Wajib Dihindari! Kesalahan Ini Bikin Bisnis Laundry Bangkrut

Salah satu faktor yang sering membuat bisnis laundry merugi adalah kecurangan yang dilakukan oleh karyawan.

oleh Septian DenyDiterbitkan 02 Desember 2025, 05:00 WIB
 Desain Usaha Laundry Minimalis

Liputan6.com, Jakarta Bisnis laundry di Indonesia tengah berkembang pesat seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akan layanan praktis dan efisien. Fenomena menjamurnya usaha laundry tidak lepas dari potensi pasar yang masih terbuka luas dan belum tergarap maksimal.

Dengan jumlah penduduk mencapai 283 juta jiwa, Indonesia saat ini hanya memiliki sekitar 506 outlet laundromat. Artinya, satu outlet harus melayani kurang lebih 565 ribu orang. Rasio ini sangat timpang jika dibandingkan dengan Malaysia, yang memiliki satu outlet untuk setiap 12 ribu jiwa. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa peluang bisnis laundry di Indonesia masih sangat besar.

Laundromat atau laundry self-service adalah tempat cuci pakaian mandiri, dimana konsumen dapat mencuci dan mengeringkan pakaian menggunakan mesin yang dioperasikan dengan koin, kartu, atau pembayaran digital. Konsep ini menawarkan efisiensi dan kebebasan bagi konsumen.

Namun, potensi besar tersebut bisa berubah menjadi masalah apabila pengelolaan bisnis tidak dilakukan dengan tepat.

Faktor Penyebab Kegagalan Bisnis Laundry

Pionir laundry self-service di Indonesia sekaligus Direktur PT Super Andalan Perkasa (SAP), Erna Tamin mengungkapkan beberapa penyebab utama kegagalan bisnis laundry.

Menurut Erna, salah satu faktor yang sering membuat bisnis laundry merugi adalah kecurangan yang dilakukan oleh karyawan. Ia menegaskan bahwa praktik seperti manipulasi nota konsumen, pembuatan laporan fiktif, hingga markup pembelian barang dapat menimbulkan kerugian besar bagi pemilik usaha.

“Kecurangan seperti memalsukan nota konsumen, membuat laporan fiktif, hingga markup pembelian barang adalah sebagian kecil dari perilaku yang dapat merugikan pemilik usaha,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi hal ini, Erna menekankan pentingnya sistem pembayaran cashless melalui e-payment.

Dengan cara ini, jumlah uang tunai yang dipegang karyawan dapat diminimalisir. Ia juga menyarankan agar pembelian kebutuhan laundry dilakukan langsung oleh pemilik usaha untuk menghindari penyalahgunaan.

 

 

Kesalahan Lain

Diketahui, masih tersisa sekitar Rp 50 triliun plafon KUR yang siap disalurkan hingga akhir tahun untuk mendorong aktivitas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Tampak dalam foto, warga menggunakan jasa layanan laundry pinggir jalan di Jakarta pada Sabtu 8 November 2025. (YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah penggunaan mesin rumah tangga untuk kebutuhan bisnis. Banyak pengusaha laundry yang karena ketidaktahuan atau ingin berhemat, memilih mesin non-komersial. Akibatnya, mesin cepat rusak dan tidak mampu bekerja secara optimal.

Erna menekankan bahwa mesin laundry untuk usaha harus memiliki kapasitas besar dan konstruksi industrial grade agar tahan banting serta mampu beroperasi 24 jam non-stop.

“Penting menggunakan mesin kapasitas besar dengan konstruksi industrial grade yang tahan banting dan bisa beroperasi 24 jam non-stop,” ujar Erna.

Selain faktor internal, kelemahan dalam strategi pemasaran juga menjadi penyebab kegagalan. Erna menegaskan bahwa promosi di awal pembukaan outlet sangat menentukan keberhasilan jangka panjang.

 

Tanda Bisnis Laundry Sukses

Menurutnya, kesuksesan sebuah outlet laundry dapat dilihat sejak hari pertama beroperasi. Hal ini tidak terlepas dari strategi promosi yang tepat, seperti memberikan layanan cuci gratis, memasang spanduk dan brosur, atau bekerja sama dengan content creator untuk memperluas jangkauan promosi.

“Kesuksesan sebuah outlet laundry dapat dilihat sejak hari pertama dibuka. Hal ini tidak terlepas dari strategi promosi, seperti cuci gratis, spanduk, brosur, atau menggandeng content creator,” katanya.

Bisnis laundry di Indonesia ibarat menyimpan potensi menjanjikan, namun hanya akan menghasilkan jika dikelola dengan strategi yang tepat. Potensi pasar yang besar harus diimbangi dengan pengelolaan profesional, mulai dari sistem pembayaran yang transparan, pemilihan mesin berstandar industri, hingga promosi yang kreatif dan konsisten.

Artinya, peluang besar ini bukan sekadar soal jumlah penduduk dan minimnya kompetitor. Tetapi tentang bagaimana pelaku usaha mampu membangun fondasi yang kokoh agar bisnis tidak sekadar bertahan, melainkan tumbuh dan mendominasi pasar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya