Tuai Kritik, Restoran di Korea Selatan Tak Mau Layani Pengunjung yang Makan Sendirian

Mengapa restoran di Korea Selatan tidak boleh pelanggannya datang sendiri?

oleh Fanny MarizkaDiterbitkan 01 Desember 2025, 19:30 WIB
Ilustrasi Restoran Unik (sumber: unsplash)

Liputan6.com, Seoul Peningkatan jumlah orang yang banyak melajang atau single ini ternyata memengaruhi restoran mie di Kota Yeosu, Korea Selatan, di mana papan nama di luar menjadi viral di media sosial.

Berbagai kritik pun terlontar dari unggahan pada 17 November oleh salah seorang pengguna internet yang dilaporkan dari Korea Times.

Papan nama yang ada di depan restoran memiliki empat "pilihan" pemesanan bagi pelanggan yang ingin makan sendirian, yaitu membayar dua porsi, makan dua porsi, menelepon teman, dan kembali di lain waktu bersama istri, dilansir dari SCMP, Senin (1/12/2025).

Tidak tertinggal pula tulisan yang berada di bawahnya dalam bentuk gelembung ucapan tertulis "Kami tidak menjual kesepian. Mohon jangan datang sendirian."

Kata-kata yang cukup terdengar sarkastik ini memicu perdebatan sengit di media sosial akibat unggahan yang tersebar luas dan telah ditonton 30.000 kali.

Kritik Keras Netizen

Bahkan ada yang memberikan komentar jika pola pikir pemiliknya masih ketinggalan zaman dengan melarang seseorang untuk makan sendiri.

Ada juga yang bertanya penasaran terhadap kebijakan tersebut.

"Mengapa makan sendirian itu sama dengan kesepian?"

Namun, beberapa orang tidak begitu mempersalahkan restoran yang mana berhak membuat kebijakannya sendiri.

"Jika pemilik bersedia menanggung kerugian finansial, itu adalah pilihan mereka dan harus dihormati," tulis seorang pengamat daring.

Faktanya, restoran yang tidak ingin pelanggan datang sendirian ini bukan menjadi hal yang aneh di Korea Selatan, hanya saja pengunjung solo yang dikenal sebagai pelanggan honbab (Bahasa Korea) pernah menjadi sorotan dan dianggap menjadi diskriminasi.

 

 

 

Antara Larangan dan Dukungan

Ilustrasi Mie ala Korea | pexels.com/@senuscape-728360

Pada bulan Juli, seorang pengunjung solo yang ke restoran di Yeosu justru menerima komentar kasar dari staf, menyuruhnya untuk makan cepat karena banyak orang yang menunggu meski ia sudah memesan dua porsi.

Tujuan dari membuat larangan tidak boleh makan atau datang sendiri ini untuk meningkatkan lebih banyak interaksi antarindividu atau membantu pemerintah dalam meningkatkan warganya bersosialisasi dan tidak merasa kesepian.

Kemunculan papan larangan telah menjadi tren ketika jumlah rumah tangga lajang di Korea Selatan meningkat. Di Seoul, persentasenya meningkat dari 29,5 persen pada 2015 menjadi 39,3 persen pada 2023. Lebih dari 42 persen penduduk Korea Selatan setidaknya makan sendirian satu kali setiap hari.  

Jika dilihat dari sudut pandang para ahli, di Tiongkok justru banyak restoran memanfaatkan tren ini karena "ekonomi tunggal" sedang berkembang pesat, di mana menguntungkan berbagai sektor seperti kuliner, properti, pendidikan, hingga perlengkapan rumah tangga.

Sementara itu, menurut Gi-Wook Shin, seorang profesor sosiologi di Universitas Stanford, Korea Selatan perlu menghadapi atau mempelajari bias budaya terhadap individu lajang secara sistematis yang lebih memilih hidup sendiri secara lebih serius dan terstruktur.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya