Liputan6.com, Jakarta - Pasar otomotif, khususnya roda emapt yang belum membaik, bahkan cenderung turun hingga Oktober 2025, membuat Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) akhirnya melakukan revisi target penjualan mobil baru pada 2025 menjadi 780n ribu unit. Angka tersebut, tentu saja berkurang sekitar 100 ribuan unit, dibanding target awal tahun yang mencapai 850 ribu hingga 900 ribu unit.
"Sudah kami revisi, menjadi 780 ribu unit," ujar Jongkie D Sugiarto, Ketua I Gaikindo, saat dikonformasi Liputan6.com, Senin (8/12/2025).
Advertisement
Namun, Jongkie sendiri tidak memberikan informasi lebih detail, terkait alasan akhirnya melakukan revisi target, dan menetapkan angka 780 ribu unit. Jumlah tersebut, bahkan lebih kecil dibanding pencapaian tahun lalu, yang mencapai 865.723 unit untuk whole sales dan 889.680 unit untuk retail sales.
Namun, jika berbicara data Gaikindo sendiri, penjualan mobil hingga Oktober 2025, hanya mencapai 633.844 unit untuk whole sales dan retail sales mencapai 660.659 unit.
Angka tersebut, lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak 711.064 unit untuk wholesale sales, dan 731.113 unit untuk penjualan ritel.
Sebelumnya, Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika mengatakan, terkait optimisme pasar, dengan adanya pameran otomotif seperti GJAW 2025, setidaknya bisa mengangkat penjualan hingga akhir tahun.
Berbagai program juga dihadirkan di pameran yang berlangsung 21 hingga 30 November 2025 ini, dan berharap bisa mengkerek penjualan roda empat, di sisi bulan tahun ini.
"Kami berharap berbagai program tersebut akan menciptakan momentum penjualan yang masif sekaligus menjadi pendorong penting bagi industri nasional menjelang tutup tahun," jelas Putu, saat seremoni pembukaan GJAW 2025, beberapa waktu lalu.
Insentif Mobil Listrik Disetop, Dialihkan untuk Proyek Mobil Nasional
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menegaskan, pemerintah akan setop insentif mobil listrik pada tahun depan. Kemudian, anggaran untuk insentif tersebut, akan dialihkan ke proyek mobil nasional.
Selain itu, Airlangga juga menyampaikan jika pemerintah sudah mengucurkan dana untuk insentif sekitar RP 7 triliun untuk mobil listrik.
Ditambah lagi, perkembangan industri roda empat bertenaga baterai ini sudah semakin bergerak dengan komitmen pembangunan pabrik di Tanah Air.
"Kita sudah memberikan fasilitas agar industri EV ini bergerak besarnya sebesar Rp 7 triliun," kata Airlangga dalam Indonesia Connect Outlook 2026, di The Hall Senayan City, SCTV Tower, Jakarta Pusat.
Airlangga melanjutkan, kehadiran pabrik mobil listrik di Indonesia, akan membuat biaya yang dikeluarkan perusahaan semakin kecil.
Apalagi, akan ada peralihan dari impor complitely built up (CBU) menjadi completely knock down (CKD).
Bea masuk CKD, kata Airlangga, lebih kecil ketimbang CBU yang dilakukan sebelumnya.
"Jadi dengan adanya pabrik tentu cost mereka akan lebih murah karena mereka bisa menikmati yang namanya CKD," ucapnya.