Konsumsi Gas Bumi Diprediksi Naik 34% saat Libur Natal dan Tahun Baru

Penyaluran Bahan Bakar Gas (BBG) pada periode Nataru 2025 diproyeksikan mencapai angka 24.500 LSP

oleh Septian DenyDiterbitkan 01 Desember 2025, 15:30 WIB
PGN menginisiasi program gas bumi untuk transportasi darat dan kapal nelayan tradisional, akan menggunakan CNG. Kendaraan tersebutn akan dikonversi bahan bakar dari menggunakan BBM menjadi Bahan Bakar Gas (BBG). (Dok PGN)

Liputan6.com, Jakarta Subholding Gas Pertamina telah menyiapkan pasokan gas untuk mendukung kelancaran Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025. Diprediksi pada momen tersebut akan terjadi kenaikan konsumsi pada sektor transportasi sebesar 34 persen.

Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, mengatakan PT PGN Tbk selaku Subholding Gas menyiapkan berbagai langkah pengamanan operasi, termasuk penguatan aspek HSSE, sehingga kebutuhan gas bumi pelanggan dapat terpenuhi dengan baik.

“Tim Penanganan Gangguan (TPG) kami siagakan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, didukung pemantauan tekanan jaringan secara realtime dan patroli berkala di seluruh fasilitas operasi,” kata Fajriyah, Senin (1/12/2025).

Penyaluran Bahan Bakar Gas (BBG) pada periode Nataru 2025 diproyeksikan mencapai angka 24.500 LSP, atau meningkat rata-rata sekitar 34 persen dibandingkan periode Nataru 2024.

PGN pun mengerahkan Satgas Nataru 2025 yang siap menjaga keamanan dan keandalan penyaluran gas bumi ke lebih dari 817.000 pelanggan rumah tangga, 2.845 pelanggan kecil, 3.334 pelanggan komersial dan industri, serta pelanggan pembangkit listrik sepanjang periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Jaringan infrastruktur Subholding Gas yang mencakup lebih dari 34.000 km jaringan pipa, 16 SPBG & MRU, serta 3 terminal LNG juga dipastikan beroperasi secara optimal. Sehingga, penyaluran gas bumi di seluruh wilayah operasi Subholding Gas Group pun dapat berjalan dengan lancar.

Satgas Nataru PGN aktif sejak 13 November 2025 hingga 11 Januari 2026, dan berkoordinasi dengan Satgas Nataru Holding Migas Pertamina serta Posko Bersama Kementerian ESDM.

PGN memastikan seluruh infrastruktur, mulai dari jaringan pipa, SPBG, terminal LNG, hingga layanan Contact Center 135, beroperasi penuh untuk menjamin kelancaran aktivitas masyarakat di periode Natal dan Tahun Baru.

"Posko Satgas di seluruh area operasi Subholding Gas Group siap bersiaga memberikan layanan terbaik untuk seluruh pelanggan dengan sepenuh hati," tutupnya.

Sederet Keunggulan CNG, Gas yang Bisa Tekan Impor LPG

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sebagai Subholding Gas Pertamina, terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung transisi energi bersih nasional. Salah satunya, PGN memberikan bantuan converter kit Bahan Bakar Gas (BBG) kepada 40 unit mobil online.

Sebelumnya, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) berkomitmen memperkuat ekosistem Compressed Natural Gas (CNG) di Indonesia, energi tersebut memiliki berbagai keunggulan sehingga dapat menjadi subtitusi liquefied petroleum gas (LPG) untuk menekan impor.

Melalui anak usahanya, PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas), Subholding Gas Pertamina konsisten mengembangkan pemanfaatan CNG yang memiliki kadar karbon lebih rendah, efisien, dan ekonomis, sekaligus berperan dalam menekan impor LPG.

Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, menjelaskan bahwa CNG yang merupakan gas bumi hasil proses kompresi memiliki keunggulan dari sisi penyimpanan dan distribusi, serta telah dimanfaatkan oleh berbagai sektor seperti industri, komersial, UMKM, dan transportasi.

“Kami mendukung penuh langkah Pemerintah dalam mengembangkan beragam produk gas domestik untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Selain CNG, kami juga mengupayakan pemanfaatan Liquefied Natural Gas (LNG) agar jangkauan penggunaan gas bumi semakin luas,” kata Santiaji, Kamis (23/10/2025).

Salah satu pengguna baru CNG adalah PT Dharma Polimetal Tbk (Dharma Group), yang melakukan konversi energi pada Selasa, (21/10/2025). Menurut Business Unit Head Dharma Group, Tony Herdian, peralihan ini memberikan manfaat nyata.

“Sejak menggunakan CNG, kami merasakan efisiensi biaya operasional serta kontinuitas produksi yang lebih baik. Dengan kebutuhan gas bumi sekitar 60.000–72.000 m³ per bulan, CNG menjadi pilihan energi yang stabil dan berkelanjutan,” ungkap Tony.

 

Perluas Infrastruktur Gas Bumi

Petugas mengisi BBG angkutan kota (angkot) di SPBG PGN Jl. Moh. A. Salmun, Bogor, Jawa Barat (28/9). Saat ini sekitar 500 angkot di Bogor yang menggunakan BBG. Setiap bulan, angkot-angkot itu menyerap 150.000 meter kubik BBG. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

PGN Gagas juga terus memperluas infrastruktur gas bumi. Pada Agustus 2025, perusahaan melakukan groundbreaking LNG Hub di Bandung dengan kapasitas produksi 0,5 MMSCFD.

Sementara pada September 2025, pembangunan Mother Station (MS) CNG Medan berkapasitas 1 MMSCFD dilakukan untuk memenuhi kebutuhan gas sektor industri, komersial, dan UMKM di Sumatera Utara dengan potensi pemanfaatan hingga 4,48 BBTUD.

Selain untuk industri, CNG juga dimanfaatkan dalam proyek strategis Pemerintah seperti penyediaan energi bagi dapur layanan Makan Bergizi Gratis di Batam, Bogor, dan Boyolali.

PGN Gagas turut menyediakan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) dan Mobile Refueling Unit (MRU) bagi transportasi umum seperti bus kota (BRT), bajaj, dan taksi. Saat ini, PGN Gagas mengoperasikan 11 SPBG di 7 provinsi, dengan rata-rata pengisian sekitar 2.200 kendaraan per hari.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya