Liputan6.com, Jakarta - Ant International, HSBC, dan Swift sukses melakukan uji coba transfer lintas negara menggunakan deposito tokenisasi, sebuah langkah yang menandai integrasi teknologi blockchain ke dalam jaringan Swift dan standar ISO 20022.
Inisiatif ini memungkinkan pengelolaan dana secara real-time, memperlihatkan bagaimana blockchain dapat meningkatkan efisiensi transaksi global sekaligus menjaga kepatuhan melalui solusi perbankan berbasis tokenisasi.
Advertisement
Dalam uji coba tersebut, Ant International menghubungkan sistem blockchain miliknya ke jaringan Swift melalui layanan HSBC, sehingga memungkinkan penggunaan token digital dalam pengelolaan dana lintas batas secara langsung.
Transaksi Antarbank tanpa Kesepakatan Bilateral
Proses ini memungkinkan transaksi antarbank tanpa perlu kesepakatan bilateral tambahan, menegaskan peran interoperabilitas yang didukung ISO 20022 dalam jaringan Swift.
Uji coba ini menjadi tonggak baru dalam transaksi keuangan karena membuka peluang bagi pengelolaan perbendaharaan global secara real-time tanpa ketergantungan pada pengaturan perbankan bilateral.
Dengan memanfaatkan layanan deposito tokenisasi HSBC, proyek ini menciptakan konektivitas mulus antara institusi keuangan yang berbeda dan memperkuat prospek transformasi transaksi lintas negara.
General Manager Platform Tech Ant International, Kelvin Li mengatakan, hubungan ini telah memungkinkan untuk bekerja di berbagai wilayah geografis dan mencakup berbagai bisnis pembayaran global.
“Layanan Deposito Tokenisasi adalah salah satu cara utama untuk memungkinkan kami melakukan pembayaran secara real-time di seluruh dunia dan juga memungkinkan kami untuk mencapai manajemen perbendaharaan secara real-time di tingkat global,” ujarnya dikutip dari Coinmarketcap, Sabtu (13/12/2025).
Respons dari industri pun positif, dengan para pelaku keuangan melihat peningkatan efisiensi pembayaran lintas negara dari inovasi ini. Implementasi komersial diharapkan berlanjut seiring perkembangan berikutnya.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Ripple Akuisisi Perusahaan Fintech Blockchain Palisade
Sebelumnya, Ripple mengakuisisi penyedia dompet digital dan perusahaan kustodian Palisade, perusahaan teknologi keuangan berbasis blockchain. Langkah Ripple itu diumumkan pada Senin, 3 November 2025 dan menambah daftar pembelian besar-besaran baru-baru ini.
Mengutip Yahoo Finance, ditulis Selasa (4/11/2025), akuisisi yang dilakukan Ripple ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas perusahaan kustodian. Hal ini memungkinkan Ripple untuk melayani perusahaan kripto, perusahaan teknologi keuangan dan perusahaan lainnya dengan lebih baik. Namun, Ripple tidak mengungkapkan ketentuan kesepakatan itu.
"Kustodian aset digital yang aman membuka ekonomi kripto dan merupakan fondasi yang menopang setiap bisnis berbasis blockchain,itulah mengapa hal ini menjadi inti dari strategi produk Ripple," kata Presiden Ripple, Monica Long, dalam sebuah pernyataan.
Gelombang Adopsi Kripto
"Perusahaan siap untuk mendorong gelombang adopsi kripto yang masif berikutnya. Sebagaimana kita telah melihat bank-bank besar beralih dari mengamati menjadi aktif membangun kripto, perusahaan kini memasuki pasar, dan mereka membutuhkan mitra tepercaya dan berlisensi dengan kemampuan yang siap pakai."
Produk dompet sebagai layanan (WaaS) Palisade, yang menawarkan fitur-fitur seperti komputasi multi-pihak (MPC) dan dukungan multi-blockchain, akan langsung terintegrasi dengan Ripple Custody dan Ripple Payments, dua penawaran bisnis utama perusahaan fintech tersebut.
"Kombinasi brankas sekelas bank Ripple dan dompet Palisade yang cepat dan ringan menjadikan Ripple Custody penyedia menyeluruh untuk setiap kebutuhan institusional, mulai dari penyimpanan jangka panjang hingga pembayaran global real-time dan manajemen perbendaharaan,” Long menambahkan.
Aksi Korporasi Ripple
Perusahaan fintech yang terhubung dengan XRP ini telah memperluas penawaran layanannya melalui akuisisi sepanjang tahun ini. Pada April, perusahaan mengakuisisi broker utama Hidden Road senilai USD 1,25 miliar atau Rp 20,89 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.717) untuk melayani klien institusional dalam skala yang lebih luas.
Berkat akuisisi tersebut, klien utamanya mendapatkan akses ke puluhan mata uang kripto di Amerika Serikat.
Pada Agustus, Ripple mengakuisisi platform stablecoin Kanada, Rail, seharga USD 200 juta atau Rp 3,34 triliun dan hanya dua minggu yang lalu, perusahaan tersebut menghabiskan USD 1 miliar atau Rp 16,7 triliun lagi untuk mengakuisisi perusahaan manajemen keuangan, GTreasury.
Selain akuisisi penting tersebut, Ripple juga menyelesaikan pertarungan hukum selama empat tahun dengan SEC, setelah kedua belah pihak mengakhiri banding mereka pada Agustus.
XRP, aset kripto yang terkait dengan Ripple, mencapai rekor tertinggi baru awal tahun ini, naik di atas USD 3,40 untuk pertama kalinya sejak 2018 menjadi USD 3,65. Sejak itu, harganya turun sekitar 38% menjadi USD 2,30 tetapi tetap menjadi aset kripto terbesar keempat dengan kapitalisasi pasar USD 140,5 miliar.