Cerita Kevin Rahardjo dan Rafki Hidayat Hadirkan Film Thriller Legenda Kelam Malin Kundang

Dua sutradara muda, Kevin Rahardjo dan Rafki Hidayat, menghidupkan kembali legenda Malin Kundang dengan pendekatan psikologis kuat dan proses syuting intens.

oleh Zikrah Nur AmalahDiterbitkan 20 November 2025, 18:00 WIB
Sutradara Legenda Kelam Malin Kundang Rafki Hidayat dan Kevin Rahardjo saat jumpa pers pada Rabu (1/10/2025). (dok. Poplicist)

Liputan6.com, Jakarta - Dua sutradara muda, Rafki Hidayat dan Kevin Rahardjo, mencuri perhatian setelah menggarap film thriller psikologis Legenda Kelam Malin Kundangsebuah interpretasi gelap dari cerita rakyat yang sudah melekat di masyarakat Indonesia.

Karya mereka bukan hanya menawarkan pendekatan visual yang berbeda, tetapi juga memperlihatkan keberanian kreatif yang jarang ditemui pada sineas muda. 

Di tengah proses produksi yang intens, keduanya mengaku mendapatkan ruang kreasi yang besar dari rumah produksi Come And See Pictures. Ruang itu yang justru membuat mereka bersemangat sekaligus merasa tertantang.

"Diberikan kebebasan, dua hal. Di satu sisi kita deg-degan juga, karena kita bekerja di Come and See Pictures yang menghasilkan film-film yang kita kagumi," kata Rafki, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (17/11/2025).

Sebelum Legenda Kelam Malin Kundang memasuki tahap produksi, Rafki dan Kevin melewati diskusi panjang selama hampir dua bulan. Mereka membedah ulang legenda tersebut, mencari celah psikologis karakter, serta menentukan arah thriller yang tetap menghormati akar cerita rakyatnya. Setelah arah film dipastikan, proses penulisan berlangsung lebih padat selama satu bulan.

Rafki menjelaskan, "Kita diskusi kayaknya dua bulanan dan penulisan nya sekitar satu bulan."


Penayangan Perdana dan Validasi dari Akademisi Psikologi

Press Screening dan Press Conference Film Legenda Kelam Malin Kundang, Jakarta, Senin (17/11/2025) (Zikrah Nur Amalah/Liputan6.com)

Penayangan perdana Legenda Kelam Malin Kundang menjadi momen yang tidak akan dilupakan Rafki. Sejak kecil, ia bermimpi melihat karyanya diputar di layar besar. Karya yang sejak awal ingin mereka buat sedekat mungkin dengan emosi manusia itu. Namun rasa deg-degan itu berubah menjadi tekanan tambahan ketika ia sadar penonton perdananya bukan orang biasa, melainkan para alumni psikologi hingga ketuanya.bagi Rafki Penilaian mereka tentu menjadi tolok ukur penting atas keberhasilan riset film ini.

"Penayangan pertama itu pasti deg deg an ini adalah mimpi kami sejak kecil,mereka menyampaikan bahwa potret dari sisi psikologi dalam karakter ini sesuai dengan bagaimana mereka pelajari, kami lega banget sih," ucap Rafki Hidayat

Validasi tersebut menjadi semacam napas lega bagi tim. Selama proses riset, mereka membawa kecemasan, soal gambaran psikologis yang disusun sudah tepat, atau masih meleset. Namun semua kerja keras itu terbayar berkat performa para aktor yang menghidupkan karakter dengan sangat meyakinkan.

Lanjut Baca:

Rafki menegaskan, "Meskipun film karya fiksi kita ingin menampilkan hal yang sebagaimana harusnya, apa pun upaya kami tidak akan bisa tercapai kalau mereka tidak performed jadi kami beruntung banget sih."

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya