Jumlah IPO Menurun Sejak 2023, BEI Ungkap Penyebabnya

Tercatat sebanyak 79 perusahaan melakukan IPO pada 2023. Sedangkan sampai November tahun ini, baru 24 perusahaan yang masuk ke pasar saham.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 18 November 2025, 11:25 WIB
BEI mengungkap bahwa jumlah perusahaan yang memenuhi syarat untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO) di tahun ini memang semakin sedikit. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan penjelasan mengenai alasan berkurangnya jumlah perusahaan yang melakukan pencatatan saham sejak 2023. Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menekankan penurunan ini tidak berkaitan dengan kebijakan bursa, melainkan karena jumlah perusahaan yang memenuhi syarat untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO) memang semakin sedikit.

"Kita kan sekarang ini terkena jumlah yang masuk kalau kita lihat memang itu (paling banyak) di tahun 2023, memang pertanyaannya adalah kita bukan bicara kami fokus ke lighthouse tetapi di samping jumlah yang tadi kita bicara target, kita juga melihat bahwa kita punya target internal," ujar Iman dalam acara Media Workshop, di Ubud Bali, Sabtu (15/11/2025).

Ia menjelaskan bahwa BEI tidak dapat mengarahkan atau memaksa perusahaan untuk melantai di bursa. Keputusan IPO bergantung sepenuhnya pada kesiapan perusahaan, proses penjaminan, dan evaluasi dari regulator.

Dari pemaparannya, pada 2023 tercatat 79 perusahaan melakukan IPO—angka tertinggi sepanjang sejarah BEI. Namun jumlah itu turun menjadi 41 pada 2024. Hingga 7 November 2025, baru 24 perusahaan yang masuk ke pasar saham, masih jauh dari target 45 IPO tahun ini.

"Kalau kita lihat bahwa hari ini target 45 baru 24 (tahun ini), nah itulah kondisi saat ini perusahaan-perusahaan yang eligible," tutur Iman.

Ia menambahkan bahwa BEI tidak hanya berfokus pada kuantitas emiten baru, tetapi juga mendorong hadirnya perusahaan besar sebagai “lighthouse” untuk memperkuat pasar.

"Jadi jangan salah paham yang kecil-kecil nggak usah, nggak kayak gitu, tetapi lighthouse-nya menjadi juga target tambahan di samping tadi terhadap jumlah," pungkas Iman.

BEI Proses 13 IPO Perusahaaan, Mayoritas Beraset Menengah

Pengendara mobil dan sepeda motor melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (10/10/2019). Sebanyak 205 saham melemah sehingga mendorong IHSG ke zona merah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya diwartakan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 13 perusahaan yang dalam proses untuk mencatatkan saham perdana di BEI hingga kini.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menuturkan, hingga 7 November 2025 tercatat 24 perusahaan yang mencatatkan saham di BEI. Total dana yang dihimpun mencapai Rp 15,21 triliun.

“Hingga saat ini, terdapat 13 perusahaan tercatat dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujar Nyoman ditulis Minggu, (9/11/2025).

Berikut adalah klasifikasi aset perusahaan yang kini berada dalam pipeline merujuk pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017:

  • 2 perusahaan aset skala kecil (aset di bawah Rp 50 miliar)
  • 6 perusahaan aset skala menengah (aset antara Rp 50 miliar-Rp 250 miliar)
  • 5 perusahaan aset skala besar (aset di atas Rp 250 miliar)

Berikut Rincian Sektor

Pengunjung melintas di papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/4/2020). Pergerakan IHSG berakhir turun tajam 1,71% atau 80,59 poin ke level 4.625,9 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)
  • 2 perusahaan dari sektor basic materials
  • 1 perusahaan dari sektor consumer siklikal
  • 1 perusahaan dari sektor consumer nonsiklikal
  • 0 perusahaan dari sektor energi
  • 4 perusahaan dari sektor keuangan
  • 0 perusahaan dari sektor perawatan kesehatan
  • 2 perusahaan dari sektor industri
  • 0 perusahaan dari sektor infrastruktur
  • 0 perusahaan dari sektor properti dan real estate
  • 2 perusahaan dari sektor teknologi
  • 1 perusahaan dari sektor transportasi dan logistik

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya