Keindahan Danau Singkarak Sebelum Dipenuhi Kayu Gelondongan di Tengah Banjir Sumbar

Dengan pesonanya, Danau Singkarak merupakan salah satu ikon wisata alam Sumbar.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 03 Desember 2025, 16:45 WIB
Dalam sepekan terakhir, warna air Danau Singkarak, Sumatera Barat, berubah menjadi keruh kehitaman. (Liputan6.com/Erinaldi)

Liputan6.com, Jakarta - Penampakan Danau Singkarak dipenuhi kayu gelondongan di tengah banjir Sumatera Barat (Sumbar) sedang jadi sorotan. Danau terbesar di provinsi tersebut membentang di antara Kabupaten Solok dan Tanah Datar.

Sebelum wajahnya berubah akibat banjir, melansir Indonesia.Travel, Rabu (3/12/2025), Danau Singkarak memukau lewat keindahan alam, air jernih, dan udara sejuknya yang membuat siapa pun betah berlama-lama. Pengunjung dapat menikmati pemandangan sambil bersantai maupun mencoba wisata perahu di danau ini.

Selain keindahannya, Danau Singkarak terkenal dengan ikan bilih, spesies ikan endemik yang hanya hidup di danau ini. Wisatawan bisa mencicipi olahan ikan bilih yang renyah nan lezat di warung sekitar danau. Dengan pesonanya, Danau Singkarak jadi salah satu ikon wisata alam Sumbar.

Danau ini dapat dicapai dari Bandara Internasional Minangkabau melalui dua arah. Satu dari Padang Panjang dengan jarak tempuh 77 km dalam waktu dua jam, sementara satu lagi dari Solok dengan jarak tempuh 92 km dalam waktu 2,5 jam.

Danau Singkarak terbentuk karena adanya proses tektonik dari Sesar Sumatra, rangkum Traveloka. Proses alam ini menyebabkan terjadinya cekungan besar yang terletak di Singkarak dan Solok.

Dengan bantuan material vulkanik yang membendung cekungan ini, terbentuklah danau seperti yang sekarang bisa kita nikmati panorama alamnya. Berbeda halnya dengan proses alam yang dialami Danau Maninjau yang merupakan danau terdekat dari lokasi Singkarak. Danau Maninjau terjadi karena adanya gempa vulkanik.

Tidak Semata Menawarkan Keindahan Alam

Danau Singkarak danau terbesar di Sumatera Barat (Liputan6.com/Erinaldi)

Selain keindahan panorama yang ditawarkan, Danau Singkarak juga digunakan sebagai lokasi event balap sepeda, Tour de Singkarak (TDS), setiap tahunnya. Danau ini dipilih sebagai lokasi balap sepeda karena jalurnya yang berkelok dan menukik tajam, termasuk tingkungan Sitinjak yang memacu adrenalin.

Mitos yang melekat erat di sebagian masyarakat setempat Danau Singkarak adalah adanya keberadaan makhluk tidak kasat mata yang menghuni danau Singkarak. Menurut kepercayaan warga setempat, para mahluk ini sering mengadakan perayaan pada saat Idul Adha.

Itulah mengapa banyak orang memilih untuk tidak berwisata ke Danau Singkarak saat Idul Adha. Masyarakat percaya hal itu agar tidak terjadi pergesekan dengan para "penghuninya" dan mencegah terjadinya peristiwa buruk yang mungkin saja akan terjadi.

Polemik Asal-usul Kayu Gelondongan

Danau Singkarak terkenal dengan kekayaan ikan bilih yang melimpah. Ikan bilih (mystacoleucus padangensis) merupakan jenis ikan endemik yang hidup di perairan Danau Singkarak dan menjadi salah satu sumber daya alam yang berharga. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, polemik asal-usul kayu gelondongan yang terseret banjir bandang di Sumatera tidak terhenti hanya dengan klarifikasi, lapor kanal News Liputan6.com. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) disentil Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel), Gus Irawan Pasaribu.

Ia geram karena Ditjen Gakkum Kemenhut Dwi Januanto Nugroho menyatakan tumpukan kayu gelondongan di tengah bencana diduga berasal dari tebangan lama yang sudah lapuk. Ia sempat mengakui bahwa kayu-kayu tersebut bisa berasal dari berbagai sumber, termasuk penebangan legal.

Kemenhut menegaskan dugaan sementara mengarah pada area Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT) di Areal Penggunaan Lain (APL). Gus Irawan dengan emosi menanggapi pernyataan Dwi, menyebut bahwa tidak benar kayu-kayu di sungai Batang Toru saat banjir bandang adalah bekas potongan yang sudah membusuk.

Bukan Kayu Lama Atau Busuk

Banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang wilayah Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, pada akhir November 2025 membawa material kayu gelondongan dalam jumlah besar. Operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan tim gabungan. Tampak dalam foto, seorang petugas penyelamat memimpin anjing pelacak dalam operasi pencarian korban banjir di Batang Toru, Sumatra Utara, Rabu 3 Desember 2025. (AP Photo/Binsar Bakkara)

Temuan di lapangan, kata Gus Irawan, menunjukkan kondisi kayu-kayu tersebut bukanlah kayu lama atau busuk. "Saya enggak ada tuh lihat yang ada daunnya, dahan, enggak ada. Makanya pernyataan dari Kementerian Kehutanan bahwa itu adalah kayu-kayu yang sudah busuk, lalu kemudian karena cuaca kayu tumbang, itu perlu dicek ulang," ujar dia.

Kemenhut juga sempat menyebut kayu-kayu besar itu bukan hasil dari pembalakan liar, melainkan dari izin legal melalui skema Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT). "Diduga izin PHAT telah diselewengkan pihak-pihak tertentu, sebagai pembalakan berizin," katanya.

Gus Irawan mengatakan, ia sempat menyurati Kemenhut pada 14 November 2025. Menurutnya, Kemenhut hanya menghentikan sementara izin PHAT dan kembali memberi izin pada Juli 2025.

Infografis Penanganan Bencana Banjir Bandang dan Longsor di Sumbar. (Liputan6.com/Abdillah)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya