BEI Ungkap Hasil Pembahasan dengan MSCI

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan tetap menghormati independensi dari index provider.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 18 Desember 2025, 08:12 WIB
Layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (4/3/2020). IHSG kembali ditutup Melesat ke 5.650, IHSG menutup perdagangan menguat signifikan dalam dua hari ini setelah diterpa badai corona di hari pertama pengumuman positifnya wabah corona di Indonesia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengungkapkan adanya pembahasan antara BEI dan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berlangsung beberapa waktu lalu. 

Dalam diskusi tersebut, BEI berharap setiap metodologi yang akan diterapkan oleh penyedia indeks dapat bersifat umum, berlaku untuk semua negara, serta tidak menimbulkan perlakuan diskriminatif.

"Minggu lalu Direktur Utama BEI Iman Rachman ke New York ketemu dengan pimpinan MSCI. Diskusinya cukup konstruktif. Tetapi, sekali lagi kembali kita tetap menghormati independensi dari index provider," tutur Jeffrey kepada wartawan di BEI, Rabu (17/12/2025).

Jeffrey juga menyoroti isu terkait ketentuan saham beredar bebas (free float) yang dinilai lebih ketat dibandingkan sejumlah bursa global lainnya. Di Indonesia, kepemilikan saham oleh satu pihak di atas 5% tidak lagi dikategorikan sebagai free float. 

“Perhatian kami tetap sama. Pertama, kami menghormati kewenangan dari penyedia indeks. Namun, sekali lagi kami minta supaya apa pun metodologi yang akan diterapkan berlaku universal, artinya diterapkan di seluruh negara lain,” jelasnya.

Sementara itu, di beberapa bursa seperti London Stock Exchange dan Stock Exchange of Thailand, batasannya dinilai lebih longgar karena masih memperhitungkan kepemilikan hingga di atas 10%.

Meski demikian, BEI tetap berharap kunjungan Direktur Utama BEI Iman Rachman bersama perwakilan self regulatory organization (SRO) ke New York, Amerika Serikat (AS), dapat menghasilkan pembahasan yang bersifat konstruktif dengan MSCI.

Namun, Jeffrey belum bersedia memaparkan secara rinci hasil dari pertemuan tersebut. Ia mengingatkan bahwa sebelumnya MSCI sempat tidak memberikan tanggapan langsung atas permintaan BEI. 

Kondisi serupa pernah terjadi saat MSCI berencana mengecualikan saham-saham Indonesia yang masuk papan pemantauan khusus atau full call auction (FCA) selama satu tahun sehingga tidak dapat masuk ke dalam indeks.

“Kami juga menyampaikan perhatian yang sama dan tidak perlu ada respon langsung. Namun responnya adalah di-exclude hanya untuk yang masuk FCA 3 bulan, tidak lagi 1 tahun dan itu memang lebih relevan,” pungkas Jeffrey.

BEI Perkuat Kredibilitas Indeks Lewat Penerapan IOSCO

Suasana di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/11/2015). Pelemahan indeks BEI ini seiring dengan melemahnya laju bursa saham di kawasan Asia serta laporan kinerja emiten triwulan III yang melambat. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Sebelumnya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan komitmen meningkatkan kredibilitas indeks saham di BEI dengan memastikan proses pengelolaan indeks saham telah selaras dengan International Organization of Securities Commissions (IOSCO) Principles for Financial Benchmarks.

Prinsip tersebut merupakan standar internasional yang menekankan aspek tata kelola, integritas, metodologi, kualitas, dan akuntabilitas dalam pengelolaan financial benchmark, salah satunya adalah indeks saham. Komitmen ini tertuang dalam dokumen yang dikeluarkan oleh BEI dalam bentuk Management Statement of Adherence with IOSCO Principles for Financial Benchmarks.

Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan penerapan prinsip ini merupakan bagian dari inisiatif BEI untuk memastikan indeks saham di BEI dikelola secara kredibel, transparan, dan akuntabel sesuai standar internasional.

“Melalui langkah ini, kami ingin memberikan keyakinan yang kuat kepada investor bahwa indeks di BEI disusun melalui tata kelola dan metodologi yang jelas, serta dapat diandalkan sebagai acuan investasi,” kata Jeffrey seperti dikutip dari keterangan resmi, Rabu (17/12/2025).

 

Dukung Daya Saing Indeks

Penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (4/7/2024) menunjukan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona hijau. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ia menambahkan, inisiatif ini juga bertujuan untuk mendukung daya saing indeks BEI sebagai acuan berbagai produk investasi yang berkualitas.

Pada tahap awal, penerapan atas IOSCO Principles for Financial Benchmarks difokuskan pada 3 (tiga) indeks flagship milik BEI, yaitu IDX30, LQ45, dan IDX80, yang telah digunakan secara luas sebagai acuan pasar dan dasar pengembangan berbagai produk investasi.

Saat ini telah tersedia 48 indeks saham di BEI, sehingga penerapan prinsip internasional merupakan fondasi penting untuk menjaga kualitas indeks dan relevansinya di tengah dinamika pasar. Ke depan, penerapan IOSCO Principles for Financial Benchmarks akan dilakukan secara bertahap ke indeks lainnya yang ada di BEI guna memperkuat posisi indeks BEI dalam ekosistem pasar modal domestik maupun global.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya