Komdigi Soroti Ancaman Hoaks dan Kejahatan Siber di Temu Nasional Literasi Digital 2025

Komdigi menegaskan literasi digital kini menjadi fondasi daya saing bangsa. Dari ancaman hoaks hingga perlindungan anak di ruang digital, isu ini menjadi fokus utama menuju Digital Outlook Indonesia 2026.

oleh Nariza Riskantia HayaDiterbitkan 16 Desember 2025, 17:19 WIB
Temu Nasional Pegiat Literasi Digital 2025, tekan literasi digital Indonesia untuk fondasi saya saing bangsa. (Liputan6.com/Nariza Riskantia Haya).

Liputan6.com, Jakarta - Temu Nasional Pegiat Literasi Nasional 2025 resmi digelar oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), termasuk Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komdigi dan Literasi Digital untuk memberikan perspektif lengkap kepada pegiat literasi digital terkait Digital Outlook Indonesia 2026.

Dalam peparannya, Kepala BPSDM Komdigi, Boni Pudjianto menegaskan peran teknologi digital kini semakin strategis. Tak hanya berfungsi sebagai sarana penyebaran informasi, teknologi juga dapat dipakai untuk alat solusi di tengah situasi sosial yang kompleks.

Menurut Boni, pemanfaatan teknologi digital sudah menyentuh berbagai sektor. Dunia pendidikan dan layanan publik, hingga penggerak ekonomi masyarakat menjadi contoh nyata dampak positif transformasi digital tepat sasaran.

Namun di sisi lain, Boni mengingatkan ancaman serius menertai pesatnya ruang digital. Kabar hoax, misinformasi, penipuan digital, hingga kejahatan cyber masih menjadi persoalan terus membayangi masyarakat.

“Literasi digital tidak boleh direduksi menjadi sekedar kemampuan teknis, karena jauh daripada itu literasi digital juga memperkuat etika dan budaya. Selain yang sifatnya kecakapan dan bagaimana kita terlindungi di ranah digital,” jelas Kepala BPSDM Komdigi, Boni Pudjianto dalam pemaparannya, Jakarta, Selasa (16/12/2025).

Bagi Komdigi, literasi digital telah berkembang menjadi fondasi daya saing bangsa. Penguatan sumber daya manusia menjadi fokus utama untuk menjawab kebutuhan masa depan semakin bergantung pada teknologi.

Upaya tersebut tidak dilakukan sendirian, Komdigi mendorong kolaborasi lintas sektor agar tantangan literasi digital dapat dihadapi bersama.

“Kami tidak mungkin berjalan sendiri, kami harus bersama dengan seluruh komunitas, civil society, organisasi, komunitas, tidak hanya dalam negeri bahkan juga luar negeri untuk bersama-sama menyelesaikan PR besar kita tersebut,” ungkapnya.

Isu perlindungan kelompok rentan juga menjadi salah satu perhatian utama. Boni menyoroti pentingnya meningkatkan sikap kritis masyarakat dalam menerima suatu informasi, serta peran orang tua dalam melindungi anak-anak diruang digital.

“Kami dari Komdigi ada PP Tunas, jadi bagaimana untuk kita aware bahwa anak-anak tidak serta-merta langsung masuk ke ranah digital. Kita perlu menunda pada saat usianya belum cukup, disesuaikan dengan risiko di ruang digital,” jelasnya.

Lewat Literasi Digital, Komdigi Kembangkan SDM

Boni Pudjianto menegaskan teknologi digital dapat memberikan solusi dan upaya penyebaran informasi. (Liputan6.com/Nariza Riskantia Haya).

Selain aspek perlindungan, Komdigi turut mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas ekonomi, seperti entreprenuer, UMKM, serta koperasi untuk dapat masuk ke dunia digital.

Hal ini diharapkan bagi para pelaku usaha untuk lebih produktif, efisien, dan berdaya guna. Serta ruang digital dapat diperuntukkan untuk para penyandang disabilitas.

“Kita sudah ada roadmap-nya dari Komdigi untuk 2029 arah transformasi digital, tapi kami harapkan dari para penggerak literasi digital juga ada rencana strategisnya sampai 2029,” tuturnya.

Komdigi bersama dengan Global Technology Company berupaya untuk meningkatkan kemampuan digital masyarakat. Melalui literasi digital, masyarakat dapat diharap menjadi talenta digital seperti content creator, developer, dan user digital.

“Mereka bagian dari industri atau mereka menjadi talenta digital yang diperlukan oleh korporasi dan industri ke depan,” tuturnya.

Boni mengatakan fokus utama dan tujuan jangka panjang Komdigi adalah untuk mengembangkan kualitas dan jumlah talenta digital Indonesia agar siap menghadapi kebutuhan di masa mendatang.

Hal ini diupayakan Komdigi melalui program literasi digital, pelatihan, dan kolaborasi dengan perusahaan teknologi. Literasi digital diperuntukkan sebagai tahap awal menuju sumber daya manusia digital yang produktif, berdaya saing, dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan transformasi digital Indonesia.

Sorotan Komdigi Soal Bencana Sumatra

Dalam Temu Nasional Pegiat Literasi Nasional 2025, Boni Pudjianto turut menjelaskan Komdigi ikut peran dalam penanganan bencana alam di sejumlah wilayah di Sumatra. Ia menyebut Komdigi berupaya mendukung pemulihan komunikasi dengan menyiapkan receiver satelit serta perangkat pendukung lainnya guna memastikan akses internet masyarakat terdampak.

“Karena infrastruktur collapse, kita komunikasi apa yang kurang. Kami di Jakarta mencari bantuan donasi dan lain sebagainya, misalkan waktu kemarin karena kondisi masih kritis, ada low earth orbit, ada dari Starlink dan lain sebagainya,” paparnya.

Namun untuk mengoperasikan Starlink memerlukan dukungan tambahan seperti genset dan pasokan bahan bakar. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Boni mengatakan bahwa muncul gagasan untuk memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi alternatif, meskipun kondisi cuaca tidak selalu mendukung.

“Jadi upaya-upaya itu emergency situation,” jelasnya.

Infografis Fakta Mengenai Indeks Literasi di Indonesia.

Fakta Mengenai Indeks Literasi di Indonesia. (Liputan6/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya