Tumpukan Kayu Pasca Banjir di Pantai Padang: Penyebabnya Masih Dicari, Sampel Telah Diambil

Balai KSDA Sumatera Barat bersama tim gabungan Mabes Polri, Polda, dan pihak terkait sedang menyelidiki asal-usul tumpukan kayu dalam jumlah besar yang memenuhi pantai Kota Padang pascabanjir bandang.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 09 Desember 2025, 18:31 WIB
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatra Barat, Hartono di Posko Penanggulangan Bencana Banjir Kementerian Kehutanan (Kemenhut) di Padang. (Foto: Liputan6.com/Winda Nelfira).

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatra Barat, Hartono mengatakan, pihaknya menyelidiki asal-usul kayu yang menumpuk di sepanjang pantai Kota Padang pascabanjir bandang yang menerjang.

"Kami UPT bersama dengan tim PKH, penerbitan kawasan hutan, tim Mabes Polri, tim Polda, semuanya secara kolaborasi untuk bisa mendeteksi sebenarnya apakah terhadap kayu-kayu yang ada di sepanjang pantai ini, itu hasil illegal logging atau karena memang terbawa oleh arus banjir bandang yang terjadi," kata dia di Posko Penanggulangan Bencana Banjir Kementerian Kehutanan (Kemenhut) di Padang, Selasa (9/12/2025).

Hartono pun tidak ingin berspekulasi sebelum hasil pemeriksaan tuntas. Karenanya, tim gabungan telah dikerahkan untuk mengumpulkan sampel kayu guna uji forensik kehutanan.

Dia membeberkan, tim telah mengambil sampel kayu dari beberapa titik untuk dicocokkan dengan sumber tegakan di kawasan hulu. Proses ini dilakukan untuk memastikan jalur asal dan penyebab utama keberadaan kayu yang menumpuk di pesisir Kota Padang.

 

"Kami juga melakukan kegiatan monitoring terkait dengan hulu daripada Palembayan dan Kota Padang," kata Hartono.

Dia mengungkapkan, alasan pentingnya mengetahui material kayu yang berada di pantai Kota Padang tersebut.

"Apakah memang benar bahwa kayu-kayu yang ada di pantai, sepanjang pantai itu asal-usulnya dari hulu,” ungkap Hartono.

Dia menuturkan, koordinasi lintas lembaga masih berlangsung guna mengurai sebab utama peristiwa banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatera Barat, selain tingginya curah hujan.

"Prinsipnya sampai hari ini kami selalu berkoordinasi dengan tim PKH, dengan tim Mabes Polri, dengan tim Polda untuk bisa mengurai sebenarnya permasalahannya seperti apa, apa yang menyebabkan," kata Hartono.

Pemkot Padang Terus Bersihkan 3.327 Ton Sampah di Pantai

Pemerintah Kota (Pemkot) Padang, Sumatera Barat (Sumbar) masih terus bergerak untuk membersihkan sampah yang berapa di sejumlah titik sebanyak 3.327 ton sampah yang harus segera dievakuasi demi keamanan pantai dalam waktu sembilam hari.

"Meski volumenya sangat besar, tidak semua material perlu diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)," ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang, Fadelan Fitra Masta dikutip dari Antara, Rabu (3/12/2025).

Fadelan menegaskan, total dari tumpukan sampah yang fantastis mencapai 3.327 ton itu mencakup backlog lima hari, sampah spesifik bencana yang diakibatkan dari pemukiman yang terdampak.

"Serta kayu gelondong dalam jumlah besar yang terbawa dari hulu sungai, mengakibatkan beberapa titik di pantai ini menjadi lautan kayu, beban sampah yang terbesar adalah kayu gelondongan yang diperkirakan mencapai 1.100 ton," kata Fadelan.

Namun, DLH menyatakan bahwa angka sampah yang harus diangkut tidak sampai separuhnya, karena ada beberapa manfaat bagi kawasan pesisir dari hasil pascabencana tersebut.

Masyarakat di kawasan pesisir juga membantu mengevakuasi sampah-sampah kayu yang berserakan di pesisir panti, namun ada maksud lain dari masyrakat pesisir untuk memungut sampah-sampah tersebut.

Kayu-kayu yang diangkut oleh pesisir pantai itu memanfaatkan kayu tersebut sebagai pelaku usaha kecil yang menggunakan sebagai bahan bakar untuk produksi

"Kami berupaya agar tidak semua sampah kayu masuk ke TPA. Selain dimanfaatkan oleh masyarakat, sebagian besar akan kami salurkan ke PT Semen Padang sebagai bahan bakar alternatif," ucap Fadelan.

Harapan dari Langkah yang Optimal

Petugas Lembaga Pengelola Sampah (LPS) dan bank sampah menyampaikan, sejak hari pertama pemulihan pascabencana, mereka langsung menerapkan pemilahan langsung di tempat kejadian, sehingga material yang didapatkan sebagian segera dimanfaatkan kembali melalui pendekatan 3R (reduce, reuse, recycle).

Langkah tersebut menjadi bantuan untuk mengurangi tekanan pada armada dan mempercepat proses dalam menormalisasi layanan.

Dan juga untuk memastikan bahwa penanganan ini bukan hanya secara cepat, tetapi dengan secara efisien dan berawasan lingkungan.

Dengan langkah yang optimal, pemanfaatan ulang material ini diyakini menjadi targetmya dalam sembilan hari dapat tercapai. zona penanganan juga di sebarluaskan di setiap area yang terdampak, agar memporel penanganan yang terstruktur, terukur, dan tepat waktu sesuai yang ditargetkan.

"Seluruh langkah ini dilakukan untuk memastikan pemulihan Kota Padang berlangsung cepat tanpa mengabaikan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan sampah," jelas dia.

Dari langkah-langkah yang dilakukan ini harapannya adalah untuk memelihara lingkungan sekitar pantai dan untuk memastikan setiap sampah yang diangkut sudah dipilah agar tetap terstruktur dan tidak berantakan.

Masyarakat pun juga punya harapan dibalik bencana yang terjadi, karena setiap kayu yang dipilah bisa dihasilkan sebagai sesuatu yang bermanfaat untuk kedepannya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya