Liputan6.com, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti erupsi Gunung Semeru yang kembali terjadi di Lumajang, Jawa Timur. Ia meminta pemerintah, aparat daerah, dan tim SAR memprioritaskan keamanan seluruh warga serta para pendaki yang sempat terjebak di kawasan gunung tersebut.
Advertisement
"Keselamatan dan keamanan warga harus menjadi prioritas. Termasuk bagi pendaki yang sempat terjebak saat erupsi Semeru,” ujar Puan melalui pernyataan resmi, Kamis (20/11/2025).
Puan mendesak agar seluruh aktivitas masyarakat di zona berbahaya, terutama di aliran Besuk Kobokan, segera dihentikan. Ia meminta pemerintah daerah memastikan evakuasi berjalan cepat dan terarah sesuai rekomendasi PVMBG.
“Pastikan tak ada warga di sekitar lereng Semeru yang tertinggal untuk dievakuasi. Semua warga harus diselamatkan,” tegasnya.
Politisi PDI Perjuangan itu juga menyoroti ratusan pendaki yang sempat tertahan di Ranu Kumbolo saat erupsi terjadi.
Karenanya, Puan meminta proses penyelamatan dilakukan dengan pengamanan maksimal, termasuk penutupan jalur pendakian dan area wisata di sekitar Semeru.
“Mengingat potensi bahaya lanjutan, jalur pendakian dan area wisata di sekitar Semeru sebaiknya memang ditutup sementara secara disiplin,” katanya.
Aktivitas Pendakian Semeru Ditutup
Sebanyak 178 pendaki sebelumnya sempat terjebak karena jalur turun menjadi licin, gelap, dan rawan longsor.
Petugas memutuskan seluruh pendaki bermalam demi menghindari risiko. Para pendaki dipastikan selamat dan tidak terdampak awan panas karena lokasi Ranu Kumbolo berada di area aman.
BB TNBTS telah resmi menutup semua aktivitas pendakian setelah status Semeru dinaikkan menjadi Level IV. Zona sektoral 20 km arah selatan–tenggara kini dinyatakan berisiko tinggi.
Puan menilai keputusan ini harus dipatuhi demi mencegah korban jiwa. Selain itu, ia meminta perhatian serius terhadap kondisi para pengungsi.
“Pemerintah daerah harus memastikan lokasi pengungsian benar-benar aman dan layak. Mulai dari logistik, air bersih, layanan kesehatan, hingga perlindungan bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas,” jelas mantan Menko PMK itu.
Puan juga mengingatkan pentingnya informasi resmi yang jelas dan tidak tumpang tindih, serta koordinasi antarinstansi, mulai dari BNPB, PVMBG, TNI/Polri, pemerintah daerah, hingga relawan.
“Ketika aktivitas vulkanik meningkat drastis, setiap menit sangat berarti sehingga koordinasi harus berjalan tanpa hambatan administratif maupun teknis,” ungkapnya.
Momen Perkuat Mitigasi Jangka Panjang
Lebih lanjut, Puan menilai erupsi Semeru harus menjadi momentum memperkuat mitigasi jangka panjang, termasuk edukasi publik, penataan kawasan rawan, dan penyempurnaan sistem peringatan dini.
“Jangan memasuki zona berbahaya sebelum dinyatakan aman. Pastikan memperhatikan keamanan diri dan keluarga,” tutup Puan.
Perlu diketahui, Gunung Semeru erupsi pada Rabu, 19 November 2025 siang dan memuntahkan awan panas guguran hingga 13 kilometer.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kemudian menaikkan status Semeru menjadi Level IV atau Awas. Aktivitas gempa guguran masih berlangsung hingga hari ini.