Liputan6.com, Jakarta - Wilayah Jakarta dan sekitarnya pada Kamis (18/12/2025) diperkirakan akan mengalami cuaca berawan tebal sejak pagi hari dengan potensi hujan berintensitas sedang pada siang hari, lalu kembali berawan tebal pada malam hari. Demikian prakiraan cuaca hari ini berdasarkan rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
BMKG melaporkan, pagi hari di seluruh wilayah DKI Jakarta, meliputi Jakarta Barat, Pusat, Selatan, Timur, dan Utara, diprakirakan berawan tebal. Memasuki siang hari, hujan sedang berpotensi mengguyur Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur, sementara Jakarta Utara diperkirakan mengalami hujan ringan.
Advertisement
Pada malam hari, kondisi cuaca di seluruh wilayah Jakarta kembali didominasi awan tebal tanpa potensi hujan signifikan.
Di wilayah Kepulauan Seribu, hujan ringan diperkirakan turun sejak pagi hingga siang hari, sebelum cuaca beralih menjadi berawan tebal pada malam hari.
Sementara itu, wilayah penyangga Jakarta seperti Bekasi, Depok, dan Tangerang diprakirakan berawan tebal pada pagi hari, lalu diguyur hujan sedang pada siang hari, dan kembali berawan tebal saat malam.
Adapun Kota Bogor diprediksi berawan tebal pada pagi hari, kemudian berpotensi hujan disertai petir pada siang hari, sebelum kembali berawan tebal pada malam hari.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi hujan sedang hingga hujan petir, khususnya pada siang hari, serta berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan.
Berikut informasi cuaca Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) selengkapnya dikutip Liputan6.com dari laman resmi BMKG www.bmkg.co.id:
| Kota | Pagi | Siang | Malam |
| Jakarta Barat | Berawan Tebal | Hujan Sedang | Berawan Tebal |
| Jakarta Pusat | Berawan Tebal | Hujan Sedang | Berawan Tebal |
| Jakarta Selatan | Berawan Tebal | Hujan Sedang | Berawan Tebal |
| Jakarta Timur | Berawan Tebal | Hujan Sedang | Berawan Tebal |
| Jakarta Utara | Berawan Tebal | Hujan Ringan | Berawan Tebal |
| Kepulauan Seribu | Hujan Ringan | Hujan Ringan | Berawan Tebal |
| Bekasi | Berawan Tebal | Hujan Sedang | Berawan Tebal |
| Depok | Berawan Tebal | Hujan Sedang | Berawan Tebal |
| Kota Bogor | Berawan Tebal | Hujan Petir | Berawan Tebal |
| Tangerang | Berawan Tebal | Hujan Sedang | Berawan Tebal |
Apa Perbedaan Siklon dan Bibit Siklon? Ini Penjelasan BMKG soal Ancaman Cuaca Ekstrem
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia tengah dikepung oleh tiga sistem cuaca, yakni satu siklon tropis dan dua bibit siklon. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berpotensi memicu cuaca ekstrem berupa hujan lebat, banjir, hingga gelombang tinggi di sejumlah wilayah.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, ketiga sistem tersebut terdiri dari Siklon Tropis Bakung, Bibit Siklon 93S, dan Bibit Siklon 95S. Hal ini disampaikannya dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, di hadapan Presiden Prabowo.
"Saat ini ada tiga siklon yang mengepung Indonesia, Bapak Presiden," ujar Faisal, Selasa, 16 Desember 2025.
Lantas, apa perbedaan antara siklon dan bibit siklon? Menurut BMKG, bibit siklon merupakan tahap awal terbentuknya siklon tropis.
Bibit siklon ditandai dengan adanya pusat tekanan rendah yang berpotensi berkembang menjadi siklon apabila didukung kondisi atmosfer yang memadai, seperti suhu permukaan laut yang hangat dan pergerakan angin yang kuat.
Sementara itu, siklon tropis adalah sistem cuaca yang sudah matang dan memiliki kekuatan angin yang lebih besar, dengan kategori tertentu berdasarkan kecepatan angin.
Siklon tropis berpotensi menimbulkan dampak signifikan, seperti hujan sangat lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi.
Apa Itu Siklon Tropis?
Faisal menjelaskan bahwa Siklon Tropis Bakung saat ini terpantau berkembang di barat daya Lampung dan meskipun sempat bergerak menjauhi Indonesia, statusnya justru meningkat dari kategori 1 ke kategori 2.
"Statusnya sempat naik, padahal siklon tropis Senyar yang menyebabkan cuaca ekstrem di Sumatera sebelumnya hanya tercatat di kategori 1," katanya.
BMKG memprediksi Siklon Bakung masih berpeluang bergerak mendekati wilayah Indonesia dalam dua hingga tiga hari ke depan. Oleh karena itu, pemantauan terus dilakukan agar dampaknya bisa diantisipasi lebih dini.
“Kami akan pantau terus dinamikanya, harapannya tidak masuk hingga mendekat lagi yang akan mempengaruhi curah hujan,” ujar Faisal.
Selain Siklon Bakung, BMKG juga memantau Bibit Siklon 93S yang berada di sekitar Bali, Nusa Tenggara, dan Jawa Timur, serta Bibit Siklon 95S yang terpantau di selatan Papua.
Keberadaan bibit siklon ini turut meningkatkan potensi hujan dengan intensitas tinggi hingga sangat tinggi di berbagai wilayah Indonesia.
Tak hanya hujan, ancaman lain yang perlu diwaspadai adalah gelombang tinggi di perairan sekitar Indonesia. BMKG pun telah berkoordinasi dengan BNPB, BPBD, dan Basarnas untuk memastikan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.
"Kami mengimbau masyarakat tetap tenang, namun selalu bersiap menghadapi curah hujan tinggi dan gelombang tinggi," kata Faisal.
Faisal menambahkan bahwa Indonesia tidak sendirian dalam menghadapi ancaman siklon tropis. Indonesia telah ditunjuk oleh World Meteorological Organization (WMO) sebagai Tropical Cyclone Warning Center dan terus berkomunikasi dengan negara lain seperti Australia, Jepang, dan India.
"Bahkan sempat tercatat pada 14 Desember, Siklon Bakung masuk kategori 3 dengan kecepatan angin mencapai 65 knot. Ini sangat berbahaya, meski kini sudah melemah," pungkasnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca resmi, meningkatkan kewaspadaan, serta menyiapkan langkah antisipasi guna meminimalkan risiko akibat cuaca ekstrem.