Heboh Pertanyaan Trump ke Presiden Suriah: Punya Berapa Istri?

Lantas, bagaimana presiden Suriah merespons pertanyaan Trump?

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 14 November 2025, 07:01 WIB
Dalam foto yang dirilis oleh kantor kepresidenan Suriah, Presiden Donald Trump (kiri) bersalaman dengan Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa di Gedung Putih, Washington, Senin (10/11/2025). (Dok. Kantor Kepresidenan Suriah via AP)   

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat lelucon yang memicu perhatian terkait status pernikahan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa (43) dalam pertemuan mereka di Gedung Putih pada Senin (10/11/2025). Pertemuan ini sendiri menjadi momen bersejarah karena Sharaa merupakan pemimpin Suriah pertama yang mengunjungi Gedung Putih sejak negara itu merdeka pada tahun 1946.

Melansir Daily Mail, suasana menjadi canggung ketika Trump menyemprotkan parfum Trump Cologne -merek parfum milik Trump- seharga USD 249 atau sekitar Rp4 jutaan kepada Sharaa sebelum menanyakan jumlah istrinya.

Dalam rekaman video yang beredar, Trump mengatakan, "Ini wewangian pria," saat ia menyemprotkan parfum tersebut ke arah Sharaa, sementara pemimpin Suriah itu tersenyum gugup.

Trump melanjutkan, "Ini parfum terbaik," seraya menambahkan bahwa botol satunya lagi diperuntukkan bagi istri Sharaa.

Kemudian Trump bertanya, "Punya berapa istri? Satu?" dan Sharaa menjawab ya sambil tertawa. Trump lalu mengatakan, "Kalian sulit ditebak" sambil menepuk lengan pemimpin Timur Tengah itu.

Sharaa pun bertanya balik dan Trump menjawab, "Untuk saat ini satu."

Sharaa yang pernah bergabung dengan al-Qaeda sempat dikenai sanksi Amerika Serikat sebagai teroris. Lahir di Arab Saudi, ia bergabung dengan kelompok tersebut di Irak sebelum invasi Amerika Serikat tahun 2003. Ia ditangkap pasukan Amerika Serikat dan dipenjara selama lima tahun hingga 2011.

Sebagai penentang Presiden Suriah sebelumnya, Bashar al-Assad, Sharaa memimpin serangan selama 11 hari terhadap rezim tersebut pada November 2024 yang berujung pada runtuhnya pemerintahan. Assad melarikan diri ke Rusia, sementara Sharaa mengambil alih kekuasaan dan diangkat secara resmi pada 29 Januari.

Sejak saat itu, Sharaa melakukan perjalanan ke berbagai negara dan dinilai berusaha membangun citra sebagai pemimpin moderat yang ingin menyatukan negaranya yang hancur akibat perang dan mengakhiri isolasi internasional selama puluhan tahun. Ia menggambarkan istrinya, Latifa al-Droubi (41), sebagai sosok yang sangat mendukungnya selama satu dekade terakhir.

Pertemuan pertama Trump dan Sharaa terjadi di Arab Saudi pada Mei, di mana presiden Amerika Serikat tersebut mengumumkan mengakhiri sebagian besar sanksi ekonomi Amerika Serikat terhadap Suriah.

Sambutan Sederhana

Pada Senin, penyambutan di Gedung Putih berlangsung lebih sederhana dari biasanya. Sharaa—yang sebelumnya diburu Amerika Serikat dengan hadiah USD 10 juta—tiba tanpa kemeriahan yang umumnya diberikan kepada tamu negara. Ia memasuki gedung melalui pintu samping, sehingga para wartawan hanya sempat melihatnya sekilas, bukan melalui pintu utama West Wing yang biasanya digunakan untuk menyambut tamu-tamu VIP.

Saat memberikan keterangan kepada wartawan, Trump memuji Sharaa sebagai pemimpin yang tangguh dan menyampaikan keyakinannya terhadap pemimpin Suriah tersebut.

"Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk membuat Suriah berhasil," tutur Trump.

Dia juga menyinggung masa lalu Sharaa yang kontroversial dengan mengatakan, "Kita semua punya masa lalu yang berat."

Dalam pertemuannya dengan Trump, Sharaa disebut turut mendorong pencabutan permanen Undang-Undang Caesar, yang memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Suriah atas pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan rezim Assad. Untuk mencabutnya secara permanen, diperlukan persetujuan Kongres Amerika Serikat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya