Indonesia Pacu Pengembangan Bioetanol sebagai Solusi Energi Hijau demi Kemandirian Nasional

Melalui sejarah panjang sejak 2006 dan teknologi bioproses terkini, bioetanol dari tebu dan biomassa diharapkan menekan impor BBM serta emisi karbon.

oleh Ahmad KhuzaifiDiterbitkan 26 November 2025, 18:05 WIB
apa itu bioetanol ©Ilustrasi dibuat AI

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Indonesia bersama pemangku kepentingan energi nasional terus mempercepat peta jalan transisi energi dengan mengoptimalkan penggunaan bahan bakar nabati.

Salah satu fokus utama ini adalah pengembangan bioentanol, sebuah langkah strategis yang sebenarnya memiliki rekam jejak sejarah cukup panjang di yanah air namun kini mendapatkan momentum baru.

Bioetanol dipandang sebagai kunci ganda, solusi untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah sekaligus instrumen vital untuk menekan emisi karbon di sektor transportasi.

Dilansir dari laman resmi Pertamina www.onesolution.pertamina.com, Rabu (26/11/2025), sejarah bioetanol di Indonesia bukanlah hal baru.

Melainkan perjalanan yang telah dirintis sejak dikeluarkannya Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2006, tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel).

Sejak saat itu, berbagai regulasi turunan diterbitkan untuk mendorong penggunaan bioetanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM).

Langkah ini diambil mengingat potensi sumber daya alam Indonesia yang melimpah, khususnya tanaman penghasil gula dan pati seperti tebu, singkong, dan jagung yang menjadi bahan baku utamanya.

Meskipun sempat mengalami pasang surut dalam implementasinya dibandingkan biodiesel (B35), bioetanol kini kembali menjadi prioritas dengan pelundcuran produk seperti Pertamax Green 95 yang mengandung campuran etanol 5 persen (E5) hingga target E10 di masa depan.

Pengembangan ini juga disadari oleh kebutuhan untuk mengingatkan kualitas udara. Bioetanol dikenal memiliki angka oktan (RON) yang tinggi, dapat meningkatkan pembakaran mesin menjadi lebih sempurna dan mengurangi emisi gas berbahaya seperti karbon monoksida.

Dengan menggabungkan potensi agraris nusantara dan teknologi pengolah modern, Indonesia berambisi menciptakan ekosistem yang berkelanjutan, di mana petani tebu hasi dan industrinya energi berjalan beriringan dalam menyongkong ketahanan energi nasional.

Proses Teknis dan Evolusi Bahan Baku

Pertamax Green 95 sudah terpampang di SPBU Pertamina Jalan MT Haryono, Jakarta. Ini merupakan produk BBM campur bioetanol dengan tingkat RON 95. Foto: Liputan6.com/ Arief R

Memahami potensi bioetanol tidak bisa dilepaskan dari pemahaman mengenai proses teknis pembuatannya yang harus berkembang dari waktu ke waktu. Secara fundamental, bioetanol adalah alkohol yang dihasilkan dari fermentasi gula yang terdapat dalam biomassa.

Dilansir dari Celignis, proses poduksi bioetanol melibatkan tahapan bioproses yang komplek, dimulai dari pra-perlakuan bahan baku hinggafermentasi.

Pada  generasi muda, bietanol diproduksi dari tanaman pangan yang mengandung gula atau pati, Pati ini dihidrolisis menjadi gula sederhana sebelum difermentasi oleh ragi menjadi etanol.

Namun, tantangan global kini mendorong peralihan ke teknologi generasi kedua, yaitu penggunaan biomassa lignoselulosa.

Teknologi ini memungkinkan pengunaan limbah pertanian, jerami, atau kayu yang tidak bersaing dengan bahan pangan, untuk diubah menjadi bahan bakar.

Proses ini jauh lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan karena memerlukan pemecahan struktur selulosa yang keras, namun menawarkan solusi jauh lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan karena maf residu yang sebelumnya tidak bernilai. 

Penguasaan teknologi, baik untuk generasi pertama maupun kedua, menjadi kunci industri di Indonesia. Dengan memahami karakteristik kimiawi bahan baku lokal, para peneliti dan industri dapat mengoptimalkan rendemen etanol yang dihasilkan, menjadikan jualnya kompetitif dibanding bensin fosil. 

Manfaat Strategi dan Tantangan Implementasi

Pertamax Green 95 sudah terpampang di SPBU Pertamina Jalan MT Haryono, Jakarta. Ini merupakan produk BBM campur bioetanol dengan tingkat RON 95. Foto: Liputan6.com/ Arief R

Dibalik kerumitan teknis produksinya, bioetanol menawarkan manfaat strategis yang sangat besar bagi perekonomian dan lingkungan Indonesia.

Sebagai negara dengan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang tinggi, kebutuhan akan bahan bakar dengan oktan tinggi (High Octane Mogas Component/HOMC) terus meningkat.

Penggunaan bioetanol sebagai campuran BBM memiliki keunggulan ganda yang vital.  Pertama, dari sisi performa, etanol memiliki angka oktan (RON) 128, yang ketika dicampurkan dengan bensin dasar, akan meningkatkan kualitas pembakaran mesin, membuatnya lebih responsif dan efisien.

Kedua, dari sisi lingkungan, pencampuran ini secara langsung menurunkan emisi gas rumah kaca.

Pertamina sendiri telah memulai langkah konkret dengan menyediakan Pertamax Green 95, yang merupakan campuran Pertamax dengan 5 persen bioetanol yang bersumber dari molases tebu.

Langkah ini merupakan bagian dari peta jalan besar menuju Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.

Namun, ada tantangan terbesar tetap pada ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan (feedstock security). Pemerintah oerlu memastikan bahwqa peningkatan produksi bioetanol tidak menganggu stok gula untuk kebutuhan pangan nasional.

Oleh karena itu, sinergi antara Kementerian ESDM, Kementerian Pertanian, dan BUMN menjadi mutlak diperlukan untuk melakukan ekstensifikasi lahan tebu dan diversifikasi sumber bahan baku lainnya agar program bioetanol nasional dapat berjalan konsisten dan tidak berhenti di tengah jalan.

Contoh Infografis Hemat Energi (Hemat Energi di Rumah). Sumber : www.kominfo.go.id/

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya