Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik sebagian besar menguat pada perdagangan Senin, (8/12/2025). Pergerakan bursa saham Asia Pasifik melesat seiring investor menanti data perdagangan dari China yang akan dirilis awal pekan ini.
Mengutip CNBC, ekonom yang disurvei oleh Reuters memprediksi ekspor China pada November naik 3,8% dari tahun sebelumnya, membalikkan kontraksi 1,1% pada Oktober. Impor diperkirakan naik 3% pada periode sama, menguat dari 1% pada bulan sebelumnya.
Advertisement
Indeks Nikkei 225 di Jepang menguat 0,18%. Indeks Topix bertambah 0,15%. Indeks Kospi di Korea Selatan melesat 0,2% dan indeks Kosdaq diperdagangkan naik 0,37%.
Revisi yang dirilis oleh Tokyo pada Senin menunjukkan ekonomi Jepang menyusut lebih tajam antara Juli dan September daripada perkiraan awal.
Data resmi menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal ketiga turun pada tingkat tahunan sebesar 2,3%, lebih buruk dari perkiraan median ekonomi sebesar 2% dan pembacaan awal penurunan sebesar 1,8%.
Indeks ASX/S&P 200 di Australia melemah 0,17%. Investor akan mencermati keputusan Bank Sentral Australia yang akan datang saat bank sentral itu memulai pertemuan dua harinya.
Berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap ekonomi, Bank Sentral Australia akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,6% pada Selasa, 9 Desember 2025. Suku bunga itu diprediksi tetap di posisi itu hingga 2026.
Sementara itu, kontrak berjangka untuk Indeks Hang Seng Hong Kong menunjukkan pembukaan lebih tinggi diperdagangkan di level 26.121, dibandingkan penutupan indeks sebelumnya di level 26.085,08.
Di wall street, tiga indeks acuan ditutup menguat seiring pasar mencerna serangkaian rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang baru. Indeks S&P 500 naik tipis sehingga mencatat kenaikan dalam empat hari berturut-turut. Indeks S&P 500 ditutup menguat 0,19% di level 6.870,40 dan menempatkan indeks sekitar 0,7% di bawah rekor intraday-nya.
Indeks Nasdaq bertambah 0,31% menjadi 23.578,13. Sementara itu, indeks Dow Jones menguat 104,05 poin atau 0,22% menjadi 47.954,99.
Wall Street Melonjak Usai Rilis Data Inflasi AS
Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street kompak menguat pada perdagangan Jumat, 5 Desember 2025. Indeks S&P 500 naik tipis dan melanjutkan kenaikan dalam empat hari berturut-turut.
Kenaikan indeks saham acuan didorong pelaku pasar yang mencerna dana inflasi yang dapat memberikan insentif lebih lanjut bagi the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS untuk menurunkan suku bunga pekan depan.
Mengutip CNBC, Sabtu (6/12/2025), indeks S&P 500 ditutup menguat 0,19% ke posisi 6.870,40. Indeks acuan ini sekitar 0,7% di bawah rekor intraday-nya. Selain itu, indeks Nasdaq bertambah 0,31% dan ditutup ke posisi 23.578,13. Indeks Dow Jones menguat 104,05 poin atau 0,22% ke posisi 47.954,99.
Wall street mencatat kenaikan untuk minggu ini. S&P 500 ditutup menguat 0,3% minggu ini, sementara Nasdaq dan 30 saham Dow Jones masing-masing naik hampir 1% dan 0,5%.
Rilis Data Ekonomi Baru
Pasar kembali membaca serangkaian rilis data ekonomi baru pada Jumat. Departemen Perdagangan mengatakan, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti untuk September, yang tertunda karena penutupan pemerintah AS yang memecahkan rekor – menunjukkan tingkat tahunan sebesar 2,8%, lebih rendah dari estimasi Dow Jones sebesar 2,9%.
Kenaikan PCE inti sebesar 0,2% pada bulan tersebut sejalan dengan ekspektasi, demikian pula pembacaan inflasi bulanan dan tahunan untuk PCE utama.
Selain itu, survei konsumen Universitas Michigan, sebuah laporan yang memberikan gambaran sekilas tentang sentimen serta pandangan inflasi dalam jangka pendek dan jangka panjang, keluar lebih tinggi dari perkiraan untuk Desember.
Peluang Penurunan Suku Bunga
Laporan PCE, yang berfungsi sebagai pengukur inflasi utama The Fed, memberikan bank sentral pandangan inflasi terakhirnya sebelum pemungutan suara suku bunga pada Rabu.
Dengan inflasi yang rendah, lapangan kerja tetap menjadi fokus utama setelah laporan terbaru menunjukkan tanda-tanda pelemahan di pasar tenaga kerja. Investor berharap hal ini akan memengaruhi bank sentral untuk menurunkan suku bunga acuannya sebesar seperempat poin persentase ketika mengumumkan keputusan tersebut pada hari Rabu.
Para pedagang memperkirakan peluang penurunan suku bunga sebesar 87% pada Rabu mendatang, jauh lebih tinggi daripada beberapa minggu yang lalu, menurut alat CME FedWatch. Suku bunga acuan dana federal saat ini ditargetkan antara 3,75%-4%, diperdagangkan mendekati batas atas kisaran tersebut di tengah tekanan yang berkelanjutan di pasar pendanaan jangka pendek.
“Saya pikir ini benar-benar memperkuat apa yang telah diperkirakan pasar, yang hampir pasti akan terjadi penurunan suku bunga minggu depan,” ujar wakil presiden manajemen portofolio di Mercer Advisors, David Krakauer kepada CNBC.
“Jika inflasi tetap relatif terkendali dan berpotensi menurun, lalu bagaimana prospek penurunan suku bunga lebih lanjut di awal tahun depan?”