Liputan6.com, Timika: Suku Dani di Timika, Papua, sebenarnya tinggal di tanah yang kaya dengan kandungan emas dan tembaga. Namun, mereka seolah tak bisa menikmati kekayaannya sendiri. Tengok saja, sebagian besar lahan pertambangan dikuasai PT Freeport asal Amerika Serikat. Sementara mereka cuma bisa mendulang di aliran sungai, sekitar 100 meter di luar areal pertambangan Freeport. Ini sesuai kesepakatan kepala suku setempat dengan Freeport setelah pemberlakukan Otonomi Khusus di Papua. Demikian pemantauan SCTV di Timika, baru-baru ini.
Di antara warga Suku Dani pendulang emas adalah Kieru Sitai. Untuk mendapatkan emas 4-5 gram, dia mesti rela tinggal di tenda di sekitar sungai selama sepekan. Di akhir pekan, Kieru pergi kota untuk menjual emas dengan harga Rp 70 ribu per gram. "Satu minggu dulang, satu minggu turun [ke kota] menjual hasil dulang," kata Kieru.
Sebenarnya, aktivitas PT Freeport juga merugikan lingkungan sekitar. Limbah tailing dari Freeport mengandung beberapa unsur berbahaya yang mencemari sebagian aliran sungai di kawasan Timika [baca: Masalah Tailing Freeport Belum Ditemukan Solusinya].
Tak cuma itu saja. Tindak kekerasan terhadap perempuan di pedalaman Kabupaten Mimika, Papua, meningkat sejak kehadiran PT Freeport. Bahkan, aktivis dari Yayasan Hak Asasi dan Kemanusian, Mama Yosefa mengaku sempat dipenjara dan dimasukkan ke dalam kontainer lantaran menuntut PT Freeport menghargai hak adat setempat [baca: Kekerasan Atas Perempuan Pedalaman Papua Masih Tinggi].(ZAQ/Imelda Sari dan Dwi Guntoro)
Di antara warga Suku Dani pendulang emas adalah Kieru Sitai. Untuk mendapatkan emas 4-5 gram, dia mesti rela tinggal di tenda di sekitar sungai selama sepekan. Di akhir pekan, Kieru pergi kota untuk menjual emas dengan harga Rp 70 ribu per gram. "Satu minggu dulang, satu minggu turun [ke kota] menjual hasil dulang," kata Kieru.
Sebenarnya, aktivitas PT Freeport juga merugikan lingkungan sekitar. Limbah tailing dari Freeport mengandung beberapa unsur berbahaya yang mencemari sebagian aliran sungai di kawasan Timika [baca: Masalah Tailing Freeport Belum Ditemukan Solusinya].
Tak cuma itu saja. Tindak kekerasan terhadap perempuan di pedalaman Kabupaten Mimika, Papua, meningkat sejak kehadiran PT Freeport. Bahkan, aktivis dari Yayasan Hak Asasi dan Kemanusian, Mama Yosefa mengaku sempat dipenjara dan dimasukkan ke dalam kontainer lantaran menuntut PT Freeport menghargai hak adat setempat [baca: Kekerasan Atas Perempuan Pedalaman Papua Masih Tinggi].(ZAQ/Imelda Sari dan Dwi Guntoro)