Uang Primer Tumbuh 13,3% jadi Rp 2.136,2 Triliun pada November 2025

Bank Indonesia (BI) menyatakan, pertumbuhan uang primer mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 05 Desember 2025, 18:15 WIB
Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat  uang primer (MO) adjusted pada November 2025 tumbuh 13,3% menjadi Rp 2.136,2 triliun. Pertumbuhan uang primer ini melanjutkan kenaikan dari bulan sebelumnya sebesar 14,4% YoY.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso menuturkan, perkembangan uang primer ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 24,2% (YoY) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 13,1% YoY.

"Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan MO adjusted telah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted),” kata dia dikutip dari laman BI, Jumat, (5/12/2025).

Adapun uang primer (M0) adjusted menggambarkan perkembangan uang primer yang telah mengisolasi dampak penurunan giro bank di Bank Indonesia akibat pemberian insentif likuiditas.

Bank Indonesia melakukan penyesuaian perhitungan M0 adjusted untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai perkembangan uang primer dan pengaruh dari kebijakan likuiditas yang dilakukan oleh Bank Indonesia mulai Januari 2025.

Gelontoran Rp 200 Triliun dari Purbaya Bikin Jumlah Uang Beredar Naik

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan, jumlah uang beredar meningkat berkat penyaluran dana saldo anggaran lebih (SAL) milik pemerintah, dan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM).

Seperti diketahui, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah menggelontorkan Rp 200 triliun dana SAL yang ditempatkan di Bank Indonesia kepada 5 bank Himbara, yakni Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN, dan BSI.

 

Total Insentif

Tumpukan uang di ruang penyimpanan uang BNI, Jakarta, Senin (2/11/2015). Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat jumlah rekening simpanan dengan nilai di atas Rp2 M pada bulan September mengalami peningkatan . (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara untuk KLM, total insentif yang diberikan hingga pekan pertama Oktober 2025 mencapai Rp 393 triliun. Sebanyak Rp 173,6 triliun disalurkan kepada bank Himbara, Rp 174,4 triliun untuk bank umum swasta nasional (BUSN), Rp 39,1 triliun kepada bank pembangunan daerah (BPD), dan Rp 5,7 triliun ke kantor cabang bank asing.

"Kebijakan moneter longgar dan penempatan dana SAL pemerintah di perbankan mendorong kenaikan jumlah uang beredar," ujar Perry, Rabu, 22 Oktober 2025.

Perry menjelaskan, pertumbuhan uang primer adjusted yakni uang primer yang telah memperhitungkan dampak penurunan giro wajib minimum (GWM) imbas pemberian KLM mencapai 18,58 persen secara tahunan (YoY) di September 2025.

"Lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan uang primer M0 tanpa memperhitungkan dampak KLM sebesar 13,16 persen year on year," imbuh dia.

 

Pelonggaran Kebijakan Moneter Berdampak

Tumpukan uang kertas pecahan rupiah di ruang penyimpanan uang "cash center" BNI, Kamis (6/7). Tren negatif mata uang Garuda berbanding terbalik dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mulai bangkit ke zona hijau. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di sisi lain, pelonggaran kebijakan moneter berdampak pada pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) meningkat dari 5,46 persen (YoY) pada Januari 2025 menjadi 7,59 persen (YoY) di Agustus 2025.

Dari sisi komponen, kenaikan pertumbuhan M2 dipengaruhi oleh pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1), dari 7,25 persen (YoY) pada Januari 2025 menjadi 10,51 persen (YoY) pada Agustus 2025.

Capaian itu sejalan dengan pertumbuhan uang kartal dari 10,30 persen pada Januari 2025, naik menjadi 13,41 persen pada Agustus 2025.

"Ke depan, jumlah uang beredar diperkirakan akan meningkat sejalan dengan ekspansi kebijakan fiskal pemerintah dan juga ekspansi likuiditas kebijakan moneter yang ditempuh oleh Bank Indonesia," tutur Perry.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya