Ini 8 Fitur Populer Android yang Ternyata Berasal dari Aplikasi Pihak Ketiga

Perjalanan Android dari sistem operasi dasar hingga menjadi ekosistem ponsel pintar yang matang tidak terlepas dari peran komunitas pengembang independent sebel

oleh Arief Ferdian MaulanaDiterbitkan 04 Desember 2025, 06:30 WIB
Ilustrasi Smartphone Android. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Liputan6.com, Jakarta - Android berkembang pesat dari sebuah sistem operasi dasar menjadi ekosistem ponsel pintar. Banyak fitur yang kini dianggap standar ternyata berawal dari munculnya berbagai aplikasi pihak ketiga oleh para pengembang independen, sebelum akhirnya diadopsi Google maupun produsen ponsel besar.

Berikut delapan fitur, sebagaimana dikutip dari Android Authority, Rabu (3/12/2025), yang lahir dari kreativitas pengembang pihak ketiga:

1. Always-On Display

Fitur Always-On Display (AOD) kini menjadi fitur bawaan sebagian besar ponsel Android, bahkan telah diikuti Apple. Namun sebelum panel AMOLED populer, pengguna hanya bisa memperoleh fungsi serupa melalui aplikasi pihak ketiga.

Salah satu yang paling dikenal adalah AcDisplay, yang menampilkan notifikasi dalam tampilan monokrom di layar gelap.

Meski konsumsi baterainya tinggi pada layar LCD, aplikasi ini memberi pengalaman serupa AOD modern sebelum Samsung, LG, dan sejumlah produsen lain mulai menghadirkan panel AMOLED.

2. File Manager

Android tidak memiliki file manager bawaan selama bertahun-tahun, sehingga pengguna mengandalkan aplikasi seperti ES File Explorer atau file manager buatan masing-masing produsen ponsel.

Google baru memperkenalkan solusi resmi pada 2017 melalui Files Go, yang kemudian berkembang menjadi Google Files. Aplikasi tersebut menjadi dasar bagi berbagai fitur pengelolaan data, termasuk teknologi berbagi file cepat Quick Share.

3. Sistem Tema Menyeluruh

Dukungan tema otomatis berbasis warna wallpaper yang kini dikenal lewat sistem warna Monet, hadir sejak Android 12. Namun jauh sebelum itu, komunitas ROM kustom sudah menghadirkan opsi tema yang dapat mengubah tampilan sistem dan aplikasi secara menyeluruh.

Platform seperti Substratum dan RRO Layers (dikembangkan Sony) menjadi andalan pengguna yang ingin memodifikasi tampilan perangkatnya. Inovasi tersebut kemudian menginspirasi sistem tema resmi Android yang kini menjadi identitas visualnya.

4. Navigasi Gestur

Navigasi berbasis gestur kini menjadi standar di Android, menggantikan tombol virtual yang sudah ada sejak generasi awal. Sebelum Google merilis sistem resminya, aplikasi seperti Swipe Navigation dan All-in-One Gestures menawarkan kontrol berbasis sapuan layar yang jauh lebih fleksibel.

Produsen seperti Samsung dan Xiaomi kemudian ikut mengembangkan gestur mereka sendiri sebelum akhirnya diseragamkan oleh Google.

5. Filter Cahaya Biru

Fitur Night Light yang membantu meredam cahaya biru pada malam hari merupakan adopsi resmi dari fungsi yang dulu hanya disediakan aplikasi pihak ketiga.

Aplikasi seperti Bluelight Filter dan Twilight populer sebagai alat untuk mengurangi ketegangan mata dan memberi opsi pengaturan warna yang lebih fleksibel. Kehadiran fitur resmi di seri Pixel pertama kemudian mendorong produsen lain mengikuti langkah serupa.

6. Fitur Screenshot Lanjutan

Sebelum fitur long screenshot, anotasi, dan screen recording hadir sebagai pembaruan standar, pengguna harus mengandalkan aplikasi pihak ketiga.

Aplikasi Stitch & Share membantu menyatukan banyak tangkapan layar menjadi satu halaman panjang, sedangkan AZ Screen Recorder menjadi pilihan populer untuk perekaman layar dengan kualitas tinggi, termasuk 60fps dan penyuntingan cepat.

Daftar Aplikasi Lainnya

7. Homescreen yang Dapat Dikustomisasi

Android identik dengan kebebasan kustomisasi, dan sebagian besar inovasi tersebut datang dari launcher pihak ketiga. Launcher seperti Nova Launcher dan Action Launcher memperkenalkan berbagai fitur yang kini umum ditemukan: pengaturan grid fleksibel, folder yang dapat diubah tampilannya, gestur untuk membuka panel notifikasi hingga dukungan ikon pihak ketiga.

Kemampuan tersebut kemudian diadopsi sebagian oleh launcher bawaan produsen ponsel.

8. Quick Share

Quick Share saat ini menjadi solusi berbagi file cepat lintas perangkat Android, Windows, hingga iOS. Quick Share awalnya dikenal sebagai Nearby Share pada 2020.

Namun jauh sebelum Google menghadirkan teknologi ini, aplikasi seperti SHAREit, Xender, dan SuperBeam sudah mengandalkan Wi-Fi Direct untuk pengiriman file berkecepatan tinggi menjadi solusi alternatif dari Bluetooth yang lambat.

Aplikasi seperti AirDroid dan Pushbullet juga pernah populer berkat kemampuannya menghubungkan ponsel dengan perangkat lain melalui antarmuka web. Meski akhirnya redup karena iklan dan isu keamanan, aplikasi-aplikasi tersebut membuka jalan bagi hadirnya Quick Share yang lebih stabil dan terintegrasi.

Infografis Android One: Satu Untuk Semua (Liputan6.com/Yoshiro)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya