Liputan6.com, Cape Town - Sedikitnya sembilan orang tewas dan 10 lainnya luka-luka setelah sekelompok pria bersenjata memberondong sebuah pub di Afrika Selatan pada Minggu (21/12/2025).
Insiden ini menambah daftar panjang penembakan massal di negara tersebut dalam beberapa pekan terakhir, dikutip dari laman Japan Times, Senin (22/12).
Advertisement
Penembakan terjadi menjelang pukul 01.00 waktu setempat di kota Bekkersdal, sekitar 46 kilometer di sebelah barat Johannesburg. Polisi menyebut, sekitar 12 pelaku tak dikenal datang menggunakan sebuah minibus putih dan sedan berwarna perak, lalu melepaskan tembakan ke arah pengunjung pub KwaNoxolo di kawasan Tambo, Bekkersdal.
“Para pelaku menembaki pengunjung di dalam pub dan terus melepaskan tembakan secara membabi buta saat melarikan diri,” demikian keterangan kepolisian. Sejumlah korban dilaporkan ditembak secara acak di jalanan sekitar lokasi kejadian.
Komisaris Kepolisian Provinsi Gauteng, Mayor Jenderal Fred Kekana, mengatakan kepada stasiun televisi SABC bahwa salah satu korban tewas merupakan pengemudi layanan taksi daring yang sedang berada di luar pub saat penembakan terjadi.
Seluruh korban luka telah dilarikan ke rumah sakit setempat untuk mendapatkan perawatan medis. Hingga kini, motif penembakan belum diketahui.
Unit Investigasi Kejahatan Serius dan Kekerasan Gauteng bersama Unit Pelacakan Deteksi Kejahatan telah dikerahkan untuk memburu para pelaku. Polisi masih mengumpulkan bukti dan meminta keterangan saksi di lokasi kejadian.
Penembakan ini merupakan insiden penembakan massal kedua di Afrika Selatan dalam tiga pekan terakhir. Awal bulan ini, sedikitnya 12 orang tewas dan 13 lainnya luka-luka dalam penembakan di sebuah bar tanpa izin di dekat ibu kota Pretoria.
Pada 2022, penembakan di kawasan Soweto, Johannesburg, juga menewaskan 16 orang, sementara pada hari yang sama empat orang tewas dalam insiden serupa di provinsi lain.
Afrika Selatan terus bergulat dengan tingkat kekerasan bersenjata yang tinggi. Sepanjang 2024, negara ini mencatat hampir 26.000 kasus pembunuhan, atau rata-rata lebih dari 70 orang per hari. Senjata api menjadi penyebab utama kematian, dan meskipun undang-undang pengendalian senjata tergolong ketat, otoritas menyebut banyak kejahatan dilakukan menggunakan senjata ilegal.