Liputan6.com, Wellington - Seorang remaja asal Selandia Baru yang masih berusia 14 tahun menjadi pecandu rokok elektrik selama tiga tahun akibat pergaulan dari teman-temannya. Dalam seminggu, sebanyak empat vape sekali pakai bisa dihabiskan hingga perlahan membuat kesehatannya menurun.
LeeRay King yang kini berusia 17 tahun berjanji tidak akan menyentuh benda yang biasa dikenal sebagai vape ini setelah menjalani operasi tiga kali untuk mengangkat paru-paru yang menghitam dan mengerut.
Advertisement
Kebiasaan vaping ini dimulai sejak usia 14-16 tahun, membuatnya harus mengalami rasa sakit yang luar biasa pada dada sebelah kiri hingga kesulitan bernapas dalam beberapa bulan, dilansir dari The Mirror, Rabu (10/12/2025).
Keputusan untuk melakukan operasi ini bermula dari rasa sakitnya yang kambuh di tengah malam pada bulan Agustus. Ibunya, Kylee Jope, segera membawa putranya ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan dan mencari penyebab dari nyeri di bagian dadanya.
Terbukti Paru-Paru Kiri Rusak Parah
Hasil pemeriksaan rontgen serta elektrokardiogram menunjukkan bahwa paru-paru kirinya tidak dapat mengembang secara normal karena kebocoran udara antara paru-paru dan dinding dada, di mana penyakitnya ini disebut sebagai pneumotoraks.
Meskipun melakukan pengobatan dan rutin mencatat perkembangan paru-parunya, kondisi dan rasa sakitnya yang sama terjadi lagi setelah empat bulan berikutnya hingga menyebabkan kolaps sebanyak empat kali.
Tindakan yang dapat membantu pernapasannya kembali nyaman harus ditangani dengan pembedahan, ia melakukan operasi pengambilan jaringan yang rusak, yaitu paru-paru kiri yang tidak berfungsi kembali dengan tanda perubahan warna menjadi hitam.
Langkah Pengangkatan Paru-Paru yang Rusak
Serangkaian operasi dilakukan sebanyak tiga kali oleh dokter bedah. Prosedur pertama pun dilakukan dengan menempelkan paru-paru pada dinding dada agar tidak kembali kolaps, kemudian pengangkatan lapisan dinding dada yang dikenal sebagai pleurektomi, dan yang terakhir mengangkat sebagian paru-paru yang menghitam dan rusak.
Potongan dari bagian paru-paru tersebut diamankan dalam kantong plastik medis dan keluarganya berencana untuk menguburnya di taman rumah yang akan ditanam pohon di atasnya sebagai simbol jika seseorang telah melalui masa-masa kritisnya.
Selama proses pemulihan, ia menyadari betapa bahayanya vaping dan kini aktif memberikan edukasi kepada orang lain atau generasi muda terhadap potensi risiko bagi kesehatan.
Pengalaman menyakitkan yang juga menyerang fisiknya ini menjadi pelajaran untuk merubah gaya hidupnya yang lebih sehat, dan juga tersimpan harapan agar tidak ada anak muda yang mengalami penderitaan yang sama.
"Saya tidak ingin mereka mengalami apa yang telah saya lalui dari efek kecanduan vape. Itu adalah penderitaan yang seharusnya tidak dialami oleh siapa pun di usia muda dan saya tidak akan pernah menyentuh vape lagi," ucapnya.