Status Tanggap Darurat Sumut Diperpanjang, 18 Daerah Belum Aman dari Bencana

Perpanjangan status dinilai krusial untuk menyempurnakan dan mempercepat tindakan tanggap darurat di wilayah terdampak.

oleh Reza EfendiDiterbitkan 11 Desember 2025, 00:46 WIB
Sementara, di Sumatera Barat, dampak bencana tercatat lebih meluas hingga mencakup 13–14 kabupaten/kota. Tampak dalam foto, rumah-rumah terlihat rusak setelah banjir melanda Malalak, Sumatera Barat, Kamis 27 November 2025. (AP Photo/Ade Yuandha)

Liputan6.com, Jakarta - Status Tanggap Darurat Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera Utara (Sumut) diperpanjang selama dua minggu ke depan. Keputusan ini diambil setelah Rapat Evaluasi Penanganan Bencana menunjukkan bahwa 18 kabupaten/kota di Sumut masih belum berada dalam kondisi aman, dan memerlukan perhatian serius.

Ketua Harian Posko Darurat Bencana Sumut Basarin Yunus Tanjung, menyatakan perpanjangan status ini krusial untuk menyempurnakan dan mempercepat tindakan tanggap darurat di wilayah terdampak.

"Kita merekomendasikan untuk memperpanjang status darurat bencana di beberapa kabupaten selama dua minggu ke depan. Dari rapat evaluasi, masih ada 18 kabupaten/kota yang belum menyatakan daerahnya aman dari ancaman bencana ini," ujar Basarin di Posko Darurat Bencana Sumut, Rabu (10/12/2025).

Beberapa wilayah yang direkomendasikan perpanjangan status antara lain Tapanuli Selatan (Tapsel), Tapanuli Tengah (Tapteng), Sibolga dan Langkat.

Curah hujan yang masih tinggi, seperti yang terjadi di Desa Garoga (Tapsel), menjadi salah satu alasan utama mengapa langkah tanggap darurat tetap mutlak diperlukan.

Logistik Disiapkan Hadapi Cuaca Ekstrem

Selain perpanjangan masa darurat, rapat evaluasi juga fokus pada persiapan logistik untuk mengantisipasi prakiraan cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi antara tanggal 8 hingga 15 Desember 2025.

"Kami mempersiapkan langkah distribusi logistik, baik dari posko di provinsi hingga kabupaten, untuk menghadapi prakiraan curah hujan yang cukup tinggi," tambah Basarin.

Prioritas penanganan saat ini meliputi percepatan penanganan pengungsi dan pelayanan kesehatan serta pendidikan. Pemulihan fasilitas vital (listrik, air bersih). Kemudian pemulihan jaringan distribusi logistik ke area terdampak.

Diketahui, akses menuju beberapa desa terdampak masih sangat terbatas dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki, menyoroti tantangan besar dalam upaya pemulihan di lapangan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya