Di Mata Pengamat Malaysia, Siapa Sosok yang Paling Layak Melatih Timnas Indonesia?

Pengamat Malaysia menilai kandidat pelatih Timnas Indonesia belum sepenuhnya cocok memimpin Garuda.

oleh Mochamad Rizal Ahba OhorellaDiterbitkan 18 November 2025, 13:32 WIB
Para pemain Timnas Indonesia berpose untuk foto bersama sebelum pertandingan babak keempat Grup B Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia antara Irak dan Indonesia di Stadion Alinma Bank, King Abdullah Sports City, Jeddah, Arab Saudi, Minggu (12-10-2025) dini hari WIB. (Foto AP/Ali Issa)

Liputan6.com, Jakarta Kursi pelatih Timnas Indonesia masih kosong setelah pemecatan Patrick Kluivert pada pertengahan Oktober 2025. Sejak saat itu, berbagai nama mulai dikaitkan sebagai calon pengganti untuk memimpin Tim Garuda. Publik pun ramai berspekulasi, terutama karena PSSI belum mengungkapkan lima kandidat yang disebut telah masuk daftar final.

Beberapa figur yang sering disebut antara lain pelatih yang pernah atau sedang berkarier di Indonesia, seperti Bojan Hodak, Paul Van Gastel, Bernardo Tavares, hingga Thomas Doll. Alasan yang mengemuka adalah karena mereka sudah mengenal atmosfer dan kultur sepak bola Indonesia. Namun, tidak semua pihak meyakini bahwa pengalaman tersebut cukup untuk memimpin Timnas di level internasional.

Salah satu yang menyoroti hal itu adalah pengamat sepak bola asal Malaysia, Raja Isa. Ia menyatakan bahwa para kandidat yang ramai dibicarakan belum tentu mampu membawa Timnas Indonesia melangkah lebih jauh di kancah Asia maupun global. Menurutnya, ada aspek fundamental yang lebih penting daripada sekadar memahami liga domestik.


Evaluasi Pengamat: Belum Ada yang Benar-Benar Tepat

Pelatih asal Malaysia, Raja Isa. (Bola.com/Abdi Satria)

Raja Isa menilai nama-nama yang diusulkan publik masih kurang mumpuni jika dilihat dari rekam jejak mereka di level tim nasional. "Saya amati jejak rekam pelatih itu belum pernah mencapai level Timnas antarnegara. Karena beda jauh menangani klub dan Timnas. Apalagi Timnas Indonesia sangat kompleks," ujarnya.

Menurutnya, pelatih Timnas harus menghadapi dinamika berbeda, mulai dari tekanan publik hingga ekspektasi yang sangat besar terhadap perkembangan prestasi pemain. Hal ini membuat tugas pelatih Garuda jauh lebih menantang dibanding sekadar mengelola klub.


Menimbang Kapadze dan Hallgrimsson

Pelatih Persekam Metro FC, Raja Isa, punya standar tinggi untuk timnya. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Belakangan ini muncul dua nama baru, yakni Timur Kapadze dan Heimir Hallgrimsson. Kapadze mencuri perhatian karena keberhasilannya membawa Uzbekistan tampil konsisten di Asia dan lolos ke Piala Dunia 2026.

Hallgrimsson lebih populer di ranah global berkat keberhasilannya mengantar Islandia menembus perempat final Euro 2016 dan tampil di Piala Dunia 2018.

"Menurut saya, Timur Kapadze dan Heimir Hallgrimsson lebih bagus dan menarik daripada empat pelatih yang berkarier di Indonesia," kata Raja Isa. Meski begitu, ia tetap mempertanyakan kemampuan keduanya untuk memahami kultur sepak bola Indonesia dan menyesuaikannya dengan gaya bermain para pemain.


Warisan dari Era Shin Tae-yong

Pelatih Timnas Indonesia U-23, Shin Tae-yong saat menghadapi Irak U-23 pada laga perebutan tempat ketiga Piala Asia U-23 2024 di Abdullah bin Khalifa Stadium, Doha, Qatar, Kamis (2/5/2024). (AFP/Karim Jaafar)

Raja Isa menilai Timnas Indonesia telah mengalami transformasi besar sejak era Shin Tae-yong. Karakter permainan, daya juang, serta keberanian para pemain disebut meningkat signifikan. "Timnas Indonesia butuh pelatih yang pernah merasakan persaingan di Piala Dunia. Itu jika target PSSI lolos ke Piala Dunia 2030," tekannya.

Menurutnya, karakter kuat yang sudah dibangun jangan sampai berubah. Pelatih baru harus melanjutkan pondasi ini agar perkembangan Tim Garuda tetap progresif.


Jika Memilih Kapadze atau Hallgrimsson

Timur Kapadze saat menjadi pelatih Timnas Uzbekistan. (AFP/Fadel Senna)

Jika PSSI memutuskan memilih Kapadze atau Hallgrimsson, proses panjang harus siap dijalani. Raja Isa menegaskan bahwa membangun tim nasional tidak bisa dikerjakan secara instan.

"Membangun sepak bola butuh proses panjang. Untuk Timnas Indonesia yang pertama dibentuk adalah karakternya lebih dulu," tuturnya.

Ia menyarankan PSSI dan publik untuk memberi waktu bagi pelatih baru agar mampu membawa Timnas Indonesia kembali stabil dan bersaing di level internasional.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya