Liputan6.com, Jakarta - Kemahsyuran Majapahit yang menjadi cikal bakal Indonesia ternyata belum terepresentasi dengan baik lewat museum yang ada. Berlatar keinginan memberikan rumah yang lebih layak atas kebesaran Majapahit, pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan berencana mentransformasi Pusat Informasi Majapahit yang berlokasi di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, menjadi Museum Majapahit.
Advertisement
"Sebagai pusat informasi, ketika itu saya datang, kita melihat sebenarnya koleksinya cukup banyak. Ada sekitar 80 ribuan artefak, tapi tidak di-display dengan baik. Tidak ada narasi juga, bahkan ada di gudang kebanyakan, ya di jalan-jalan. Saya kira ini satu hal yang sangat disayangkan," kritik Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa, 26 November 2025.
Sebagai bagian dari rencana itu, diselenggarakan Sayembara Masterplan Museum Majapahit yang bekerja sama dengan Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI). Sayembara itu bertujuan untuk mendapatkan desain terbaik yang menggambarkan visi besar Museum Majapahit, serta menghasilkan konsep yang memperkuat nilai sejarah, arkeologi, serta jati diri budaya Majapahit.
Perancangan masterplan difokuskan di kawasan Trowulan, Jawa Timur pada lahan baru seluas sekitar 4,58 hektare dan area eksisting seluas kira-kira 5,43 hektare. Prosesnya diawali dengan pengumuman sayembara pada Juli 2025. Total masuk sekitar 150 pendaftar, tetapi sekitar 55 karya yang masuk ke meja dewan juri untuk dipilih tiga pemenang terbaik dan dua karya apresiasi.
"Kami menerima begitu banyak desain yang berkualitas. Masing-masing membawa perspektif segar tentang bagaimana Museum Majapahit seharusnya dibangun. Inklusif, visioner, tetap berakar pada nilai-nilai Majapahit, yaitu toleransi, kebinekaan, persatuan, dan kemajuan," kata Fadli.
Ia juga meminta agar desain museum memasukkan elemen ramah lingkungan. "Karena museum ini kan AC-nya banyak dan lain-lain, mungkin perlu ada satu tenaga energi yang renewable, apakah mungkin dari matahari atau dari yang lainnya gitu. Saya kira juga akan banyak membantu kita dalam maintenance," imbuhnya.
Para Pemenang Sayembara Museum Majapahit
Dalam daftar pemenang Sayembara Masterplan Museum Majapahit, rancangan berjudul Surya Majapahit yang dibuat oleh tim yang diketuai Ar. Thoat Fauzi keluar sebagai pemenang pertama. Mereka berhak mendapatkan hadiah Rp600 juta.
Pemenang kedua berjudul Chhatra Pustaka yang dirancang tim yang diketuai Ar. Aris Munandar. Mereka berhak atas hadiah Rp250 juta. Sementara, juara tiga disabet karya berjudul Jiwa Wilwaktikta yang diciptakan oleh tim yang diketuai Revianto Budi Santosa. Mereka berhak atas hadiah Rp 125 juta. "Semuanya dipotong pajak dan progresif pajaknya," kata Fadli.
Mewayu Hayuning Buwana karya tim yang diketuai Ar. Haidar Majid D. dan Sumunaring Nusa Maja yang dibuat tim yang diketuai Ar. Hernowo Muliawan juga mendapat apresiasi sebesar Rp7,5 juta.
"Desain terpilih ini akan menjadi rujukan dalam penyusunan masterplan final Museum Majapahit di Indonesia dan kami berharap museum ini kelak akan menjadi ikon baru pewarisan budaya Indonesia, sekaligus pusat pembelajaran tentang salah satu peradaban terbesar yang pernah hadir di Nusantara," ujar Menbud.
Dari Mana Sumber Anggaran Pembangunan Museum Majapahit?
Menbud menyebut Museum Agung Mesir sebagai rujukan mimpinya saat menetapkan rencana membangun Museum Majapahit di Trowulan. Museum yang lokasinya tak jauh dari Piramida Giza, Mesir, itu dibangun dengan biaya USD 1 miliar atau sekitar Rp17 triliun dengan bekerja sama dengan Jepang.
"Itu menjadi satu ikon bagi Mesir dan mungkin itu jadi salah satu sumber income untuk wisata budaya, wisata sejarah. Kita mungkin belum sampai sampai ke sana, tetapi kita akan memanfaatkan dari lokasi dan lahan yang ada dengan perencanaannya yang matang," kata Fadli.
"Kita berharap museum ini tentu mencirikan arsitektur, suasana, atau representasi dari Majapahit. Majapahit ini kan eranya pada abad ke-13 hingga abad ke-15. Pada masa itu, saya kira Indonesia sudah cukup modern. Dalam arti, peradaban kita relatif sudah cukup maju, baik itu ritus, manuskrip, dan lain-lain," imbuhnya.
Lalu, dari mana anggaran untuk membangunnya? Fadli menjawab, "Ini bagian nanti yang kita ingin kembangkan public-private partnership. Bisa dari APBN, juga kita mengundang dari pihak swasta atau filantropis yang ingin ikut mendukung."
Pekerjaan Rumah Menentukan Titik Nol Majapahit
Terkait pembangunan Museum Majapahit, ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan dulu oleh para ahli arkelogi, yakni lokasi titik nol sebagai pusat Kerajaan Majapahit. Proses penentuannya tak mudah mengingat sejarah Majapahit sudah berusia lebih dari 1000 tahun lalu.
"Mestinya ada. Saya kira mudah-mudahan tahun depan bisa ketemu, karena ini kita bicara kerajaan-kerajaan besar, tapi enggak tahu di mana tempatnya," ujarnya.
Ia mengatakan titik nol yang dicari adalah semacam pendopo agung yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit. Pihaknya mengaku sudah memiliki beberapa dugaan lokasi, tapi semua masih dipelajari. Apalagi, kawasan kerajaan itu cukup besar, mencapai 20 kilometer persegi.
"Memang salah satu kendalanya adalah sudah banyak rumah-rumah penduduk dan sudah cukup padat... Makanya mungkin agak kesulitan untuk mencari di mana titik nol Majapahit ini," ucap Menbud.