Liputan6.com, Jakarta - Tim Formula Satu Mercedes kembali menjadi sorotan dunia bisnis setelah CEO sekaligus kepala tim, Toto Wolff, resmi menjual 15% saham kepada miliarder Amerika Serikat (AS), George Kurtz.
Kesepakatan itu tak hanya mengguncang paddock F1, tetapi juga menarik perhatian pelaku industri global karena menilai Mercedes F1 dengan valuasi fantastis mencapai 4,57 miliar poundsterling atau USD 5,97 miliar. Jumlah itu sekitar Rp 99,80 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.717) menjadikannya rekor baru untuk valuasi tim balap dalam sejarah Formula 1.
Advertisement
Langkah ini terjadi ketika Mercedes sedang berada di tengah musim kompetitif dan Wolff sendiri hadir di Las Vegas untuk balapan akhir pekan, mencerminkan betapa pentingnya transaksi besar ini bagi masa depan tim.
Dikutip dari ESPN, Jumat (21/11/2025), Wolff, yang selama ini memegang sepertiga kepemilikan tim, diperkirakan mengantongi sekitar 230 juta poundsterling atau USD 300 juta (Rp 5,01 triliun) dari penjualan tersebut. Meski melepas sebagian sahamnya, pria Austria berusia 53 tahun itu menegaskan bahwa ia tetap memimpin sebagai CEO dan kepala tim.
George Kurtz, CEO serta pendiri perusahaan keamanan siber raksasa CrowdStrike yang juga menjadi sponsor utama Mercedes, kini memegang 5 peresen saham lewat akuisisi tersebut.
Ia juga langsung bergabung dalam komite pengarah strategis tim bersama Ola Källenius dan Sir Jim Ratcliffe, menandai peran pentingnya dalam arah bisnis Mercedes F1 ke depan.
Di sisi lain, dunia F1 juga tengah diguncang isu hukum besar setelah pengadilan tinggi Inggris memutuskan bahwa gugatan mantan pembalap Felipe Massa terhadap FIA, Formula One Management, dan Bernie Ecclestone terkait gelar F1 2008 dapat dilanjutkan ke pengadilan.
Putusan ini berpotensi membuka babak baru dalam drama panjang seputar insiden Crashgate Singapura 2008 dan klaim Massa bahwa gelar tersebut seharusnya menjadi miliknya.
Dengan dua kabar besar yang datang bersamaan, F1 kembali menjadi pusat perhatian tak hanya di arena balap, tetapi juga dalam dinamika bisnis dan hukum yang mengitarinya.
Wolff Memuji Kurtz
Kurtz, adalah pendiri dan CEO CrowdStrike, perusahaan keamanan siber yang telah lama menjadi sponsor Mercedes. Dengan transaksi ini, Kurtz kini memegang 5 persen saham tim dan masuk ke jajaran pembuat keputusan strategis.
Wolff memuji Kurtz sebagai sosok dengan latar belakang unik: seorang pembalap, duta Mercedes-AMG, sekaligus pengusaha teknologi. Ia menilai kombinasi itu sangat relevan untuk perkembangan bisnis F1 yang semakin berbasis data dan teknologi.
Mercedes sendiri masih menjadi salah satu tim paling dominan dalam sejarah modern F1, dengan delapan gelar konstruktor beruntun antara 2014–2021.
Gugatan Felipe Massa soal Gelar F1 2008 Resmi Bisa Dilanjutkan
Di tengah euforia bisnis Mercedes, dunia F1 juga diguncang perkembangan hukum besar. Pengadilan Tinggi Inggris memutuskan gugatan Felipe Massa senilai Euro 64 juta, sekitar Rp 1,2 triliun, dapat dibawa ke pengadilan.
Massa menuduh, gelar F1 2008 seharusnya menjadi miliknya karena insiden Crashgate (strategi kecelakaan sengaja oleh Nelson Piquet Jr di GP Singapura) mempengaruhi hasil balapan dan membuatnya kalah satu poin dari Lewis Hamilton.
Hakim Jay menyatakan bahwa Massa memiliki “prospek nyata” untuk membuktikan adanya konspirasi ilegal, meski sebagian klaimnya ditolak, termasuk permintaan deklarasi resmi bahwa ia adalah juara dunia 2008.
Menurut pengadilan, FIA tidak berkewajiban memberikan deklarasi tersebut dan organisasi internasional itu dapat mengabaikannya. Namun jalur hukum terkait dugaan penutup-nutupan tetap terbuka.
Argumen Dua Belah Pihak
Pihak Massa menilai FIA dan Bernie Ecclestone gagal menyelidiki insiden tersebut meski diduga mengetahui kecelakaan itu sengaja. Sementara pihak FIA menyebut klaim Massa “ambisius dan mengabaikan kesalahannya sendiri”.
Pengacara Ecclestone menilai gugatan ini sebagai upaya keliru membuka kembali hasil kejuaraan yang telah sah.
Meski kasus ini tidak dapat mengubah hasil gelar 2008, putusan tersebut membuka perdebatan baru tentang integritas olahraga dan proses investigasi di F1.