Liputan6.com, Kyiv - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Jumat (28/11/2025) mengumumkan pengunduran diri kepala stafnya Andrii Yermak, tak lama setelah kediaman Yermak digeledah oleh penyidik antikorupsi.
Penggeledahan yang belum pernah terjadi sebelumnya di jantung pemerintahan Ukraina itu menjadi pukulan besar bagi Zelenskyy dan berpotensi mengguncang strategi negosiasi negara tersebut.
Advertisement
Yermak selama ini dikenal sebagai salah satu orang terdekat Zelenskyy, sekaligus negosiator utama Ukraina dalam pembicaraan dengan Washington D.C.
Selama bertahun-tahun, Zelenskyy menolak tekanan untuk menyingkirkan Yermak dari posisinya.
Menanggapi kontroversi tersebut, Zelenskyy memperingatkan bahwa Rusia tengah menunggu kesalahan dari Ukraina, termasuk perpecahan internal yang dapat menggagalkan proses negosiasi damai yang rumit, dikutip dari laman AP News, Minggu (30/11/2025).
“Kita tidak punya ruang untuk mundur atau bertengkar satu sama lain. Jika kita kehilangan persatuan, kita bisa kehilangan segalanya — diri kita, Ukraina, dan masa depan kita,” ujar Zelenskyy.
“Kita harus bersatu dan bertahan. Tidak ada pilihan lain. Kita tidak akan memiliki Ukraina yang kedua.”
Ia menegaskan bahwa fokus negara tidak boleh terpecah oleh hal-hal lain selain upaya mempertahankan Ukraina. “Saya tidak ingin ada pihak yang meragukan Ukraina, dan karena itulah keputusan hari ini harus diambil,” katanya.
Dalam pidato malamnya, Zelenskyy menyatakan akan melakukan “penataan ulang” di kantor kepresidenan. Ia menyampaikan bahwa Yermak telah mengajukan pengunduran diri, dan proses konsultasi untuk menunjuk kepala staf baru akan dimulai pada Sabtu.
Nama Yermak juga tidak tercantum dalam daftar pejabat yang akan mewakili Ukraina pada putaran negosiasi berikutnya dengan Amerika Serikat.
Delegasi baru ini akan dipimpin bersama oleh Kepala Angkatan Bersenjata Ukraina Andrii Hnatov, Menteri Luar Negeri Andrii Sybiha, dan Kepala Dewan Keamanan Rustem Umerov. Zelenskyy mengatakan pembicaraan tersebut akan dimulai “dalam waktu dekat”.