Liputan6.com, Jakarta Sebanyak 11 kasus kematian gajah Sumatera dalam kurun waktu 2020 hingga Agustus 2025 terjadi di Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK).
Kepala Balai TNWK MDH Zaidi mengatakan, dari 11 kasus kematian tersebut, tujuh ekornya merupakan gajah jinak yang selama ini dirawat di lembaga konservasi. Adapun mayoritas kematian dipicu usia lanjut dan penyakit kronis.
Advertisement
Dia pun juga merinci, empat ekor gajah liar ditemukan mati dengan penyebab berbeda-beda. Ada akibat luka jerat, dugaan keracunan, hingga faktor alamiah.
"Meski jumlahnya relatif kecil dibanding total populasi, angka kematian ini tetap menjadi perhatian dan mendorong penguatan perlindungan habitat serta penegakan hukum terhadap perburuan dan jerat ilegal," kata Zaidi saat dikonfirmasi, Rabu (19/11/2025).
Meski demikian, lanjut dia, pihak TNWK juga mencatat ada lima kelahiran gajah jinak. Dua ekor di Pusat Latihan Gajah (PLG) dan tiga ekor di Elephant Response Unit (ERU).
Zaidi menegaskan, kelahiran tersebut menjadi indikator bahwa program perawatan dan manajemen gajah jinak berjalan baik.
"Ini memberi kontribusi positif terhadap keberlangsungan spesies," katanya.
Sementara itu, jelas Zaidi, pihak TNWK juga tengah melakukan survei genetika populasi gajah liar melalui metode DNA fecal sampling, yang mencakup seluruh bentang jelajah gajah liar dan telah berlangsung sejak akhir 2024.
Proses analisis laboratorium masih berjalan dan hasilnya diharapkan memberikan gambaran terbaru mengenai jumlah dan struktur populasi. Estimasi terakhir oleh Wildlife Conservation Society (WCS) pada 2010 mencatat sekitar 247 individu gajah liar.
"Data 2024 memperkirakan populasi berada di angka 160-180 individu. Hasil survei 2025 nantinya akan menjadi dasar penting dalam perencanaan konservasi," jelas Zaidi.
61 Gajah Jinak Dirawat di Way Kambas
Selain itu, lanjut Zaidi, hingga Agustus 2025, Balai TNWK mengelola 61 gajah jinak. Sebanyak 33 ekor berada di PLG Way Kambas, sementara 28 ekor ditempatkan di empat lokasi ERU, Bungur, Tegal Yoso, Braja Harjosari, dan Margahayu.
Dia menekankan bahwa keberadaan gajah jinak memiliki peran strategis, mulai dari dukungan patroli pengamanan kawasan, mitigasi konflik dengan gajah liar, hingga edukasi konservasi untuk masyarakat.
"Gajah-gajah ini juga menjadi ikon wisata edukasi yang mempertemukan masyarakat dengan satwa karismatik secara lebih dekat," kata dia.