Liputan6.com, Jakarta - Gelombang hujan ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra sejak akhir November 2025 memicu banjir bandang dan longsor berskala besar. Tercatat ratusan korban jiwa, ribuan rumah rusak, akses jalan terputus, dan ribuan warga mengungsi.
Bencana ini menimbulkan kerugian yang luar biasa. Bahkan dampak jangka panjangnya juga memukul aktivitas ekonomi masyarakat. Situasi darurat memicu keprihatinan berbagai pihak, termasuk Gekrafs (Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional) yang memiliki jaringan wilayah kuat di Sumatra.
Advertisement
Ketua OKK & Pengembangan Wilayah DPP Gekrafs, Arifin Ihsan Rismansyah, menyampaikan empati mendalam. Baginya, apa yang terjadi di Sumatra bukan sekadar berita bencana melainkan pukulan yang terasa secara personal.
“Saya kecil dan tumbuh di Sumatra. Tidak mungkin saya diam melihat saudara-saudara kita di sana berjuang menghadapi bencana,” ujarnya dalam keterangan diterima, Sabtu (6/12).
Arifin menegaskan bahwa Gekrafs ikut menyalurkan bantuan untuk para korban, baik materi dan perbantuan relawan. Gekrafs juga mengaktifkan jalur koordinasi antarwilayah untuk memetakan kebutuhan prioritas di lapangan.
Sementara donasi yang dikumpulkan difokuskan pada bantuan pokok seperti makanan, pakaian layak pakai, alat kebersihan, dan pendampingan psikososial untuk anak serta keluarga korban.
Arifin menegaskan bahwa bantuan ini harus tepat sasaran, transparan, dan diberikan dengan penuh hormat kepada para korban.
Pemulihan Ekonomi
Selain bantuan darurat, Arifin menambahkan Gekrafs berencana memberikan perhatian khusus kepada pelaku usaha terdampak. Banyak UMKM yang tidak dapat beroperasi akibat kerusakan atau terputusnya aktivitas ekonomi. Arifin menilai pemulihan ekonomi mikro pascabencana sangat penting untuk memulihkan kehidupan warga.
Ia mengajak seluruh pengurus wilayah Gekrafs serta komunitas kreatif di seluruh Indonesia untuk bergotong royong. Menurutnya, sekecil apa pun kontribusi, jika dilakukan bersama-sama, akan memberi dampak besar.
“Kita tidak perlu menunggu punya banyak untuk membantu. Yang penting adalah niat, gerak, dan kebersamaan,” ujarnya.
Arifin berharap gerakan solidaritas ini dapat membawa harapan bagi Sumatera dan menguatkan kembali semangat warga yang sedang bangkit dari bencana. Ia percaya bahwa kekuatan komunitas kreatif bukan hanya dalam menciptakan karya, melainkan dalam kepekaan sosial dan rasa keluarga.