Fed Pangkas Suku Bunga 3 Kali sepanjang 2025, Fokus Dorong Lapangan Kerja AS

Federal Reserve (Fed) memangkas suku bunga acuan untuk ketiga kalinya tahun ini guna mendorong pasar tenaga kerja AS.

oleh Haniah NabilahDiterbitkan 16 Desember 2025, 19:00 WIB
Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell berbicara dalam konferensi pers setelah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), Rabu, 17 September 2025, di Gedung Dewan Federal Reserve di Washington. (Foto AP/Jacquelyn Martin)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) kembali memangkas suku bunga acuan pada pekan lalu. Pemangkasan tersebut merupakan ketiga kalinya sepanjang 2025. Pemangkasan suku bunga oleh The Fed ini dilakukan untuk mendorong pemulihan pasar tenaga kerja yang dinilai mulai melemah.

Dalam keputusan yang diumumkan pada Rabu waktu setempat, The Fed memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin. Dengan kebijakan tersebut, suku bunga acuan kini berada di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.

Dikutip dari ABC News, Selasa (16/12/2025), langkah ini diharapkan dapat memberikan sedikit keringanan bagi masyarakat AS, khususnya peminjam kredit perumahan dan kartu kredit, seiring masih tingginya biaya pinjaman dibandingkan periode sebelum pandemi.

Meski telah turun cukup signifikan dari puncaknya pada 2023, suku bunga The Fed masih jauh di atas level mendekati nol persen yang diberlakukan saat awal pandemi COVID-19 melanda perekonomian global.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan, pemangkasan suku bunga ini merupakan bagian dari upaya bank sentral untuk memperbaiki kondisi pasar tenaga kerja. Namun, ia juga mengisyaratkan bahwa The Fed akan bersikap lebih berhati-hati dalam menentukan langkah kebijakan selanjutnya.

“Kami berada dalam posisi yang baik untuk menunggu dan melihat bagaimana perekonomian berkembang,” ujar Powell dalam konferensi pers di Washington DC.

 

Perbedaan Pendapat di Internal The Fed

The Fed (www.n-tv.de)

Keputusan pemangkasan suku bunga kali ini tidak diambil secara bulat. Tercatat, tiga dari 12 anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang memiliki hak suara menentang pemotongan seperempat poin tersebut.

Jumlah penentang ini menjadi yang tertinggi sejak tahun 2019, mencerminkan meningkatnya perbedaan pandangan di internal The Fed terkait arah kebijakan moneter ke depan.

Perdebatan tersebut muncul di tengah kondisi ekonomi yang dinilai kompleks. Dalam beberapa bulan terakhir, inflasi kembali menunjukkan tren naik, sementara laju perekrutan tenaga kerja justru melambat. Kondisi ini memunculkan risiko perlambatan ekonomi, yakni kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melemah.

 

Dilema Mandat Ganda

Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell berbicara dalam konferensi pers setelah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), Rabu, 17 September 2025, di Gedung Dewan Federal Reserve di Washington. (Foto AP/Jacquelyn Martin)

The Fed berada dalam posisi sulit karena harus menyeimbangkan mandat ganda, yakni menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus memaksimalkan lapangan kerja. Untuk mencapai dua tujuan tersebut, bank sentral pada dasarnya hanya memiliki satu instrumen utama, yakni suku bunga.

Powell menyebut situasi saat ini sebagai kondisi yang penuh tantangan.

“Tidak ada jalan bebas risiko dalam kebijakan saat kita menghadapi ketegangan antara tujuan lapangan kerja dan inflasi,” tegasnya.

Ia menjelaskan, mempertahankan suku bunga tinggi demi menahan inflasi berisiko memperburuk pelemahan pasar tenaga kerja. Sebaliknya, penurunan suku bunga untuk mendorong perekrutan dapat memicu peningkatan belanja dan kembali menekan inflasi.

 

Sentimen Pasar Berubah

Menjelang pengumuman keputusan The Fed, sentimen pasar terlihat bergeser mendukung pemangkasan suku bunga. Beberapa jam sebelum keputusan diumumkan, peluang penurunan suku bunga mencapai hampir 90 persen, melonjak tajam dari sekitar 30 persen sebulan sebelumnya, menurut CME FedWatch Tool.

Perubahan ekspektasi tersebut dipicu oleh laporan ketenagakerjaan yang menunjukkan sinyal beragam serta pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang membuka peluang pelonggaran kebijakan.

Laporan pekerjaan bulan September menunjukkan penambahan tenaga kerja yang lebih baik dari perkiraan, meskipun laju perekrutan tidak tergolong cepat. Sementara itu, tingkat pengangguran naik ke 4,4 persen, level tertinggi sejak Oktober 2021 meski masih relatif rendah secara historis.

Presiden Federal Reserve New York John Williams menyatakan masih melihat “ruang untuk penyesuaian lebih lanjut dalam waktu dekat.” Sikap serupa juga disampaikan Presiden Federal Reserve San Francisco Mary Daly, yang menyebut peluang pelonggaran kebijakan masih terbuka.

Namun demikian, Powell menegaskan bahwa langkah ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi, baik dari sisi inflasi maupun pasar tenaga kerja.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya