Atasi Permasalahan Sampah di Anyer, Masyarakat Dilibatkan Lewat Maggot Farming dan Edukasi

Pengelolaan sampah organik di Anyer diperkuat melalui maggot farming, melibatkan warga dalam mengolah sampah menjadi sumber ekonomi.

oleh Khamelia MarshaDiterbitkan 12 Desember 2025, 17:00 WIB
Program kolaborasi antara pemerintah daerah dan PT Patra Jasa ini memanfaatkan maggot untuk mengurai 30-40 ton sampah organik harian sekaligus memberdayakan ekonomi masyarakat setempat. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Permasalahan sampah di Kabupaten Serang, Banten menjadi perhatian serius berbagai pihak.

Salah satu faktor penyebab adalah terbatasnya kapasitas Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA), sehingga sampah organik, terutama dari sektor bisnis dan pariwisata, menumpuk di beberapa titik.

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Serang Sarudin, wilayah Anyer menghasilkan sekitar 30–40 ton sampah organik setiap hari, terutama dari sektor bisnis dan pariwisata. 

"Kami ingin menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan mandiri, sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam pengelolaan sampah secara berkelanjutan," ujar Sarudin melalui keterangan tertulis, Jumat (12/12/2025). 

Dia mengatakan, upaya bersama untuk mengurangi produksi sampah, terutama dari sisa makanan. Upaya ini dapat dilakukan melalui penguatan sistem pengelolaan sampah dan pelibatan masyarakat melalui edukasi.

Menurut Sarudin, guna mengatasi tersebut, pihaknya menggandeng PT Patra Jasa dalam hal pengelolaan sampah organik berbasis pemberdayaan dan edukasi. Program ini juga bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

 

"Melalui pendekatan maggot farming, sampah tersebut diolah," terang Sarudin.

Tidak hanya itu, lanjut dia, upaya tersebut dinilai efektif, ramah lingkungan, dan memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

"Magot itu kan sumber makannya dari sisa makanan seperti buah, oleh karena itu karena di Anyer ini banyak sisa makan organik. Maka diharapkan sampah ini bisa dikelola dengan konsep pemberdayaan magot," papar Sarudin.

Pendekatan Maggot Farming dan Edukasi Masyarakat

Sampah makanan/copyrigth shutterstock/joerngebhardt68

Sarudin menambahkan, keberhasilan pengelolaan sampah juga bergantung pada perubahan pola pikir masyarakat dalam memilah sampah sejak awal.

"Saya berharap praktik baik seperti ini dapat ditiru dan diterapkan di kecamatan lainnya," jelas Sarudin.

Sementara itu, Pjs. Manager External Relation & Corporate Social Responsibility PT Patra Jasa Mulia Prabowo juga menekankan, pengelolaan sampah organik harus dimulai dari kesadaran kolektif masyarakat.

Dalam program ini, pihaknya ingin menghadirkan pengelolaan sampah terpadu yang tidak hanya menjawab kebutuhan terkini, tetapi juga membawa manfaat jangka panjang bagi pelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat.

"Sampah organik adalah bagian terbesar dari sampah rumah tangga, dan jika tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak lingkungan yang serius," kata Mulia.

 

Kesadaran Kolektif dan Edukasi Berkelanjutan

Tumpukan sampah rumah tangga mengotori Jalan Raya Tanah Baru di kawasan Depok, Jawa Barat, Rabu (15/5/2019). Kurangnya tempat penampungan membuat warga terpaksa membuang sampah di lokasi tersebut, meskipun menimbulkan bau tidak sedap serta mengotori jalan. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Mulia juga percaya, keberhasilan pengelolaan sampah bergantung pada edukasi dan keterlibatan masyarakat. Karena itu, ia terus mendorong kolaborasi yang berkesinambungan agar dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan hidup di wilayah Anyer.

"Inisiatif ini juga menjadi bagian dari komitmen kami untuk memberikan dampak sosial dan lingkungan yang positif di setiap wilayah operasionalnya," kata Mulia.

"Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas lingkungan hidup," tandas Mulia.

Hal senada juga dikatakan Wakil Bupati Serang M. Najib Hamas. Dia menilai, pengolahan sampah organik menjadi maggot sebagai langkah tepat untuk mengurangi timbunan sampah sekaligus memberikan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat.

Najib juga menegaskan pentingnya peran Muspika Kecamatan, Kepala Desa, dan masyarakat dalam memperkuat edukasi serta membangun bank sampah di tingkat desa agar sampah dapat dikelola sejak dari sumbernya.

"Ini contoh konkret kontribusi sektor swasta dalam mendukung pemerintah menangani persoalan lingkungan," pungkas Najib.

Infografis Journal_ Kerugian Ekonomi Akibat Sampah Sisa Makanan Capai Rp 500 Triliun per tahun (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya