, cemas dan trauma dengan peristiwa banjir bandang.

“Ini juga perlu penanganan lanjutan,” ujar Sarah yang saat ini menempuh Pendidikan magister di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas itu.

 

Hunian Pengaruhi Kesehatan

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah menetapkan status tanggap darurat untuk mempercepat penanganan. Tampak dalam foto, seorang perempuan memeriksa kerusakan akibat banjir di Malalak, Sumatera Barat, Indonesia, Kamis, 27 November 2025. (AP Photo/Ade Yuandha)

Menurutnya tempat tinggal pengungsi sangat padat minim privasi dan akses terhadap kebutuhan dasar itu terbatas. Ini sangat memengaruhi kondisi kesehatan mereka.

"Di Palembayan misalnya, warga banyak mengungsi di rumah saudaranya yang juga harusnya diisi 1 KK jadi 3 KK," katanya.Selain itu, kelompok rentan seperti ibu hamil, anak-anak, dan lansia disebut paling membutuhkan perhatian. Dari pemeriksaan lapangan, mereka menunjukkan tanda kelelahan dan membutuhkan pemantauan medis berkala.

“Kami berharap masalah ini menjadi perhatian bersama. Penanganan kesehatan tidak bisa hanya datang sesekali, tetapi harus berkelanjutan, terutama untuk kelompok rentan,” ujar Sarah.

Paramedis Jalanan menyampaikan akan melanjutkan pemeriksaan dan screening kesehatan di titik pengungsian lainnya yang masih terdampak bencana.

“Iya kita kolaborasi dengan Sekolah Gender Sumbar dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang,” katanya.

Infografis Biaya Perbaikan Dampak Banjir Sumatera. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya