Berperforma Tinggi, Mengapa Penjualan EV Masih Lambat?

Tantangan selanjutnya dari kendaraan listrik, tak cukup hanya mengandalkan performa tinggi.

oleh Azkal Azkia NurrohmatDiterbitkan 26 November 2025, 19:07 WIB
Tampak Tesla model Y Robotasi (Tesla)

Liputan6.com, Jakarta - Kendaraan listrik sejak lama dikenal memiliki akselerasi lebih baik dibanding mobil berbahan bakar bensin. Tesla menjadi salah satu merek yang paling gencar membuktikan bahwa mobil listrik bukan sekadar “mobil golf” yang pelan dan tak menarik.

Perubahan persepsi itu dimulai ketika Tesla merilis Roadster pertama pada 2008. Pasalnya, di saat itu, banyak orang menganggap mobil listrik tidak punya performa dan identik dengan kecepatan rendah. 

Tesla kemudian mematahkan anggapan tersebut dengan strategi yang jelas, dengan keinginannya untuk menghadirkan performa tinggi sebagai senjata utama.

Misi Tesla bukan hanya menciptakan EV bertenaga, tetapi juga menunjukkan bahwa mobil listrik mampu menempuh jarak hingga 400 km sekali pengisian. 

Selain itu, target akselerasi dari 0 ke hampir 100 km/jam dalam waktu sekitar empat detik menjadi bukti bahwa EV bisa bersaing bahkan melampaui mobil bensin.

Selama bertahun-tahun, performa menjadi elemen penting dalam edukasi pasar sekaligus strategi pemasaran Tesla.

Hal ini juga ditegaskan oleh Elon Musk saat acara pengiriman Tesla Model S Plaid pada 2021.

Menurutnya, kendaraan berenergi berkelanjutan harus dapat menjadi yang tercepat, teraman, sekaligus paling menarik.

Unggul dalam Akselerasi, Lemah pada Penjualan

 

Jejak Tesla kemudian diikuti oleh berbagai produsen lain. Audi melalui RS e-tron GT, misalnya, menghadirkan model produksi dengan performa luar biasa. 

Bahkan mobil listrik yang lebih terjangkau seperti Kia EV6 GT-Line kini bisa berakselerasi 0 hingga 96 km/jam dalam 4,5 detik, angka yang dahulu hanya mungkin pada mobil sport.

Dari segi akselerasi, kecepatan, dan performa keseluruhan, mobil listrik saat ini jelas unggul dibanding mobil bensin. Namun dominasi itu belum tercermin pada penjualan. 

Di Amerika Serikat, mobil listrik baru menyumbang kurang dari 10 persen penjualan kendaraan baru, sekitar setengah dari rata-rata global.

Kini, setelah sejumlah insentif berakhir dan produksi EV mulai ditekan, para analis menilai tantangan terbesar berikutnya tetap sama, menurunkan harga, memperbanyak infrastruktur pengisian daya, dan meningkatkan jarak tempuh agar EV semakin mudah diterima konsumen.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya