Puan Maharani Tanggapi Ajakan Patungan Beli Hutan: Ayo Gotong Royong Bantu Korban Banjir

Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan tanggapan soal adanya ajakan warganet untuk patungan membeli hutan di media sosial. Ajakan itu terjadi pasca terjadi bencana banjir Sunatera.

oleh Delvira HutabaratDiterbitkan 05 Desember 2025, 20:41 WIB
Ketua DPP PDIP Puan Maharani di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta. (Foto: Merdeka.com/Alma Fikhasari).

Liputan6.com, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan tanggapan soal adanya ajakan warganet untuk patungan membeli hutan di media sosial. Ajakan itu terjadi pasca terjadi bencana banjir Sunatera.

"Ayo kita gotong royong, mengatasi bencana ini, dan ayo kita sama-sama membantu masyarakat yang terdampak," kata Puan di Bandung, Jawa Barat, Jumat (5/12/2025).

Sebelumnya, Puan Maharani meminta pemerintah untuk bijaksana dan empati dalam menanggapi atau menyikapi bencana banjir bandang di sejumlah wilayah Sumatera.

Hal tersebut disampaikan Puan menyikapi pernyataan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto yang menyebut bencana di Sumatera terlihat mencekam di media sosial saja.

"Ya pada saat ini lebih baik kita bisa berempati lebih baik daripada kemudian jangan memberikan komentar yang tidak seharusnya diberikan," kata Puan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (3/11/2025).

Puan menyebut situasi bencana saja sudah sudah menyulitkan, sehingga tidak seharusnya ditambah dengan komentar yang tidak mengenakkan dari pejabat.

"Karena memang situasinya musibah dimana-mana, kemudian bencana memang terjadi. Jadi sekecil apapun yang terjadi tentu saja ada korban yang memang mengalami hal yang tidak mengenakan," kata dia.

Data Korban Bencana Sumatera

Korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh mencapai 867 orang. Jumlah ini bertambah 91 dari data Kamis (4/12/2025) masih 776 korban tewas.

"Total di tiga provinsi ini, 867 korban meninggal dunia," jelas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari dalam konferensi pers, Jumat (5/12/2025).

Muhari merinci sebaran korban meninggal dunia tersebut. Di Sumatera Utara, kata dia, tercatat 312 orang meninggal dunia. Kemudian, di Aceh 345 dan Sumatera Barat 210 orang meninggal dunia.

Selain korban meninggal, Muhari menyebut masih ada 521 orang hilang akibat banjir dan longsor di Sumatera. Dari jumlah tersebut, 133 orang tercatat hilang di Sumatera Utara, 174 di Aceh, dan 214 di Sumatera Barat.

Muhari juga melaporkan data terbaru terkait jumlah warga yang mengungsi di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat.

Dia menyebut, khusus di Sumatera Utara, jumlah pengungsi mencapai 51.443 jiwa. Sementara di Aceh sebanyak 775.342 dan Sumatera Barat 22.354 jiwa mengungsi.

"Total pengungsi yang terdata di posko 849.193," kata Muhari.

Penyebab Banjir di Sumatera

Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan sekitarnya sejak 24 November 2025 bukan hanya akibat curah hujan ekstrem.

Ketua Program Studi Meteorologi ITB, Muhammad Rais Abdillah menyebut bencana besar ini terjadi karena interaksi tiga faktor. Pertama, kondisi atmosfer yang sangat aktif. Kedua, kerusakan lingkungan yang menurunkan daya resap tanah. Terakhir, melemahnya kapasitas tampung wilayah.

Rais Abdillah menjelaskan, wilayah Sumatera bagian utara memang sedang berada pada puncak musim hujan yang memiliki karakteristik berbeda dengan wilayah lain di Indonesia.

“Memang wilayah Tapanuli sedang berada pada musim hujan, karena Sumatera bagian utara memiliki pola hujan sepanjang tahun atau dua puncak hujan dalam satu tahun, dan saat ini berada pada puncaknya," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (28/11/2025).

Pada periode tersebut, curah hujan di wilayah lebih dari 150 milimeter. Bahkan ada stasiun BMKG yang mencatat lebih dari 300 milimeter dalam satu hari. Angka itu mendekati curah hujan ekstrem yang menyebabkan banjir besar Jakarta pada 2020.

Selain puncak musim hujan, Rais mengungkap adanya fenomena atmosfer yang memperkuat hujan ekstrem. Pada 24 November, terlihat pusaran atau vortex dari Semenanjung Malaysia yang kemudian berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka.

“Siklon ini memang tidak sekuat siklon Samudra Hindia, tetapi cukup untuk meningkatkan suplai uap air, memperkuat pembentukan awan hujan, dan memperluas cakupan presipitasi di Sumatera bagian utara,” jelasnya.

Dia menambahkan, indikasi cold surge vortex dan sistem skala meso turut mendorong terbentuknya awan hujan besar sehingga intensitas presipitasi meningkat tajam.

Dari sisi geospasial, penurunan tutupan vegetasi, perubahan fungsi lahan, dan menurunnya kapasitas tampung lingkungan menjadi faktor yang memperburuk kondisi banjir di lapangan.

Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Heri Andreas, menegaskan bahwa besar kecilnya kerusakan akibat hujan tidak hanya ditentukan oleh intensitas curah hujan.

"Banjir bukan hanya soal hujan. Ini soal bagaimana air diterima, diserap, dan dikelola oleh permukaan bumi," ujarnya.

Menurutnya, kawasan berhutan memiliki kemampuan infiltrasi yang tinggi. Jika area tersebut berubah menjadi permukiman, perkebunan intensif, atau lahan terbuka maka kehilangan kemampuan menyerap air.

"Ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah tersebut kehilangan kemampuan menahan limpasan. Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir," kata Heri.

Dia menilai peta bahaya banjir di Indonesia belum sepenuhnya akurat karena keterbatasan data geospasial dan pemodelan yang belum komprehensif. Padahal, perencanaan tata ruang berbasis risiko sangat penting untuk mencegah bencana serupa terulang.

Infografis Penanganan Bencana Banjir Bandang dan Longsor di Sumbar. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya