Asik Fashion Connect 2025, Jurus Sederet Brand Fesyen Indonesia Pikat Hati Pembeli Global

Mengandalkan narasi keberlanjutan dan wastra, jenama-jenama fesyen lokal didorong menghadapi tantangan ekspor.

oleh Faqih Nur ImanDiterbitkan 27 Desember 2025, 15:00 WIB
Penampilan jenama fesyen lokal di acara ASIK 2025 (Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia) (dok. Liputan6.com/Faqih Nuriman)

Liputan6.com, Jakarta - Melalui program Asik Fashion Connect 2025, Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) memfasilitasi 12 brand fesyen lokal unjuk koleksi di depan para pembeli internasional. Keduabelasnya adalah Rengganis, KaIND, ASTIGA LEATHER X Rubysh, BRILIANTO, dots Indonesia, Batik Widayati, Anantari X GLOESHOES, ALRAFI, APIKMEN, dan maima.

Acara ini dirancang sebagai langkah membangun ekosistem ekspor yang berkelanjutan. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf), Irene Umar, mengajak seluruh pihak bersinergi.

"Mari kita saling terhubung, berkolaborasi, dan bersama-sama mendorong karya kreatif Indonesia menuju panggung global," ucap Irene di Jakarta, 9 Desember 2025.

Di kesempatan yang sama, Direktur Fashion Kemenekraf Romi Astuti mengatakan, "Sejak awal tahun, para peserta telah melalui rangkaian proses peningkatan kapasitas, mulai dari kurasi, workshop, sampai coaching intensif."

Ia menambahkan, kesiapan mental dan strategi bisnis juga jadi prioritas, selain desain produk. "Hari ini, mereka hadir dengan kompetensi yang lebih kuat, produk lebih menantang, serta visi yang lebih jelas dalam menembus pasar global," menurut Romi.

Meski peluang terbuka lebar, pelaku usaha fesyen menghadapi tantangan nyata dalam memetakan selera pasar global yang beragam. Resky Noviana, pendiri Anantari, mengatakan bahwa menentukan negara tujuan ekspor harus dilakukan setelah riset mendalam.

"Misalnya, aku menyasar (pasar) Malaysia, apakah benar Malaysia cocok buat kami? Nah, itu sebenarnya kami masih butuh pendampingan," kata dia. "Tantangan buat ekspor itu cari buyer yang tepat, karena selera setiap negara berbeda."

Realitas dan Tantangan Ekspor

Resky Designer Anantari dalam acara ASIK (dok. Liputan6.com/Faqih Nuriman)

 

Strategi spesifik juga dibutuhkan untuk menembus pasar negara maju, seperti Jepang. Rengganis, desainer spesialis bordir, berencana mengubah model bisnisnya agar lebih skalabel. 

"Harapannya adalah langkah maju dari yang menjual langsung ke pelanggan, jadi mendapatkan pembeli supaya bisa grosir," ujarnya. Sementara itu, Nabella dari GloeShoes memanfaatkan celah pasar yang sering ditinggalkan produk massal impor.

"Kebanyakan market membeli produk sepatu boots dari luar negeri. Pasar Indonesia sendiri masih belum memenuhi permintaan tersebut," jelas Nabella mengenai strategi segmen pasarnya.

Di kancah internasional, narasi keberlanjutan dan wastra Nusantara menjadi daya tawar utama jenama Indonesia. Pasar global kini menuntut transparansi material dan etika lingkungan yang kuat.

Kekuatan Narasi Keberlanjutan dan Wastra

Penampilan jenama fesyen lokal di acara ASIK 2025 (Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia) (dok. Liputan6.com/Faqih Nuriman)

Melie Indarto, pendiri jenama KaIND, menjelaskan keunggulan bahan bakunya yang menarik minat pembeli Amerika Serikat. "Kami menggunakan serat alam langsung dari petani serat Indonesia, dari serat rami, serat nanas, hingga serat sutra eri," papar Melie. 

Kualitas unik ini membuat pembeli datang secara organik. "Mereka yang approach kami dari website terus menyampaikan kebutuhan, kirim sampel, mereka suka, dan lanjut produksi," tambahnya.

Inovasi daur ulang juga menjadi primadona di panggung dunia. Perwakilan jenama Rubysh, Resti, berbagi kesuksesan produk perhiasan dari limbahnya. "Rubysh itu sebenarnya adalah recycle jewelry brand, koleksi yang laku banget kemarin di Paris," ujarnya.

Senada dengan itu, Brilianto menegaskan perannya dalam menyentuh isu lingkungan lewat mode. "Kami adalah pemecah masalah, mengurangi limbah dan mengubahnya menjadi produk yang dapat digunakan," tegasnya.

Sinergi Dukungan Pemerintah dan Masa Depan Fesyen

Penampilan jenama fesyen lokal di acara ASIK 2025 (Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia) (dok. Liputan6.com/Faqih Nuriman)

Keberhasilan ekspor tak lepas dari intervensi pemerintah dalam memberi pendampingan teknis terkait regulasi internasional. Kemenekraf fokus membekali jenama dengan pemahaman aturan ekspor yang rumit, seperti standar pelabelan Uni Eropa. 

Romi mengatakan, "Kita tahu Uni Eropa menerapkan aturan labeling ekspor. Itu menjadi salah satu materi kita, bagaimana labeling dan sizing tiap negara berbeda."

Irene melihat potensi besar Indonesia sebagai pusat mode masa depan jika konsisten dengan nilai-nilai ini. "Kita punya peluang untuk jadi pusat mode dunia, terutama di bidang dua hal, modest fashion dan sustainable fashion," katanya optimis.

"Karena kita men-support suatu values. Itulah tren terbaru yang saya rasakan pada ekonomi kreatif," tambahnya.

Resky merasakan langsung manfaat program inkubasi ini. "Kemarin kami ditemukan dengan buyer. Harapan kami tetap dicarikan buyer yang tepat," tandasnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya