Kelompok Bersenjata Culik 200 Lebih Siswa dan 12 Guru di Sekolah Katolik Nigeria

Penculikan dalam jumlah besar bukan hal baru di Nigeria.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 22 November 2025, 12:26 WIB
Seorang pria tampak berjalan melewati barang-barang milik para korban setelah para pria bersenjata menculik anak-anak dan staf di komunitas Papiri, Nigeria, pada Jumat (21/11/2025). (Dok. Asosiasi Kristen Nigeria via AP)

Liputan6.com, Abuja - Para pria bersenjata menyerang sebuah sekolah asrama Katolik di wilayah barat Nigeria dan menculik lebih dari 200 siswa pada hari Jumat (21/11/2025), kata Asosiasi Kristen Nigeria (CAN), menandai insiden terbaru dari rangkaian penculikan di negara berpenduduk terbanyak di Afrika itu.

Serangan dan penculikan terjadi di Sekolah St. Mary, sebuah institusi Katolik di komunitas Papiri, Agwara. Para penyerang menculik 215 siswa dan 12 guru, kata Daniel Atori, juru bicara CAN untuk Negara Bagian Niger.

"Saya baru kembali ke desa malam ini setelah mengunjungi sekolah, di mana saya juga bertemu dengan para orang tua," kata Atori, mengutip Uskup Agung Bulus Dauwa, ketua CAN di Niger seperti dilansir Associated Press.

CAN menambahkan bahwa mereka bekerja untuk memastikan anak-anak dapat kembali dengan selamat.

Komando Kepolisian Negara Bagian Niger mengatakan penculikan terjadi pada dini hari dan bahwa pasukan militer serta keamanan telah dikerahkan ke komunitas tersebut. Mereka menggambarkan St. Mary sebagai sekolah menengah, yang di Nigeria berarti melayani anak usia 12 hingga 17 tahun.

Sebuah citra satelit menunjukkan bahwa kompleks sekolah terhubung dengan sekolah dasar di sebelahnya. Lokasinya berada di dekat jalan utama yang menghubungkan Kota Yelwa dan Mokwa.

Dauda Chekula (62) mengatakan bahwa empat cucunya, berusia antara 7 hingga 10 tahun, termasuk di antara anak-anak sekolah yang diculik.

"Kami tidak tahu apa yang sedang terjadi sekarang karena kami belum mendengar apa pun," tutur Chekula. "Anak-anak yang berhasil melarikan diri terpencar, beberapa dari mereka berlari pulang ke rumah, dan satu-satunya informasi yang kami dapatkan adalah bahwa para penyerang masih bergerak membawa sisa anak-anak itu ke dalam hutan."

Sekretaris pemerintah Negara Bagian Niger menyebutkan bahwa penculikan terjadi meskipun sebelumnya telah ada intelijen yang memperingatkan ancaman meningkat.

"Dengan sangat menyesal, Sekolah St. Mary buka kembali dan melanjutkan aktivitas akademik tanpa memberi tahu atau meminta izin dari pemerintah negara bagian, sehingga membuat murid dan staf terpapar risiko yang seharusnya dapat dihindari," demikian isi pernyataan tersebut.

Umar Yunus, seorang warga Papiri, mengungkapkan bahwa saat serangan terjadi pada hari Jumat hanya ada penjagaan keamanan dari warga lokal.

Keuskupan Katolik Kontagora mengonfirmasi bahwa seorang petugas keamanan tertembak selama serangan.

Sementara itu, pihak berwenang menutup 47 sekolah menengah persatuan federal negara itu yang sebagian besar berada di negara-negara bagian utara yang dilanda konflik. Kementerian Pendidikan Federal Nigeria mengeluarkan surat edaran yang memerintahkan penutupan segera sekolah-sekolah tersebut, karena sekolah menengah persatuan itu — sekelompok sekolah menengah elit milik pemerintah yang menerima siswa dari seluruh negeri — dianggap berada dalam kondisi keamanan yang berisiko. 

 

Rangkaian Penculikan

Penculikan terbaru terjadi beberapa hari setelah para pria bersenjata pada hari Senin (17/11) menyerang sebuah sekolah menengah di Negara Bagian Kebbi yang bertetangga dan menculik 25 siswi. Menurut kepala sekolah tersebut, salah satu dari para siswi itu kemudian melarikan diri dan selamat. 

Dalam serangan terpisah pada hari Senin di Negara bagian Kwara, yang berbatasan dengan Negara Bagian Niger, para pria bersenjata menyerang sebuah gereja dan menewaskan dua orang. Selama serangan itu, 38 jemaat juga diculik, kata Femi Agbabiaka, sekretaris Gereja Christ Apostolic, kepada Associated Press pada hari Jumat. Ia mengatakan bahwa para penculik meminta tebusan USD 69.000 untuk setiap orang yang diculik.

Presiden Nigeria Bola Tinubu membatalkan perjalanannya ke KTT G20 di Afrika Selatan pada akhir pekan ini karena rangkaian kejadian tersebut. Kantor kepresidenan menyampaikan pada hari Jumat bahwa Wakil Presiden Kashim Shettima akan menggantikannya. 

"Kami akan menggunakan setiap instrumen negara untuk membawa para anak perempuan itu pulang dan memastikan bahwa pelaku kejahatan keji ini menghadapi sepenuhnya beratnya hukum," ungkap Shettima saat kunjungan ke Negara Bagian Kebbi pada hari Rabu (19/11).

Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan di Negara Bagian Niger dan Kebbi. Para analis dan penduduk mengatakan bahwa geng-geng sering menargetkan sekolah, para pelancong, dan warga desa terpencil dalam penculikan untuk meminta tebusan.

Pihak berwenang menilai para penyerang sebagian besar adalah mantan penggembala yang mengangkat senjata melawan komunitas petani setelah bentrokan terkait sumber daya yang menipis.

Penculikan telah menjadi gambaran dari ketidakamanan yang melanda negara berpenduduk terbesar di Afrika itu.

Nigeria baru-baru ini menjadi sorotan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa umat Kristen sedang dianiaya di sana — sebuah tuduhan yang dibantah oleh pemerintah.

 

 

Kekesalan Masyarakat

Para analis dan penduduk menyalahkan ketidakamanan pada kegagalan menuntut pelaku yang sudah diketahui, serta korupsi yang merajalela yang membatasi pasokan senjata kepada pasukan keamanan tetapi memastikan pasokan tetap lancar bagi geng-geng tersebut.

Eze Gloria Chidinma (27) seorang influencer berbasis di Lagos yang juga dikenal sebagai "Riaz Kitchen", mengatakan kepada Associated Press bahwa adiknya mampu melarikan diri dari sekolah saat serangan dengan melompati pagar.

Chidinma mengatakan ini bukan pertama kalinya keluarganya terdampak penculikan yang merajalela di negara itu.

"Ibu dan kakak saya diculik tahun lalu. Kami menghubungi keamanan, kami menghubungi polisi dan mereka hanya berkata tidak ada yang bisa mereka lakukan," katanya, seraya mencatat bahwa keluarganya harus membayar jumlah uang yang sangat besar untuk menyelamatkan mereka.

"Pesan saya kepada pihak berwenang saat ini adalah pikirkan rakyat. Tugas Anda adalah melindungi jiwa dan harta benda. Nyawa rakyat seharusnya penting bagi Anda," tambah Chidinma.

Yohanna Buru, seorang pendeta dan kepala Peace Revival And Reconciliation Foundation, sebuah organisasi yang berfokus pada dialog antaragama, menyerukan kepada pihak berwenang untuk meningkatkan keamanan di sekitar sekolah-sekolah di daerah yang terdampak krisis keamanan.

"Jika pemerintah melakukan cukup maka penculikan yang merajalela di seluruh negeri tidak akan terjadi," katanya. "Seolah-olah mereka tidak peduli dengan masa depan anak-anak kita."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya