Impor Bubuk Seng Terkontaminasi Cs-137, Satgas Setop Operasi Luckione Environmental Science

Satgas menyetop sementara pabrik PT Luckione Environmental Science Indonesia. Perusahaan ini melakukan impor bubuk seng yang terkontaminasi Cs-137.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 24 November 2025, 19:15 WIB
Ketua Bidang Diplomasi dan Komunikasi Publik, Satgas Penanganan Cs-137, Bara Krishna Hasibuan dalam konferensi pers, di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin (24/11/2025). (Dok Kemenko Pangan)

Liputan6.com, Jakarta - Satuan Tugas Penanganan Radiasi Cesium-137 (Satgas Cs-137) menyetop operasional pabrik PT Luckione Environmental Science Indonesia. Pasalnya perusahaan berulang kali mengimpor zinc powder (bubuk seng) terkontaminasi Cs-137.

Ketua Bidang Diplomasi dan Komunikasi Publik, Satgas Penanganan Cs-137, Bara Krishna Hasibuan menjelaskan, Luckione kedapatan berulang kali mengimpor bubuk seng. Kini, operasionalnya disetop sementara menunggu proses audit yang dilakukan Satgas.

"Satgas melalui Kementerian Lingkungan Hidup atas rekomendasi BAPETEN sedang mengambil langkah tegas agar perusahaan tersebut dihentikan sementara kegiatan usahanya sampai pemerintah selesai melakukan audit lingkungan terhadap perusahaan tersebut," kata Bara dalam konferensi pers di Kantor Kementeriaan Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin (24/11/2025).

Terbaru, Satgas menemukan ada 8 kontainer bubuk seng yang masuk melalui pelabuhan Tanjung Priok. Seluruhnya, berasal dari Angola, Afrika Selatan. Pada 14 November 2025, otoritas pelabuhan Tanjung Priok menahan seluruh kontainer tersebut.

"Saat ini 8 kontainer tersebut ditahan sambil menunggu selesainya proses administrasi untuk dilakukan re-ekspor," ujar dia.

Informasi, ini merupakan kejadian yang keempat kalinya pihak otoritas di Pelabuhan Tj. Priok berhasil mencegah masuknya kontainer berisi kontaminasi Cs-137. Tiga pengapalan sebelumnya adalah bubuk seng dari Filipina.

"Importasi keempat pengapalan tersebut dilakukan oleh perusahaan yang sama yaitu PT Luckione Environmental Science Indonesia, sebuah perusahaan peleburan logam yang juga berlokasi di kawasan modern industri Cikande," tutur Bara.

 

Bukan Impor Resmi

Ketua Bidang Diplomasi dan Komunikasi Publik, Satgas Penanganan Cs-137, Bara Krishna Hasibuan saat konferensi pers, Rabu (12/11/2025). (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Diberitakan sebelumnya, Satuan Tugas Penanganan Radiasi Cesium-137 (Cs-137) masih mencari sumber utama kontaminan terhadap scrap metal milik PT Peter Metal Technology (PMT). Scrap metal itu jadi penyebab radiasi radionuklida Cs-137 di kawasan industri Cikande, Serang, Banten.

Ketua Bidang Diplomasi dan Komunikasi Satgas, Bara Krishna Hasibuan mengaku belum menemukan sumber utama kontaminasinya. Terlebih, tidak ada data PT PMT melakukan impor secara resmi. Sehingga diduga dilakukan secara ilegal atau didapat dari sumber dalam negeri.

"Pertimbangan teknis (Pertek) itu tidak pernah dikeluarkan oleh Kementerian Perindustrian sehingga otomatis di Kementerian Perdagangan pun tidak ada data bahwa PT Peter Metal itu pernah melakukan importasi scrap metal," ungkap Bara dalam Konferensi Pers di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Rabu (29/10/2025).

 

Masih Ditelusuri

Ketua Bidang Diplomasi dan Komunikasi Publik, Satgas Penanganan Cs-137, Bara Krishna Hasibuan saat konferensi pers, Rabu (12/11/2025). (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Pertek menjadi salah satu syarat perusahaan untuk bisa melakukan impor bahan baku industri. Selain perlunya dokumen rekomendasi dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Bara enggan menduga terlalu jauh sumber scrap metal milik PMT yang menyebabkan tersebarnya radiasi radionuklida Cs-137 di Cikande.

"Jadi ada kemungkinan juga mereka membeli dari source dalam negeri atau mereka mungkin kalau memang melakukan importasi secara ilegal, tapi kita tidak tahu," ucapnya.

"Kita tidak boleh melakukan asumsi karena tentu saja sekarang ini kami serahkan kepada pihak Bareskrim yang sedang melakukan investigasi," Bara menambahkan.

 

 

Sumber Kontaminasi Scrap Metal

Bara menuturkan, Satgas telah menentukan scrap metal PMT jadi salah satu sumber penyebaran radiasi. Meski begitu, pihaknya masih terus menelusuri sumber utama yang mempengaruhi scrap metal tersebut.

"Masalahnya sekarang kita belum bisa menentukan dari mana mereka mendapatkan scrap metal yang terkontaminasi itu," ujar dia.Adapun, saat ini Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri tengah melakukan investigasi kriminal soal sumber utama tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya