Direktur BFI Finance Beli 5 Juta Saham BFIN, Segini Nilainya

Direktur BFI Finance Indonesia (BFIN) Sudjono kini memiliki 35 juta saham BFIN setelah melakukan aksi beli saham pada 19 Desember 2025.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 23 Desember 2025, 14:50 WIB
Direktur PT BFI Finance Indonesia Tbk Sudjono membeli saham BFIN pada 19 Desember 2025.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) Sudjono menambah kepemilikan saham BFIN pada pertengahan Desember 2025.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Selasa (23/12/2025), Sudjono membeli 5 juta saham BFIN dengan harga Rp 702 per saham pada 19 Desember 2025. Dengan demikian, nilai transaksi pembelian saham BFIN senilai Rp 3,51 miliar.

"Tujuan transaksi investasi dengan status kepemilikan langsung,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.

Setelah transaksi pembelian saham BFIN, Sudjono mengenggam 35 juta saham BFIN atau setara 0,23%. Sebelumnya Sudjono memiliki 30 juta saham BFIN atau setara 0,20%.

Pada perdagangan sesi kedua perdagangan saham Selasa, 23 Desember 2025 pukul 14.42 WIB, harga saham BFIN melemah 0,70% ke posisi Rp 705 per saham.

Harga saham BFIN dibuka stagnan di posisi Rp 710 per saham. Saham BFIN berada di level tertinggi Rp 710 dan level terendah Rp 705 per saham. Total frekuensi perdagangan 1.084 kali dengan volume perdagangan 30.700 saham. Nilai transaksi Rp 2,2 miliar.

Sementara itu, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,64% ke posisi 8.590. Indeks saham LQ45 terpangkas 1,03% ke posisi 850. Sebagian besar indeks saham acuan memerah. Sepanjang sesi kedua, IHSG berada di level tertinggi 8.667,73 dan level terendah 8.578,73.

Sebanyak 381 saham melemah sehingga menekan IHSG. 284 saham menguat. 142 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 2.219.193 kali dengan volume perdagangan 29,2 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 18,5 triliun.

 

Presiden Direktur BFI Finance Beli 1 Juta Saham BFIN, Segini Nilainya

PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance).

Sebelumnya, PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) mengumumkan Presiden Direktur BFI Finance Indonesia Sutadi membeli 1 juta saham BFIN pada 20 November 2005. Tujuan pembelian saham tersebut untuk investasi dengan status kepemilikan langsung.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (25/11/2025), Presiden Direktur PT BFI Finance Indonesia bk Sutadi membeli 1.000.000 saham BFIN dengan harga Rp 772,5 per saham. Ia pun merogoh kocek sekitar Rp 772,50 juta.

“Tujuan dari transaksi investasi, status kepemilikan langsung,” tulis Direktur PT BFI Finance Indonesia Tbk, Sudjono dalam keterbukaan informasi BEI.

Setelah transaksi, Sutadi mengenggam 19.817.000 saham BFIN atau setara 0,13%. Sebelumnya, ia memiliki 18.817.000 saham BFIN.

Pada perdagangan Selasa pekan ini pukul 14.59 WIB, harga saham BFIN melemah 0,66% ke posisi Rp 755 per saham. Harga saham BFIN dibuka stagnan di posisi Rp 760 per saham. Harga saham BFIN berada di level tertinggi Rp 765 dan level terendah Rp 750 per saham. Total frekuensi perdagangan 2.070 kali dengan volume perdagangan 251.699 saham. Nilai transaksi Rp 19 miliar.

 

 

BFI Finance Buyback Saham

IHSG ditutup pada level 7.220,88. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) akan melakukan pembelian kembali atau buyback saham senilai Rp 500 miliar.

Perseroan menyatakan buyback saham dilakukan sebagai upaya menjaga stabilitas perdagangan saham di pasar modal dalam kondisi volatilitas tinggi dan meningkatkan kepercayaan investor.Pembelian kembali atau buyback saham tersebut dilakukan selama tiga bulan sejak 4 Agustus-31 Oktober 2025. BFI Finance Indonesia telah menunjuk PT Trimegah Sekuritas untuk melakukan buyback saham di BEI melalui pasar regular.

“Buyback akan dilakukan pada harga yang dianggap baik dan wajar oleh Perseroan dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” demikian seperti dikutip.

Perseroan yakin pelaksanaan buyback yang dilakukan tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap operasional, kinerja keuangan, struktur permodalan, dan tingkat likuiditas Perseroan.

“Perseroan juga dalam posisi likuiditas yang kuat dan memiliki arus kas yang mencukupi untuk mendukung kelangsungan kegiatan operasional,” demikian seperti dikutip.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya