Latih Man United dan Rawan Serangan Online, Ruben Amorim Ternyata Hindari Media Sosial

Ruben Amorim menjelaskan alasan menjauhi media sosial setelah investigasi BBC mengungkap ia menjadi target serangan online paling ekstrem di Inggris.

oleh Richard Andreas LuturmasDiterbitkan 04 Desember 2025, 02:00 WIB
Pelatih Manchester United, Ruben Amorim, bereaksi di pinggir lapangan saat pertandingan putaran kedua Piala Liga Inggris melawan Grimsby Town, Kamis (28-8-2025) dini hari WIB, di Hill Blundell Park, Grimsby, Inggris. (Nigel French/PA via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Ruben Amorim kembali menjadi sorotan setelah sebuah investigasi mengungkapkan besarnya tingkat serangan verbal yang ia terima secara daring.

Pelatih Manchester United itu tercatat sebagai figur yang mendapatkan pesan paling ekstrem di media sosial. Situasi tersebut membuat pendekatannya terhadap ruang digital semakin mendapat perhatian.

Temuan tersebut muncul setelah pertandingan United melawan Tottenham yang berakhir imbang. Di tengah tekanan hasil dan dinamika internal klub, Amorim menghadapi realitas lain berupa limpahan pesan bernada kebencian dari berbagai platform.

Dalam konferensi pers terbaru, Amorim memberikan penjelasan panjang mengenai alasannya menghindari media sosial. Ia menekankan bahwa langkah itu menjadi cara paling efektif untuk melindungi diri dan menjaga fokus pada pekerjaannya sebagai pelatih.


Temuan BBC dan Tekanan Ekstrem

Mason Mount diberi ucapan selamat setelah mencetak gol pembuka timnya dalam laga Liga Inggris antara Manchester United dan Sunderland di Old Trafford, 4 Oktober 2025. (AP Photo/Dave Thompson)

Investigasi BBC menunjukkan Amorim menjadi target abuse terbesar di akhir pekan tersebut. Ia menerima lebih dari 160 pesan yang digolongkan sebagai sangat kasar, mencakup ancaman dan ujaran kebencian. Data itu dikumpulkan dari sekitar dua ribu pesan bermasalah yang ditandai oleh perusahaan teknologi Signify.

Temuan tersebut menempatkan Amorim di puncak daftar figur sepak bola yang menerima serangan daring paling intens. Di bawahnya terdapat Arne Slot, pelatih Liverpool, yang juga menerima tekanan serupa. Insiden ini kembali menegaskan betapa terpaparnya pelatih terhadap reaksi ekstrem publik.

Situasi tersebut terjadi pada periode penuh tekanan bagi Manchester United. Hasil imbang dan kekalahan beruntun membuat atmosfer semakin tegang, termasuk bagi sang pelatih. Kondisi ini memberi konteks mengapa ia memilih untuk tidak membuka ruang bagi kritik berlebihan melalui media sosial.


Alasan Amorim Menjauhi Media Sosial

Benjamin Sesko (kiri) berhasil mencetak gol yang perdana bersama Manchester United, saat bersua Brentford pada laga pekan keenam Premier League di Gtech Community Stadium, London, Sabtu (28/9/2025) malam WIB. Sayangnya, gol Sesko tak mampu menghindarkan MU dari kekalahan 1-3 melawan Brentford. (AFP/JUSTIN TALLIS)

Dalam konferensi pers, Amorim menjelaskan sikapnya yang tegas terkait penggunaan media sosial. Ia menilai keputusan tersebut merupakan cara terbaik untuk menjaga keseimbangannya sebagai pelatih.

“Pertama-tama, saat ini hal semacam itu sudah normal di profesi apa pun. Ketika Anda berada di posisi yang terekspos seperti kami, semuanya menjadi lebih berat, tetapi saya tidak membacanya," ujar Amorim.

"Saya tidak berpura-pura, saya memang tidak membacanya [media sosial]. Saya melindungi diri dari semuanya. Saya tidak menonton TV ketika mereka membicarakan Manchester United, bukan karena saya tidak setuju. Saya setuju dengan banyak hal yang kalian katakan."

Lanjut Baca:

"Saat kami kalah atau imbang, saya tahu kami bermain buruk. Perasaan saya sebagai pelatih sudah cukup. Saya tidak butuh perasaan orang lain tentang klub. Jadi bagi saya, ini satu-satunya cara [menghindari medsos], tidak ada cara lain. Satu-satunya cara adalah melindungi diri saya," imbuh Amorim.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya