Swasta Bisa Impor Energi dari Amerika Serikat Tanpa Lelang

Pemerintah menawarkan opsi pembelian migas langsung atau impor mingas langsung kepada swasta dari Negeri Paman Sam agar AS melunak soal tarif resiprokal.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 17 November 2025, 20:00 WIB
Pendangkalan alur pelayaran di Pelabuhan Pulau Baai menjadi penyebab Kapal Tanker Pengiriman BBM gagal sandar di pelabuhan dan menghambat pasokan distribusi BBM di Bengkulu, sehingga Pertamina lakukan alih suplai dari berbagai Terminal BBM terdekat di luar Bengkulu melalui jalur darat.

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah membuka kesempatan kepada pihak swasta untuk ikut berpartisipasi melakukan impor energi dari Amerika Serikat (AS) tanpa proses lelang. Kebijakan ini jadi salah satu bagian dari kesepakatan tarif resiprokal dengan Washington DC.

"Jadi itu salah satu alternatif kita. Artinya dibuka juga kepada pihak lain yang rencana membeli energi dari Amerika," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di kantornya, Jakarta, Senin (17/11/2025).

Airlangga melanjutkan, Pemerintah menawarkan opsi pembelian migas langsung dari Negeri Paman Sam agar AS melunak soal tarif resiprokal. Jika sudah mencapai kesepakatan, itu nantinya akan tertuang dalam bentuk peraturan tersendiri.

"Jadi bagian daripada reciprocal tariff, kita masih dalam negosiasi. Apabila itu sampai kepada kesepakatan untuk ditindaklanjuti, ada turunan-turunan PP maupun Perpres," terang Airlangga.

"Salah satunya terkait dengan komersial pembelian migas dari Amerika, dimana itu penugasannya salah satunya ke Pertamina," dia menambahkan.

 

Impor USD 15 Miliar

PT Pertamina Trans Kontinental (PTK), anak usaha PT Pertamina International Shipping (PIS), turut ambil peran dalam mendukung ketahanan energi nasional dengan membantu kegiatan towing atau menarik kapal FSO Pertamina Abherka dari perairan Batam menuju lapangan Poleng, di lepas pantai Jawa Timur.

Sebelumnya, Indonesia dan Amerika Serikat menyepakati kerja sama impor energi senilai sekitar USD 15 miliar. Kerja sama tersebut mencakup pembelian atau impor minyak mentah (crude oil) dan gas petroleum cair (LPG).

Ini diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia seusai menemui Presiden Prabowo Subianto di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (28/7/2025).

"Kita kan sudah sepakati, bahwa kita akan belanja BBM crude dan LPG, yang harganya itu sekitar kurang lebih USD 15 miliar. Itu pasti kita akan lakukan dengan langkah-langkah memperhatikan nilai keekonomian," ujarnya.

 

Dongkrak Impor LPG

Nantinya, SPBU Terapung hanya melayani penjualan solar untuk nelayan dengan sistem kartu, sehingga penjualan BBM bisa dibatasi untuk nelayan atau pemilik kapal di bawah 25 Gross Tonnage (GT). (merdeka.com/Imam Buhori)

Menurut Bahlil, pihaknya tengah mempersiapkan perangkat untuk menyusun kesepakatan harga perdagangan yang kompetitif.

Bahlil mengatakan, impor LPG dari AS sejatinya sudah berjalan, namun Indonesia akan meningkatkan volumenya dalam waktu dekat sebagai tindak lanjut dari kesepakatan yang telah dicapai kedua negara.

"Kalau LPG sudah terjadi, sekarang volumenya kita tingkatkan. Itu yang sedang kita kerjakan sekarang," jelasnya.

Ketika ditanya lebih lanjut soal rincian volume impor BBM dan LPG, Bahlil menyebut datanya akan disampaikan kemudian.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya